Kamis, 16 Februari 2012

Menjaga Diri


Gambar dari: andipandora.com
Tetangga saya, persis sebelah rumah, sedang mengecat rumahnya. Sebenarnya, rumahnya itu sudah pernah dicat. Hanya, karena usia catnya boleh dibilang sudah lama, warnanya tidak lagi secerah warna awalnya. Jika warna awal-awalnya dicat terlihat bersih, cerah, tanpa terlihat noda, yang membuat setiap orang yang melihatnya tentu senang, kini, tidaklah seperti itu. Warnanya mulai kusam, bernoda, ada titik-titik warna berbeda dengan warna cat. Sehingga, membuat kurang menimbulkan rasa “nikmat” ketika dilihat.
Hal begitu terjadi karena banyak kotoran yang menempel pada dinding bercat itu. Kotoran debu yang menempel, yang akhirnya setelah berkontraksi dengan air dan udara, menjadi lumut. Lumut menempel menimbulkan dinding yang awalnya berwarna cerah, berubah menjadi kusam. Hal demikian menunjukkan pada kita bahwa kebersihan yang ada dapat saja menjadi kotor oleh karena pengaruh dari luar, yang oleh siapa saja hal itu tidak dikehendaki ada.
Tetapi karena pengaruh itu selalu ada, sulitlah untuk dihindari. Bukankah yang namanya mengecat rumah tidak dilakukan setiap hari? Mengecat rumah boleh jadi umumnya dilakukan setahun sekali atau bahkan lebih, tergantung isi kocek. Kalau setahun sekali, umumnya, dilakukan saat-saat khusus, misalnya menjelang hari raya. Demikian juga ketika hendak memiliki hajat keluarga, rumah biasanya dicat. Bagi orang yang koceknya selalu terisi, boleh jadi menuruti hati. Kapan saja bisa dilakukan pengecatan.   
Yang jelas terjadi adalah setelah dilakukan pengecatan, akan selalu ada pengganggu, yang bersifat merusak. Bukankah hal demikian seumpama hidup kita? Kita telah berusaha menjaga kebersihan hidup kita, melalui berbagai tuntunan kepercayaan atau keagamaan. Akan tetapi, sekalipun begitu, ada banyak “penggoda” yang dapat “menjatuhkan” hidup kita. Penggoda itu ada di mana-mana, di sekitar kita, seperti rumah kita yang dikerubuti banyak debu dan kotoran lainnya. Hal ini mengingatkan pada kita bahwa diperlukan ketahanan untuk senantiasa “menjaga” diri agar kondisi hidup kita tetap tertata rapi.

1 komentar:

""