Jumat, 06 Januari 2012

Jalan pun Membangun Karakter


Gambar dari: rumah-jogja.com
Sudah relatif lama, jalan di depan sekolah, tempat saya mengajar, rusak. Aspal-aspalnya sudah banyak yang mengelupas. Mengelupasnya boleh jadi karena memang umurnya telah lama. Apa pun jika sudah berumur lama akan mudah rapuh. Karena kekuatannya semakin berkurang. Menanggung beban selama waktu berjalan membuat keberadaan sesuatu itu tidak kuat lagi. Kondisi jalan tidak jauh berbeda dengan makhluk hidup. Manusia, misalnya, semakin lama semakin terlihat kelemahannya. Begitu pun jalan.

Apalagi jika jalan itu sering dilewati. Dan, lebih-lebih yang melewati kendaraan berbeban berat, melebihi target. Kekuatan jalan bukankah telah terukur? Jika jalan tertentu dilewati alat transportasi yang bebannya melebihi kekuatan jalan itu, dapat dipastikan jalan tertentu itu tidak berumur lama. Sekalipun direncanakan sepuluh tahun jalan itu baru mengalami kerusakan, misalnya, tetapi jika muatannya melebihi aturan, (baru saja) lima tahun boleh jadi sudah berantakan.

Belum lagi karena faktor cuaca. Terbakar panas mentari, tergerus air hujan, memudahkan jalan cepat rusak. Lebih-lebih jalan beraspal, yang banyak orang mengatakan “musuhnya” air. Begitu tergenangi air oleh karena (kebetulan) jalan dalam posisi lebih rendah daripada trotoar, dapatlah ditebak kerusakan jalan itu tak dapat dihindari. Sudah tergenangi air, ditambah (lagi) dilewati kendaraan melebihi beban, barangkali tidak dalam hitungan bulan atau minggu, jalan itu sudah kehilangan “muka” alias rusak berat.

Kerusakan jalan, disadari atau tidak, berpengaruh pada kondisi psikologi pengguna jalan. Hanya, dalam situasi tidak ramai, yang biasanya terjadi saat-saat jam sekolah dan kantor sudah masuk, tidak terjadi “ketegangan” di jalan. Orang-orang, pengguna jalan, yang melewatinya tidak terlalu berisiko. Sekalipun badan jalan telah banyak berlubang (karena aspal mengelupas), orang-orang masih dapat melewatinya dengan agak nyaman karena masih ada kesempatan untuk memilih bagian jalan yang masih baik, menghindari yang kurang baik.

Akan tetapi, jika dalam situasi banyak pengguna, yang umumnya terjadi di saat-saat pergi dan pulang kerja atau sekolah, bukan mustahil menimbulkan “ketegangan” di sepanjang jalan yang rusak tersebut. Hal itu terjadi karena kamacetan tidak dapat terelakkan. Dalam kondisi macet inilah biasanya orang-orang mulai kurang arif mengendalikan emosi. Orang-orang akhirnya serobot sana, serobot sini, yang penting dapat berjalan dan tidak terlambat tiba di tempat tujuan. Yang, akibatnya (kemudian) kurang memedulikan keadaan orang lain. Yang penting diri (sendiri) selamat, entah orang lain. Kalau faktanya begitu salahkah (jika) dikatakan jalan yang rusak  dapat mencederai pertumbuhan sikap, mental, dan karakter penggunanya.

Itulah sebabnya, sungguh menggembirakan kalau, kini, jalan yang setiap pagi dan siang saya lewati itu telah diperbaiki. Tidak hanya diaspal dengan aspal yang tampaknya berkualitas baik, tetapi juga diperlebar. Jadi, akhirnya terlihat halus dan lebar. Jalan yang demikian akan membuat pengguna merasakan nyaman, tenang, tentram, dan merdeka. Kenyataan itu dapat dilihat dari raut wajah, sikap, dan perkataan pengguna jalan. Tidak ada yang wajahnya terlihat marah, benci, dan kecewa. Demikian juga, sikap pengguna jalan tampak sangat familiar, sopan, dan tidak berkehendak serobot sana serobot sini. Semua pengguna jalan mengalir begitu saja, tanpa hambatan.

Beruntung jalan itu berada di dekat permukiman. Karena letaknya itu, tidak mungkin ada anak-anak (remaja/pemuda) menggunakan jalan itu sebagai tempat balap motor, misalnya. Sebab, seringnya, jalan baru yang halus dan lebar digunakan aktivitas “motor-motoran” oleh remaja dan pemuda jika beradanya jauh di luar permukiman. Jalan seperti yang berada di depan sekolah, tempat saya mengajar, sekalipun halus dan lebar, tidak mungkin digunakan untuk “bermain-main”. Hampir di setiap waktu, dalam hitungan menit, kendaraaan selalu ada. Mengalir terus, tidak ada henti-hentinya. “Keramaian” tersebut tidak memberi kesempatan  sedikit pun bagi penyuka “trek-trekan”, yang sering menimbulkan ketegangan, kekacauan, dan kesalahpahaman.

Justru, sejak jalan tersebut baik (halus dan lebar), para penggunanya tidak ada yang serobot-serobotan seperti ketika masih rusak. Orang-orang dapat menikmati “perjalanan” mereka dengan sangat nyaman, tenang, dan senang. Sikap-sikap positif dalam berkendara dapat terwujud.

2 komentar:

  1. menarik postnya
    sennag membaca ini
    salam hangat dari blue

    BalasHapus
  2. jalan menuju ke sekolah saya lebih parah, pak. model rehabilitasinya hanya tambal sulam. selain perbaikan tdk merata, perbaikan jalan hanya bisa dinikmati sekitar 3 bulan saja. repot.

    BalasHapus

""