Rabu, 25 Januari 2012

Siswa yang Menginspirasi


Gambar dari: khansa24434.multiply.com
Setiap hari masuk sekolah, guru dapat berjumpa dengan siswa. Jumlahnya banyak. Masuk dalam ruang kelas saat mengajar saja barangkali dapat dijumpai sekian puluh siswa. Sekalipun memang ada sekolah-sekolah yang jumlah siswanya dalam satu kelas tidak banyak. Sekolah-sekolah swasta yang kurang diminati masyarakat, umumnya jumlah siswanya tidak banyak. Tetapi meski begitu, sepertinya tidak ada guru yang ketika mengajar hanya menghadapi satu-dua siswa. Itu artinya, guru masih berhadapan dengan sekian jumlah siswa.

Sekian jumlah siswa itu menjadi bagian hidup guru di sekolah, yang memungkinkan guru mendapat beragam pengalaman dari siswa. Sesuatu yang wajar sebab siswa yang bergumul dengan guru setiap harinya berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari keluarga berada atau sebaliknya. Ada yang berasal dari keluarga demokratis atau sebaliknya. Ada yang berasal dari keluarga berpendidikan atau sebaliknya. Ada yang berasal dari keluarga yang hidup di perkampungan kumuh atau sebaliknya. Ada yang berasal dari keluarga agamis atau sebaliknya. Dan, masih banyak lagi asal-muasalnya.

Karena berasal dari latar belakang yang berbeda memungkinkan adanya pribadi siswa yang berbeda. Ada siswa yang secara alami telah bersikap disiplin atau sebaliknya. Ada siswa yang berpeduli kepada sesama atau sebaliknya. Ada siswa yang suka usil/mengganggu atau sebaliknya. Ada siswa yang suka mencari perhatian atau sebaliknya. Ada siswa yang sering lupaan atau sebaliknya. Ada siswa yang masa bodoh atau sebaliknya. Dan, barangkali masih ada yang memiliki pribadi yang lain.
Yang paling menyenangkan ketika saya, sebagai guru, menjumpai siswa yang disiplin. Dari disiplin berpakaian sampai mengerjakan tugas-tugas. Sekalipun ada juga siswa yang disiplin, tetapi kurang “kaya intelektual”, tetap saja menyenangkan saya. Sebab siswa yang demikian selalu berupaya maksimal dan umumnya selalu “berusaha” secara  jujur. Jujur dalam pengertian berusaha sendiri, tanpa menjadi plagiator, atau meniru hasil orang lain. Itu sebabnya nilainya bisa saja kurang baik, bahkan tidak bagus, tetapi oleh karena usaha sendiri perlu diapresiasi secara positif. Saya merasa bangga.

Sama bangganya dengan siswa yang selalu proaktif saat guru memberi pelajaran. Di samping memerhatikan saat guru menjelaskan, juga mau bertanya manakala ia belum mengetahui bagian yang dijelaskan. Hal itu menandakan bahwa siswa tersebut memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab sebagai pelajar. Merasa ingin mengetahui/menguasai, ia memanfaatkan waktu sebagaimana mestinya. Tidak perlu disuruh oleh guru atau oleh siapa pun, ia berkemauan melakukan perbuatan positif sebagai siswa. Siswa yang demikian umumnya berprestasi.  
Saya pun memuji terhadap siswa berprestasi yang mau berbagi. Kepandaian yang dimiliki tidak dimanfaatkan untuk dirinya sendiri. Ia mau menjadi “guru” bagi sesama siswa, terutama, yang kurang “kaya intelektual”. Memiliki kepedulian intelektual semacam ini sangat memungkinkan siswa lain terbantu. Sebab, sering anak-anak justru lebih cepat mengerti jika teman sendiri yang menjelaskan ketimbang gurunya. Barangkali karena hubungan antarsiswa/antarteman lebih “terbuka”, tidak malu-malu, dan tidak takut. Inilah kelebihan tutor sebaya itu. Yang, memungkinkan terbangunnya sebuah masyarakat belajar secara optimal.
Terhadap siswa yang “pas-pasan”, tetapi memiliki kemauan untuk berkembang, saya lebih salut. Siswa yang demikian senantiasa melakukan aktivitas belajar secara sungguh-sungguh. Tugas/pekerjaan yang diberikan oleh guru hampir pasti dikerjakan semua. Karenanya bukan mustahil meminta bantuan orang lain jika ada bagian tugas/pekerjaan yang ia tidak bisa. Meminta bantuan bukan berarti orang lain yang mengerjakan. Ia sendiri yang mengerjakan setelah diberi tahu/dijelaskan caranya. Siswa ini termasuk siswa yang aktif. Mengetahui dirinya memiliki kekurangan, mau bertanya kepada siapa pun yang bisa. Kekurangan yang dimiliki tidak dipandang sebagai penghambat untuk maju. Tidak oleh karena memiliki kekurangan, ia lantas berhenti berusaha, pasrah, bahkan putus asa. Sikap optimis menatap ke depan sepertinya menjadi prinsip utama.
Siswa yang berpribadi lucu tidak dapat dilupakan sebagian guru. Tentu juga teman-temannya. Saya sering terkesan oleh kelucuan siswa di kelas. Suasana kelas yang di suatu saat “tegang”, dapat segera menjadi “cair” sering disebabkan oleh sikap salah seorang siswa yang berpribadi lucu. Memungkinkan keadaan kelas berubah menjadi segar lagi. Suasana yang (tentunya) selalu didambakan oleh warga kelas. Karena “kesegaran” kelas dapat memengaruhi proses pembelajaran lebih kondusif. Siswa dan guru lebih bisa menikmati pembelajaran yang sesungguhnya. Yakni, ada interaksi multiarah yang menghidupkan ruang belajar.   
Itulah di antaranya (karena barangkali masih ada yang lain) siswa yang memberi inspirasi positif. Merangsang sesama (siswa) tertarik untuk maju. Menggali potensi-potensi, yang mungkin selama ini, masih terpendam oleh karena faktor dari dalam dan luar diri. Agar potensi-potensi itu dapat berkembang, memberi nilai yang bermakna di keberlangsungan hidup. Juga merangsang guru berusaha untuk menemukan “sesuatu” yang lebih kreatif bagi jalannya aktivitas pembelajaran bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""