Minggu, 19 Februari 2012

Memenuhi Janji


Gambar dari: bhanua.multiply.com
Kemarin lusa (Jumat, 17/2) sore saya memenuhi janji kepada si sulung. Janji hendak mengantarnya membeli alat-alat tulis ke toko buku terdekat. Keinginannya membeli barang-barang tersebut sejatinya sudah disampaikan beberapa waktu lalu. Karena saya ada banyak kegiatan, saya sering hanya berjanji kepadanya. Di samping itu, ketika pas hendak mengantarnya, tiba-tiba hujan.  Itu terjadi beberapa kali. Sehingga, rencana yang sudah matang selalu gagal terlaksana karena peristiwa alam, yang manusia, termasuk saya, tak kuasa mengendalikannya.

Itulah sebabnya, si sulung selalu saja mengingatkan saya untuk mengantarnya. Mengingatkan terlalu sering padahal (sebetulnya) yang diingatkan tidak lupa, menjadikan perasaan kurang nyaman. Maksudnya, orang yang diingatkan kurang nyaman. Saya merasa kurang nyaman setiap kali si sulung mengingatkan. Saya tidak lupa. Sehingga tidak perlu diingatkan. Tapi, setelah saya beri tahu dan itu selalu saya lakukan manakala ia “mengingatkan”, si sulung memahami keadaan. Tidak lantas ia memaksakan diri untuk harus diantar (saat itu juga) karena memang keadaan yang tidak memungkinkan.
Dalam keadaan begini boleh jadi melatih diri si sulung untuk bisa bersabar. Mengendalikan keinginan. Berlatih mempertimbangkan ini-itu, sebelum mengambil keputusan. Menghargai juga orang lain, dalam hal ini saya, orang tuanya, yang akan mengantarnya. Faktor-faktor itu, saya amini membentuk kepribadian anak supaya lebih hati-hati, tidak grusa-grusu di dalam mengambil keputusan. 

Juga barangkali memahamkan kepada anak tidak seketika harus ada apa yang diinginkan. Memahamkan bahwa untuk dapat memenuhi keinginan itu perlu proses. Yang, kadang proses itu tidak menyenangkan. Membutuhkan pengorbanan, baik pikiran, perasaan, waktu, tenaga, maupun yang lainnya. Mungkin ada perasaan jengkel, benci, ingin marah, kecewa, dan sebagainya yang dialami ketika keinginan belum terpenuhi. Itu sesuatu yang wajar. Anak memang perlu juga mengalaminya. Agar anak tidak selalu memiliki pengertian bahwa keinginan itu harus segera terpenuhi. Ditunda bisa, bahkan jika tidak memungkinkan, dibatalkan pun dapat. Sebab, banyak kenyataan yang membuktikan ketika keinginan anak selalu dipenuhi sesuai waktu permintaannya, sikap manja dan kurang menghargai orang lain muncul pada diri anak.
Salah satu orang tua siswa beberapa waktu lalu datang ke sekolah, mengeluh. Menceritakan tentang keinginan anaknya. Anaknya menginginkan motor, yang harus dipenuhi oleh orang tuanya dalam waktu seminggu. Orang tuanya sudah memahamkan bahwa untuk saat ini belum terlalu perlu karena masih ada sepeda, toh masih banyak teman yang menaiki sepeda ketika pulang-pergi sekolah. Kalau sore ada ekstra motor orang tua juga boleh digunakan sementara. Nanti kalau sudah mau masuk ke jenjang SMA dibelikan. Anak tersebut tidak sabar. Orang tuanya harus menyediakan motor itu. Ya jadilah orang tuanya akhirnya berusaha menyediakan motor sekalipun harus “memaksakan diri”.  

Kenyataan itu boleh jadi disebabkan oleh kebiasaan buruk orang tua terhadap anak sejak dini. Keinginan-keinginan anak sejak dini, sekecil apa pun keinginannya, memang perlu dikomunikasikanan. Tidak setiap meminta, dituruti. Orang tua memang harus berani menolak jika permintaan itu memang belum seharusnya dipenuhi. Tentu saja penolakan yang bersifat persuasif. Tapi, ketika penolakan itu terjadi umumnya (dikuti) anak menangis. Memang, bagi anak, menangis senjata yang ampuh. Karenanya sering orang tua, entah ibu entah ayah, akhirnya mengabulkan permintaan. Dan sering kurang menyadari bahwa  tindakan tersebut suatu saat menjadi bumerang, yang saya pikir, serupa yang dialami salah satu orang tua siswa (kami) itu.

Ketika kecil anak dimanja. Meminta apa-apa dituruti. Barangkali karena keinginan si kecil (masih) relatif terjangkau, langsung dituruti. Buat apa mempersulit diri. Kalau tidak dituruti anak menangis, dan menangis itu merepotkan. Sementara harga terjangkau, buat apa kok repot-repot. Dibelikan saja beres. Alasan-alasan semacam itu yang sering menjadikan orang tua kurang menghiraukan dampak-dampak buruk di kemudian hari.
Karenanya menunda keinginan si sulung lebih baik daripada seketika itu memenuhinya dalam kondisi yang kurang memungkinkan. Toh ketika itu si sulung mau menggunakan terlebih dahulu bolpoin yang saya punyai. Kemauan si sulung menggunakan bolpoin yang saya punya bukan karena bolpoin itu lebih baik daripada bolpoin kepunyaan si sulung. Itu barangkali karena kondisi kepepet (Jw, mendesak) saja. Sekalipun saya mengerti hal itu merupakan “pengajaran” baik bagi si sulung, tapi sore itu saya lebih bersyukur karena dapat memenuhi janji mengantar si sulung membeli alat-alat tulis di sebuah toko buku.    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""