Selasa, 03 Januari 2012

Berlatih Soal Tidak yang Utama


Gambar dari: taufik79.wordpress.com
Buku-buku yang berisi soal-soal kini mulai ditawarkan ke sekolah-sekolah. Buku-buku itu berasal dari berbagai penerbit dan penulis. Dibuat berdasarkan standar kompetensi lulusan (SKL), yang umumnya dikatakan sebagai SKL 2012. Tentu saja harapan kita, perkataan (penjelasan) itu memang benar sehingga soal-soal yang dibuat sebagai upaya memrediksi ujian nasional (UN) 2012 mendekati kebenaran.

Kebenaran yang dimaksud adalah soal-soal dalam prediksi itu memang memiliki kemiripan dengan soal-soal UN kelak. Sekalipun kita menyadari bahwa yang namanya memrediksi memang tidak mesti tepat sasaran. Namun, paling tidak, peserta didik memiliki “gambaran” bagaimana kira-kira kelak soal-soal di UN itu. Dari sisi bentuk seperti apa, dari sisi isi/muatan bagaimana, misalnya. Peserta didik sudah diperkenalkan dahulu walaupun tidak sepenuhnya tepat. Namanya saja prediksi, tentu tidak sama persis dengan soal-soal yang di-UN-kan. Kalau sama persis namanya bukan prediksi, tetapi bocoran soal.  

Kita menyadari bahwa (serta merta) berlatih mengerjakan soal-soal prediksi itu tidak sepenuhnya mendidik secara benar. Sebab, peserta didik hanya disodori soal-soal, tanpa dibangun sebuah situasi dan kondisi yang memungkinkan mereka dapat mengembangkan kreativitas. Menghadapi soal-soal, kurang memberi keleluasaan untuk mengembangkan kreativitasnya. Pikiran mereka hanya berputar-putar pada soal-soal yang dihadapi. Yang, dengan demikian bukan mustahil akhirnya mengandalkan cara menghapal saja.
Padahal, pembelajaran yang benar lebih menekankan pada pemahaman. Dengan memahami materi, peserta didik memiliki keleluasaan untuk memperluas dan memperdalam belajarnya. Memberikan tanggapan, argumen, mengritisi, menganalisis, mendiskusikan, bahkan jika dimungkinkan menyanggah secara ilmiah ilmu yang sedang dipelajari, karena bukankah ilmu selalu mengalami perubahan sesuai dengan konteks? Kenyataan demikian sepertinya sulit dijumpai manakala peserta didik sudah dihadapkan pada latihan-latihan soal.
  
Akan tetapi, itulah fakta yang ada. Ketika menjelang pelaksanaan UN, beberapa bulan sebelumnya, peserta didik sudah disodori soal-soal prediksi UN. Tentu tidaklah salah jika sebelumnya peserta didik memang sudah memahami materi. Seluruh materi yang ada dalam SKL telah dikuasai peserta didik melalui proses pembelajaran yang semestinya. Proses pembelajaran yang tidak mengutamakan menghapal materi, tetapi menganalisis, mengritisi, menanggapi, dan mendiskusikan materi. Yang, memberi pengetahuan kepada peserta didik secara mendasar.  Sehingga, ketika peserta didik menghadapi soal-soal UN, yang dapat dipastikan tidak sama dengan soal-soal dalam prediksi, tidak mengalami kebingungan.
Sekalipun soal-soalnya sulit, peserta didik tetap memiliki kemampuan menalar soal-soal yang dihadapi itu dengan baik, karena di samping telah (sering) berlatih soal-soal, juga memiliki modal pengetahuan yang mantap. Dengan demikian, tidak muncul kekhawatiran akan ketidakbisaan peserta didik mengerjakan soal-soal UN yang dihadapi.

2 komentar:

  1. Sependapat pak, jika siswa telah memahami materi pelajaran, soal bentuk apapun kemungkinan besar dia akan dapat menyelesaikan. Tetapi untuk sampai ke tingkat paham butuh proses yang setiap anak berbeda, ada yang cepat ada pula yang sangat lambat, jd itu mungkin salah satu alasan mengapa penawaran buku prediksi UN laris manis ditawarkan di sekolah.

    BalasHapus
  2. banyak rekan sejawat yang terjebak pada drill soal2, pak, sampai2 siswa pun mengalami kejenuhan tingkat tinggi.

    BalasHapus

""