Sabtu, 18 Februari 2012

Mengandalkan Kemampuan Diri


Saya dikagetkan oleh seorang anak didik saya pagi ini. Ketika hendak menuju ke ruang guru untuk memasuki persiapan kerja, yang selalu diawali dengan apel terlebih dahulu, saya dihentikan persis di depan pintu kelasnya, yang kebetulan ruang kelas itu saya lewati. Ia menanyakan permintaannya, yang kemarin, Jumat (17/2/2012) disampaikan kepada saya. Saya, waktu itu menyanggupinya bahwa hari ini, Sabtu (18/2/2012), memenuhi permintaannya. Bahkan, seingat saya, menyanggupi dengan begitu percaya diri. Karena, terkait dengan hal tulis-menulis, saya sudah terbiasa. Artinya, saya sering membuat tulisan. Sehingga, tanpa pikir panjang dan mengingat untuk menulis hal yang satu ini tidak ada pilihan lain kecuali saya, saya dengan mantap menyanggupinya.

Sekalipun pada detik itu saya belum memiliki bayangan menulis tentang apa. Tapi, karena kebiasaan yang saya sering lakukan itu membuat saya berpikir pasti bisa. Menulis renungan tidak jauh berbeda dengan menulis tulisan bentuk lain.  Itu yang tebersit di pikiran saya ketika itu. Sehingga, sekali lagi, saya begitu entheng (Jw, ringan) menyanggupi. Tapi, apa yang terjadi? Saya sungguh tidak menyangka ada seorang anak didik menghentikan langkah saya, hendak meminta tulisan yang sudah saya sanggupi. Di titik inilah saya harus merenung. Apa yang saya sanggupi, tidak dapat saya penuhi. Tapi, rupanya saya harus bersyukur. Karena, peristiwa ini ternyata menjadi inspirasi saya untuk menulis renungan ini. Sederhana peristiwanya, tetapi di balik peristiwa sederhana itu ada sesuatu yang besar maknanya bagi kehidupan kita.

Betapa tidak. Saya, yang kemarin lebih mengandalkan kemampuan saya, ternyata tidak dapat menyanggupi apa yang saya janjikan. Hal itu boleh jadi karena saya merasa memiliki kemampuan. Apa yang diminta pasti akan dapat segera saya penuhi. Karena menganggap hal itu mudah saya kerjakan. Sehingga tidak perlu ada konsentrasi penuh. Ya itulah saya, dan barangkali (terjadi) juga pada Anda. Sesekali mengandalkan kemampuan diri. Tidak menyadarinya bahwa kemampuan itu sejatinya anugerah dari Tuhan. Maka, menjadi hal yang tidak banyak berguna jika kita tidak menghadirkan Tuhan dalam setiap perencanaan kerja kita. Mengandalkan kemampuan diri ternyata tidak selalu membuahkan hasil yang baik.

Bahkan, dapat menyusahkan orang lain. Seorang anak didik saya, misalnya, tentu mengalami kekecawaan karena apa yang kami sepekati tidak saya penuhi. Ia, yang mendapat tugas dari tim, oleh karena belum terpenuhi, tentu tidak “enak hati” dengan anggota tim yang lain. Bisa saja ia dimarah-marahi oleh anggota lain karena mereka bekerja dibatasi oleh waktu. Kalau tugas yang diberikan belum selesai pada batas waktu yang ditentukan, jelas akan merusak semua tatanan. Semua menjadi susah. Karena, pekerjaan tim menjadi terbengkalai. Jadwal yang telah disusun rapi-rapi sejak awal, dapat berubah oleh karena kesombongan saya. Coba kalau saya tidak menyombongkan diri. Tidak mengganggap bahwa permintaan itu mudah saya penuhi. Yang, berarti membutuhkan konsentrasi penuh dan melibatkan Tuhan dalam mengerjakan permintaan itu. Tentu saja semua dapat berjalan dengan baik, selesai pada waktunya, dan yang pasti membuat banyak orang menjadi bahagia dan sejahtera. 

Itulah sebabnya, penting bagi kita untuk menghadirkan Tuhan di setiap perencanaan dan pekerjaan kita. Bersikap rendah hati, yang berarti mengakui kebesaran karya Tuhan dalam diri kita, boleh kita jadikan modal untuk melangkah dalam keberlangsungan hidup ini. Karena banyak bukti bahwa ketika mengandalkan kemampuan diri, tidak banyak memberi manfaat. Menghadirkan Tuhan bertahta dalam diri kita merupakan prinsip yang harus diambil di setiap perencanaan dan kerja kita. Sehingga, perencanaan dan kerja kita berbuahkan bahagia, damai, dan sejahtera bagi semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""