Minggu, 22 Januari 2012

Heran, Tangan Saya Dicium Mantan Siswa


Gambar dari: angkringancekli.com
Saya, baru sekali itu. Sore kemarin (21/1) mengantar si sulung dan adiknya, juga bulik mereka, bersama ibunya ke sebuah tempat makan, yang terkesan merakyat. Karena jenis makanannya, dari sisi harga sangat terjangkau oleh kalangan bawah. Makanan utama yang tersedia adalah nasi kucing. Nasi yang dibungkus daun pisang, ukurannya kecil-kecil (lebih kurang) segenggaman tangan orang dewasa. Ada beragam jenis nasi kucing. Nasi kucing bakar, goreng, sambel teri, dan sebagainya. Kita tinggal mengambil sendiri. Model prasmanan.

Demikian juga jenis lauknya, kita mengambil sendiri sesukanya. Mau mengambil apa saja jenis lauk yang tersedia, bebas. Ditumpuk dalam satu piring anyaman rotan beralas daun pisang bersama nasi kucingnya. Ada pelayan yang menawarkan jenis minum, mau teh, jeruk, jahe, dan lainnya, siap sedia. Untuk yang satu ini, kita tidak dapat membawa sendiri. Nanti, begitu kita sudah menempati meja/tempat, jenis minuman itu diantar pelayan. Tetapi jenis minuman itu sudah didata di kasir menyatu dengan jenis makanan yang kita ambil.
Kami menempati meja yang agak jauh ke dalam, hampir sampai tepi dinding belakang. Di sebelah kami tinggal satu  deret meja-kursi, yang sudah ditempati oleh beberapa anak muda. Mepet dengan dinding belakang. Mereka sibuk dengan laptop masing-masing, yang sepertinya sedang berselancar di dunia maya. Warung makan angkringan itu memang dilengkapi dengan hotspot. Barangkali itulah yang menyebabkan banyak kaum muda datang ke situ. Ketika mata saya melayang ke berbagai bagian tempat, nyaris tidak saya jumpai sosok seusia saya. Mereka muda-muda usia, anak-anak sekolah atau kuliah, rupanya.
 Suasana tata lampu yang tidak begitu terang alias remang-remang sepertinya menjadikan tempat itu memiliki daya tarik bagi kaum muda. Sebab terkesan antik. Ditambah kontruksi bangunanya memang (terkesan) kuno dan bahannya terbuat dari jenis bambu. Menarik dan sangat alami. Memang tidak semua kaum teruna yang datang, membawa laptop. Tetapi, di beberapa bagian meja dan tempat lesehan, terlihat sekelompok-sekelompok bergelut dengan laptop. Berbicara-bicara, seperti layaknya orang sedang berdiskusi. Termasuk beberapa cewek (seusia anak SMA) yang berada persis di sebelah kami, dan saya berposisi duduk membelakangi mereka. Sempat sedikit melirik, mereka terlihat membuka facebook.

Begitu saja. Seterusnya saya tidak memerhatikan mereka. Barangkali mereka sibuk dengan facebook. Saya bercengkerama dengan, terutama si bungsu, karena ternyata menghabiskan sebungkus nasi kucing tanpa lauk. Kebiasaan tanpa lauk saat makan memang sering dilakukan si bungsu. Cukup nasi begitu saja. Perihal lauk, terutama sayur, sering hanya digado (Jw, dimakan sendirian). Soal sayur si bungsu jagonya; berbeda dengan si sulung, yang lebih sering menolak sayur. Mungkin itulah yang menjadikan si sulung terlihat agak ceking dan “kering”, tetapi si bungsu gendut dan “basah”.  

Begitu selesai bercengkerama dengan si bungsu, saya mencuci tangan di wastafel yang letaknya di sebelah meja beberapa cewek tadi. Saya harus melewati meja mereka saat hendak membersihkan tangan. Begitu selesai membersihkan tangan, hendak kembali ke tempat semula, tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang berdiri, dan menyapa saya, lantas menjabat tangan saya dan menciumnya. Saya tidak kaget karena ketika saya tatap wajahnya, ia adalah mantan siswa saya. Hanya yang mengherankan saya, seingat saya, ketika masih di SMP, anak itu tidak pernah mencium tangan saya (saat berjabat tangan). Paling-paling jika bertemu, ya tersenyum dan menyampaikan salam serta berjabat tangan.

Namun saat sudah tidak menjadi anak didik saya, malah bersikap berbeda. Terasa begitu tulus ketika mencium tangan saya. Terasa ada sikap hormat, yang tidak dibuat-buat. Saya lantas berpikir, mengapa hal itu tidak terjadi semasa ia masih SMP, masih menjadi siswa saya. Munculnya kok malah ketika ia sudah SMA, yang tentu saja tidak pernah berjumpa dengan saya sehari-harinya karena memang bukan siswa saya (lagi). Apakah karena ketika ia SMP, ada perasaan takut, malu, dan belum memiliki penghayatan sikap secara benar? Atau, mungkinkah karena tidak pernah berjumpa itu memunculkan rasa hormat yang memiliki “nilai” (agak) lebih jika dibandingkan dengan sering berjumpa? Entahlah.

Yang pasti, saya melihat ada sesuatu yang baik. Nilai sebuah pendidikan kesantunan dan hormat telah tumbuh di mantan siswa saya itu. Di sebuah warung angkringan, yang remang-remang sekalipun, ternyata praktik pendidikan kesantunan, nilai penghargaan, dan sikap kemanusiaan masih bisa berlangsung. Warung angkringan seakan menjadi semacam ruang-ruang baru yang dapat digunakan untuk belajar bersama, berdiskusi, menggali potensi, bersosialisasi, secara menggembirakan karena bisa sambil makan-makan. Apalagi disediakan hotspot, yang memungkinkan konsumen, yang relatif muda-muda, itu dapat menemukan informasi-informasi dan motivasi baru untuk mengembangkan potensi diri.  

4 komentar:

  1. kemungkinan anak ini memanfaatkan layanan internet untuk hal hal positif pak

    BalasHapus
  2. sukurnya cium tangan setelah cuci tangan ya, pak. hehehe. tiap guru memang biasa berkesan di murid2nya. salam kenal, pak. ditunggu kunjungan dan komentar baliknya

    BalasHapus
  3. Untungnya yang dicium cuma tangan pak :D

    BalasHapus
  4. kerenn, yg mau map raport, map izajah, map agenda, buku , bikin website dll, yuk berlangganan ke kita :D

    BalasHapus

""