Senin, 20 Februari 2012

Dampak Batalnya Kegiatan


Gambar dari: antarafoto.com
Tadi pagi, Senin (20/2), sebelum apel pagi, saya ditemui salah satu teman guru. Teman saya guru, yang satu ini, hampir setiap sore berada di sekolah. Mendampingi anak-anak basket. Karena ia memang pembina basket di sekolah kami. Sebetulnya, kegiatan ekstra apa pun yang ada di sekolah kami, hanya diadakan satu kali dalam seminggu. Tetapi, untuk kegiatan basket sepertinya waktu satu hari itu tidak mencukupi kebutuhan anak-anak. Jadinya mereka hampir setiap hari (sore hari) ada di sekolah, termasuk Sabtu sore.

Sabtu sore yang biasanya digunakan kegiatan atau persiapan kegiatan keluarga, ternyata oleh anak-anak yang tergabung ekstra basket, tetap dimanfaatkan datang ke sekolah berbasket ria. Ketika anak-anak sedang basket, dikatakan oleh satu teman saya guru itu, ada sekelompok anak (ya siswa didik kami) mengendarai motor dengan mengegas-ngegas keras sehingga menimbulkan suara riuh memasuki halaman sekolah. Seperti sedang pawai saja, katanya. Bahkan, dijumpai ada juga yang merokok. Melihat peristiwa itu, teman saya langsung memberi tindakan tegas dan keras terutama kepada anak yang mengendarai motor sembari merokok tersebut. Sekalipun sudah dinasihati, ketika keluar lingkungan sekolah mengendarai motor tetap segaya ketika memasuki halaman sekolah. Dibleyer-bleyer keras, sekali lagi, seperti orang pawai di jalanan umum.

Menerima cerita begitu, setelah mengikuti apel pagi dan berembug dengan beberapa guru yang tergabung dalam pembina OSIS, kami langsung memanggil salah satu anak yang tergabung dalam peritiwa itu. kami menyuruh menuliskan nama dan kelas teman-temannya yang tergabung dalam peristiwa tersebut di secarik kertas. Ada enambelas anak. Kami lantas memanggili mereka. Semua laki-laki. Asalnya, dari beberapa kelas. Setelah berkumpul dan mengecek jumlahnya dan namanya, mereka kami tanyai satu persatu. Mulai dari yang mengendarai motor berknalpot kurang wajar, yang sambil merokok dan tidak, sampai yang merokok ketika masih di luar dan di lingkungan sekolah. Semua sepertinya mengakui dengan baik. Dan setelah kami cek ulang satu persatu kepada siswa didik, ada tiga anak yang memberi pembelaan dengan alasan yang masuk akal sehingga mereka bertiga kami izinkan masuk ruang kelas mereka, mengikuti proses pembelajaran.

Anak-anak lainnya kami ajak komunikasi secara persuasif. Mereka mengatakan tujuan mereka ke sekolah karena ada acara potret bersama per kelas, yang didampingi pembina. Akan tetapi, acara potret tidak jadi alias batal. Hanya, setelah mereka mengetahui kalau acara tersebut batal, mereka tidak langsung pulang. Mereka justru kumpul-kumpul di suatu tempat, di luar lingkungan sekolah. Saat-saat kumpul itulah mereka langsung melakukan penyimpangan perilaku anak sekolah, yakni merokok bersama, sekalipun kami menerima pengakuan beberapa anak tidak merokok.

Mereka yang merokok, ternyata ada yang “peka” sebab ketika memasuki lingkungan sekolah, rokok mereka buang. Tetapi ada juga yang cuek sebab ketika mengendarai motor sudah memasuki lingkungan sekolah, ududnya tetap dilakukan. Inilah faktanya, ada anak-anak yang sekalipun mau melakukan hal tersebut tetapi tidak di semua tempat ia melakukan; sebaliknya ada anak-anak yang sengaja melakukan itu di mana saja berada, tidak melihat ia sedang berada di mana.

Dalam konteks ini barangkali kita sepakat bahwa batalnya kegiatan pemotretan memberi peluang anak-anak berkumpul dan melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan. Ketika berkumpul tidak ada orientasi tertentu yang dikondisikan orang tua/guru/pembina, ada kecenderungan anak-anak mengadakan aktivitas sendiri. Memang ada anak-anak yang dapat membangun aktivitas sendiri yang positif karena kebetulan mereka memiliki kesamaan sikap positif. Akan tetapi, tidak sedikit anak-anak yang memanfaatkan kesempatan itu untuk beraktivitas negatif oleh karena tidak ada kontrol.

Kegiatan bersama yang telah dirancang, tetapi gagal terlaksana memang dapat berdampak buruk bagi anak-anak yang suka berperilaku menyimpang. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak baik. Karena mumpung dapat bertemu sesama di luar kontrol, mereka manfaatkan untuk sesuka mereka. Bahkan dapat saja digunakan sebagai ajang gaya-gayaan.  Mereka saling menunjukkan “kehebatan” yang dimiliki. Masing-masing memiliki keinginan tampil “wah” di antara mereka. Kondisi inilah yang mengakibatkan anak-anak semakin tidak sadar sekalipun yang dilakukan sebetulnya tidak terpuji.

Karena itu memang kegiatan yang sudah disepakati bersama-sama harus dapat dilaksanakan. Hal ini akan menghindarkan dari aktivitas-aktivitas anak kurang baik. Dengan melaksanakan kegiatan yang telah dirancang bersama dan ada dalam kontrol guru/pembina, pikiran anak akan terfokus pada kegaitan tersebut. Sangat tertutup kemungkinan melakukan kegiatan tak terkontrol. Hal ini tentu membutuhkan tanggung jawab, lebih-lebih guru/pembina yang memang dapat berfungsi sebagai pengontrol.

Kalau kegiatan tidak jadi dilaksanakan, anak-anak memang harus disuruh pulang. Tidak diizinkan untuk sekalipun (hanya) sebentar kumpul-kumpul di sekolah atau di tempat lain, misalnya. Begitu diberi izin, sudah pasti anak-anak yang mempunyai kebiasaan kurang terpuji, melakukan aktivitas yang mereka sukai.  Bisa jadi aktivitas itu dilakukan di lingkungan sekolah, tapi boleh jadi juga di luar sekolah. Bukankah orang tua juga tidak mengetahui jika anaknya melakukan hal begitu karena izinnya pergi berkegiatan di sekolah dengan bimbingan guru/pembina? Oleh karena itu, ketika mereka disuruh pulang karena kegiatan batal dilakukan, guru/pembina harus bersabar menanti mereka pulang semua. Rasanya kurang baik jika siswa binanya belum semua pulang, guru/pembina sudah pulang terlebih dahulu.

3 komentar:

  1. Amazing artikel…. Semoga saya bisa praktekan tipsnya dan berhasil

    BalasHapus
  2. Itulah pak, saya sering katakan juga kepada diri saya sendiri, bahwa masa muda mereka harus terisi dengan kegiatan.. kalau tidak maka kecenderungan untuk berbuat negatif akan besar

    BalasHapus

""