Jumat, 17 Februari 2012

Menjadi Guru yang Mampu Membawa Diri


Gambar dari: sukabaca.baca.blogspot.com
Guru, sosok yang tidak jauh dari kebiasaan berbicara. Selalu saja ketika berada di depan anak didik, guru berbicara. Berbicara menjadi modal penting bagi guru. Karena, umumnya, materi yang disampaikan harus memberi peran serta mulut untuk berbicara. Maksudnya, agar materi pembelajaran sampai pada pemahaman anak didik, diperlukan komunikasi verbal, walaupun memang berbicara (komunikasi verbal) bukan satu-satunya media penyampai materi. Masih ada banyak media penyampai materi kepada anak didik agar dipahaminya.

Akan tetapi, berbicara barangkali bolehlah disebut sebagai media yang vital. Karena, hampir dapat dipastikan, berbicara selalu terjadi di dalam proses pembelajaran. Mulai dari membuka proses pembelajaran hingga menutupnya, peran berbicara menjadi yang lebih dominan dibandingkan dengan media yang lainnya. Metode ceramah, yang lebih banyak memanfaatkan komunkasi verbal, sudah sejak lama kurang menarik digunakan. Hal itu, dikarenankan, metode ceramah sangat membosankan anak didik. Di samping itu, metode ceramah kurang efektif untuk memahamkan materi kepada anak didik. Proses pembelajaran lewat metode ceramah, materinya mudah dilupakan anak didik. Metode diskusi, bermain peran, pemecahan masalah, dan proyek lapangan, merupakan beberapa metode yang lebih membekaskan materi di pikiran dan perasaan anak didik ketimbang ceramah.

Namun, metode ceramah, hingga saat ini pada sebagaian (banyak) guru masih menjadi yang nomor pertama. Artinya, kesehariaannya, guru tidak pernah melepaskan tindakan berbicara di depan anak didiknya. Berbicara dalam konteks materi pembelajaran yang harus diterima anak didik, masihlah baik. Karena, ada manfaatnya bagi anak didik. Anak didik akhirnya memahami materi yang diajarkan sekalipun seperti (yang) tadi telah disinggung,  hasilnya kurang maksimal. Seberapa pun hasilnya, metode ceramah (berbicara) masih bermanfaat dalam proses pembelajaran. Selama yang dikomunikasikan secara verbal oleh guru kepada anak didik adalah hal-hal positif/membangun kepribadian, kecerdasan, dan keterampilan, berbicara masih sangat dibutuhkan.

Akan tetapi, dalam hal-hal negatif (yang tidak membangun kebaikan bagi anak didik), berbicara tidaklah penting. Apalagi jika “mempergunjingkan” kelemahan orang lain. Jelas ini perbuatan yang konyol lebih-lebih jika yang demikian itu diceritakan di depan anak didik. Lebih parah lagi, jika oleh karena entah, guru mempergunjingkan kelemahan guru lain di hadapan anak didiknya. Kalau demikian ini yang terjadi, dapat dipastikan suasana pembelajaran tidak kondusif. Barangkali di antara anak didik, ada yang merasa “tidak nyaman hati” bahwasannya perbuatan semacam itu tidak layak disampaikan di sembarang tempat, termasuk di kelas di hadapan anak didik.

Entah disadari atau tidak oleh guru yang bersangkutan, bahwa perbuatan seperti itu sangat merugikan anak didik. Seolah-olah anak didik dicekoki (artinya, meminumkan obat dengan cara ditelan) dengan  hal-hal yang tidak baik. Jiwa anak didik boleh jadi akhirnya tercemari kekurangbaikan itu. Bahan pergunjingan guru yang demikian memenuhi pikiran-pikiran anak didik. Karena keberadaan guru (baik atau kurang) seakan menjadi model yang ditiru anak didik. Marah dengan mengeluarkan kata-kata bernuansa kotor/kasar di depan anak didik setali tiga uang dengan kebiasaan mempergunjingkan kelemahan orang lain, terutama guru lain. Ini semua dapat menumpulkan karakter anak didik, yang seharusnya ditumbuhkembangkan. Karenanya, penting guru-guru membawa diri secara arif, baik di rumah, tengah-tengah masyarakat,  maupun sekolah. Di dalam kelas, selama proses pembelajaran berlangsung, sudah seharusnya seorang guru menjaga sikap sebaik-baiknya. Agar dapat menjadi teladan baik bagi anak didiknya.

2 komentar:

  1. sepakat. Di dalam kelas, selama proses pembelajaran berlangsung, sudah seharusnya seorang guru menjaga sikap sebaik-baiknya. Agar dapat menjadi teladan baik bagi anak didiknya.

    BalasHapus
  2. Benar, Pak Jay. terima kasih telah berkunjung.

    BalasHapus

""