Kamis, 26 Januari 2012

Berharap Tumbuhkan Kepekaan Siswa


Gambar dari: biologismp37.blogspot.com
Di sekolah, tempat saya mengajar, dilaksanakan uji coba ujian nasional (UN). Karenanya, siswa kelas IX masuk pagi, khusus menghadapi uji coba itu; sementara kelas VII dan VIII masuk agak siang, setelah usai pelaksanaan uji coba. Hari ini, Kamis (26/1), memasuki hari ketiga. Kebetulan tadi pagi saya mengawasi di ruang paling bontot, yang berada di salah satu ruang kelas VIII. Jadi, ruang itu bukan ruang kelas IX. Begitu memasuki ruang itu, saya kaget. Karena berada di ruang kelas yang kotor. Tampaknya tidak disapu. Buktinya, di beberapa bagian terlihat ada sekumpulan sampah, plastik dan kertas.

Akan tetapi, saya tidak sampai hati menyuruh siswa menyapu. Karena mereka harus mengisi identitas diri (peserta) di lembar jawab komputer (LJK), yang disediakan waktu terbatas. Mereka telah suntuk masing-masing dengan LJK di hadapan mereka. Tidak ada satu pun, selama beberapa menit itu, siswa yang tolah-toleh (Jw, menengok sana-sini). Hal itu menandakan bahwa mereka sangat membutuhkan waktu tersebut untuk meyelesaikan mengisi identitas, tidak mungkin mengerjakan sesuatu yang lain. Sebab kalau dipaksakan (sekalipun sedikit) menyela mengerjakan kegiatan yang lain, dapat dipastikan mereka tidak menyelesaikan penulisan identitas di LJK. Dan, itu berarti memungkinkan mereka “ketinggalan” andai saja bel tanda mengerjakan soal dibunyikan. Jelas, mereka mengalami kerugian, baik lahir maupun batin.
Sembari menanti siswa selesai (sesuai dengan waktu) menuliskan identitas diri pada LJK masing-masing, saya menyapu ruang kelas tersebut. Saya tidak mau mengganggu konsentrasi mereka. Saya memulainya dari belakang ke depan setiap larik meja kursi siswa. Sehingga sedikit mengusik keseriusan siswa yang kebetulan di kolong meja dan kursinya terdapat sampah. Benar-benar saya curahkan kesempatan itu untuk membersihkan lantai ruang kelas. Sampai-sampai ketika ada teman sejawat yang mengetahui saya menyapu, diperkatakan, kok tidak siswa saja yang menyapu.
Melakukan aktivitas itu mengingatkan saya saat-saat masa sekolah dulu. Ketika bapak/ibu guru melakukan sesuatu, entah menyapu, mengambil sampah, atau menghapus papan tulis, buru-buru siswa yang mengetahui menghampiri, lantas izin untuk menggantikan. Bahkan, tidak jarang ketika bapak/ibu guru membawa sesuatu, buku atau apalah, ke ruang kelas, siswa segera menolong membawakan. Hampir semua siswa kala itu memiliki kepekaan untuk hal tersebut. Sepertinya sudah membudaya di kalangan siswa. Tidak ada yang menyuruh, spontan saja tindakan positif itu dilakukan. Seingat saya, secara khusus, bapak/ibu guru tidak mengajari perilaku tersebut. Secara menradisi sikap tersebut turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melakukan tindakan itu seakan tumbuh rasa senang. Sehingga yang lebih dahulu melakukannya, seperti mendapatkan “keberuntungan” yang luar biasa. Dapat membantu bapak/ibu guru, senangnya bukan kepalang. Karenanya, tidak heran antarsiswa saling berebut. Sekalipun begitu, kami ketika itu tidak memiliki rasa agar bapak/ibu guru memberi imbalan. Kami melakukan itu secara tulus-ikhlas.
Kenyataan itu yang sekarang sulit dijumpai di kalangan siswa. Melihat guru sedang menyapu atau mengambil sampah atau aktivitas lainnya yang diketahui siswa, belum tentu ada siswa yang mau mengganti/membantu. Bisa-bisa mereka malah menghindar atau cukup lewat begitu saja sembari melirik. Karena itu, ketika saya menyapu di salah satu ruang kelas, apalagi, di seputar siswa yang sedang uji coba UN, sedikit pun tidak memiliki harapan diganti/ditolong siswa. Saya hanya hendak menunjukkan kepada mereka bahwa sekalipun saya guru yang tidak memiliki tugas untuk menyapu di ruang kelas itu, saya dapat melakukannya. Dan, itu tidak tabu, tidak memalukan, dan tidak membuat diri rendah terhina.
Perihal siswa-siswa saya mau melihat atau tidak, saya tidak mengetahuinya. Yang penting saya sudah melakukan perbuatan itu baik di seputar mereka. Siapa tahu diam-diam di antara mereka ada yang “memerhatikan”. Lantas, tersentuh benaknya, tumbuh kepekaan mau melakukan perbuatan-perbuatan positif tanpa disuruh atau meminta imbalan. Sekalipun barangkali hal itu serupa mengharapkan cendawan tumbuh di musim kemarau panjang. Apa salahnya berharap?

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Pengganti ping back …….. http://elsaelsi.wordpress.com/2012/01/27/menelusuri-perjalanan-award-ala-narablog/

    BalasHapus

""