Selasa, 24 Januari 2012

Tertib Menyapu, Tumbuhkan Sikap Peduli Siswa


Gambar dari: yolaadeline25.wordpress.com
Seharusnya saya malu. Karena sehabis saya mengajar di sebuah kelas, guru yang setelah saya harus mengajar, tidak langsung menunaikan tugas mengajarnya di kelas tersebut. Ketika saya masih membaca koran di pajangan tentang Apriyani, penyetir Xenia maut yang merenggut sembilan nyawa sekaligus, dekat kelas tersebut, teman sejawat saya itu mendekati saya. Mengatakan bahwa anak-anak disuruh menyapu terlebih dahulu ruang kelasnya yang kotor. Walah, walah, anak-anak memang kurang memiliki kepedulian terhadap kelasnya yang kotor, seperti halnya saya. Mestinya saya harus malu. Kenapa saya tidak memedulikan keadaan kelas yang kotor. Saya membiarkan saja keadaan itu. Padahal kalau saya mau menyuruh anak-anak untuk membersihkannya, tidak menjadi persoalan. Saya memiliki wewenang untuk meminta tolong siswa. Karena, bukankah mereka sudah memiliki jadwal piket kebersihan kelas, atau bukankah mereka memiliki tanggung jawab bersama terhadap kebersihan “tempat tinggal” mereka?
Saya kurang teliti terhadap kondisi tersebut. Terkesan mencuekin saja. Sementara teman sejawat yang masuk kemudian setelah saya, memiliki atensi tinggi. Tentu saja bukan oleh karena teman saya wanita sehingga lebih “peka”, sedangkan saya laki-laki sehingga kurang “peka”. Tentu juga bukan oleh karena teman saya itu hampir pensiun, sementara saya baru saja menjadi pegawai. Atau, tentu bukan pula karena teman saya itu guru bimbingan karier (BK), sementara saya tidak. Kriteria-kriteria itu tentu saja tidak dapat menjadi ukuran seseorang itu berpeduli apa tidak.
Perihal kepedulian (terhadap kebersihan lingkungan, misalnya), tidak harus seseorang itu berjenis kelamin wanita atau sudah hampir pensiun atau guru BK. Siapa saja dapat. Saya mestinya bisa melakukannya. Kenapa tidak? Itulah kekurangan saya. Padahal, jika kecermatan demikian saya lakukan di setiap kelas yang saya masuki apabila kelas itu kurang bersih, sudah mendidik karakter anak. Membangun sikap positif anak. Menegakkan sikap peduli anak terhadap lingkungannya.

Sekalipun hal itu sepertinya kecil, sederhana, dan kurang berarti, sejatinya sangat berarti bagi pendidikan karakter anak-anak. Memulai dari yang kecil-kecil itulah yang seharusnya kita tanamkan pada diri anak. Bagaimana mungkin melakukan hal yang besar kalau menangani yang kecil-kecil saja tidak bisa. Inilah yang seharusnya saya (dan guru-guru lain) perhatikan. Bukan soal menyapunya itu, tetapi perihal mendidik anak itulah yang terpenting, maksudnya mendidik anak melalui hal-hal yang sepertinya sepele itu.
Ya membiasakan diri, sebagai guru, ketika memasuki kelas melihat kondisi kelas bersih apa tidak (sepertinya) penting untuk selalu dilakukan. Hanya melihat. Jika benar-benar kondisinya kurang bersih, meminta anak-anak untuk beberapa menit membersihkan ruang belajarnya, justru menjadi bagian dari membangun kepedulian mereka terhadap lingkungannya bukan? Yang berarti pula menciptakan “rasa memiliki” terhadap apa yang ditempati dan apa yang dipakai. Itu upaya yang baik. Baik bagi kehidupan anak-anak ke depan. Dengan menghayati “rasa memiliki”, membawa anak pada pola hidup senang menjaga, merawat, berhati-hati, dan melindungi. Apa yang ditempati dan dimiliki tetap dalam pemeliharaan, yang boleh jadi ada rasa nyaman, tentram, dan sejahtera.
Agaknya impian itu tidak akan menjadi nyata kalau hanya dilakukan oleh beberapa guru. Tidak banyak manfaatnya. Karena anak-anak tidak terkondisinya tertib. Tertib ketika ada guru ini, tidak tertib ketika ada guru itu. Apa gunanya jika demikian keadaannya. Anak-anak tidak memiliki pedoman yang jelas. Karenanya, dibutuhkan semua guru ambil peran yang sama. Saya kalau tidak mengikuti kebiasaan teman sejawat yang peduli, itu justru akan menjadikan anak tidak memiliki panutan. Bahkan bukan tidak mungkin akhirnya anak-anak akan memiliki sikap yang semu, pura-pura, dan tertib yang kaku. Maksudnya, mau tertib jika ada "tekanan". Dan, itu jelas bukan pola pendidikan yang bermakna.
Mungkin saja “tekanan” itu penting untuk di tahap-tahap awal. Karena bukan mustahil tertib dapat dialami oleh banyak orang bermula dari “tekanan”/“paksaan”. Tetapi tertib, termasuk bagi siswa, akan menjadi kebiasaan jika semua guru ambil peran yang sama. Sekalipun demikian, dibutuhkan konsistensi yang berkelanjutan. Sebab, sekalipun semua guru sudah ambil peran sama, tetapi jika hal itu dilaksanakan secara berubah-ubah, maksudnya di suatu ketika tertib, tetapi di lain waktu tidak tertib, tidak akan membawa manfaat sama sekali.
Itulah sebabnya, sekalipun hanya menyapu, menjaga kebersihan kelas, sangat penting untuk selalu dilakukan. Jika dijumpai kelas kurang bersih, lantas siswa disuruh menyapu terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai dan itu senantiasa dilakukan setiap waktu oleh semua guru, dipastikan anak-anak akhirnya “terbiasa” menjaga dan merawat kelasnya. Mereka menjadi anak-anak yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dan, bukan mustahil “kebiasaan” itu akan terbawa sampai di luar sekolah. Saat mereka di rumah, di luar kota kelak ketika kuliah, dan di masyarakat, boleh jadi sikap serupa itu tetap dimiliki. Merenungkan itu, akhirnya saya mengatakan di hadapan teman sejawat saya bahwa saya wajib meneladaninya setiap memasuki ruang kelas ketika hendak mengajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""