Selasa, 07 Februari 2012

Siswa yang Menginspirasi (1)


Gambar dari: mutiara.hati.com
Tulisan terdahulu dalam judul yang sama, mengangkat perihal siswa-siswa yang menyenangkan. Menyenangkan itu (ternyata) merangsang tumbuhnya inspirasi, baik bagi siswa lain maupun guru. Akan tetapi, menurut kaca mata saya, siswa yang kurang menyenangkan oleh karena perilakunya kurang terpuji, dapat saja memberi inspirasi bagi, khususnya, guru. Siswa yang sering melanggar tata tertib sekolah, disadari atau tidak, memungkinkan guru menggali kreativitasnya. Kreativitas untuk menemukan cara-cara yang dapat mengurangi perilaku siswa yang kurang terpuji itu.

Tulisan ini tidak bermaksud menganjurkan siswa untuk berperilaku menyimpang agar guru selalu membangun kreativitasnya. Tidak. Sebab, membangun kreativitas tidak harus dirangsang lewat perilaku siswa yang kurang terpuji. Perilaku-perilaku terpuji (seperti tulisan terdahulu) malah tidak hanya menginspirasi guru, tetapi juga siswa lain. Oleh karena sepertinya ada kaitan antara perilaku menyimpang siswa dengan kemauan berpikir guru, saya ingin mencatatnya. Bukankah kasus-kasus siswa keseharian di sekolah menunjukkan perihal tersebut?

Misalnya ada siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Tidak mengenakan topi saat upacara. Siswa tersebut tidak membuat guru diam. Guru tentu akan bertindak dan berpikir mengenai cara bagaimana menangani siswa yang demikian. Cukupkah disuruh berdiri sendirian di tempat khusus, keluar dari barisan kelasnya selama upacara berlangsung? Apakah tindakan demikian membuat siswa jera sehingga di waktu mendatang saat yang sama tidak mengulangi perbuatan yang salah kedua kalinya? Mungkin saja ada siswa yang memperbaiki sikapnya di kemudian hari. Sehingga ketika ada upacara, ia telah berseragam lengkap. Dan, konsekuensinya tidak ada tindakan apa-apa lagi.
Namun bukan mustahil dijumpai anak yang dableg (Jw, masa bodoh) sekalipun sudah diberi sanksi. Perilaku yang serupa diulang-ulang, yang memungkinkan siswa lain dan guru yang melihat merasa bosan. Sudah diberi sanksi ini-sanksi itu, tetap saja perilaku buruk itu dilakukan. Mau tidak mau, guru akhirnya mencari cara yang jitu untuk menangani kasus tersebut. Guru “dipaksa” berpikir lebih dalam. Agar menemukan cara-cara penanganan yang lebih efektif. Karena sudah menemukan satu cara dan menerapkannya, ternyata tidak membuat siswa berubah. Menemukan cara lain dan menerapkannya, pun siswa tidak jera. Begitu lagi, begitu lagi. Bukankah itu menunjukkan bahwa guru terinspirasi oleh karena perilaku menyimpang siswa?

Guru selalu tertantang menemukan cara-cara baru. Cara-cara baru yang dapat digunakan untuk menangani siswa yang bermasalah. Bukan mustahil akhirnya guru berdiskusi terlebih dahulu dengan teman sejawat untuk menemukan cara itu. Bertukar pikiran satu guru dengan guru yang lain. Guru membangun kerja sama antarteman sejawat. Antara wali kelas/guru kelas dengan guru bimbingan karier (BK). Antara guru mata pelajaran (mapel) dengan wali kelas dan guru BK, dan mungkin juga dengan kepala sekolah.   
Bahkan, boleh jadi guru mengadopsi cara-cara yang pernah dipakai di sekolah lain dalam menangani siswa untuk kasus yang serupa. Cara yang pernah dipakai dan berhasil menangani siswa di sekolah lain “diambil” untuk diterapkan di sekolah tertentu. Hal tersebut bisa terjadi karena ketika guru-guru ada acara, dalam pertemuan itu, umumnya, saling sharing. Berbagi persoalan, termasuk persoalan siswa yang bermasalah, berikut cara-cara penanganannya. Karena kasus-kasus yang dihadapi siswa di beberapa sekolah yang berbeda hampir dapat dipastikan sama.

Untuk menangani siswa tak jarang guru juga mengundang orang tua/wali murid. Kerja sama dengan orang tua/wali murid diduga lebih efektif untuk mengendalikan perilaku menyimpang siswa. Karena persoalan-persoalan anak dapat didiskusikan, tentu saja, harus dilakukan secara terbuka. Orang tua/wali murid harus menyampaikan secara apa adanya tentang anaknya. Demikian juga guru, harus menginformasikan keberadaan siswanya itu secara jujur dan objektif. Guru tidak perlu “tidak enak hati” menyampaikan keadaan siswa yang nakal kepada orang tua/wali murid. Tentu orang tua/wali murid yang baik tidak akan merasa tersinggung/sakit hati jika ditunjukkan bahwa anaknya di sekolah berperilaku menyimpang. Keterbukaan itu akan sangat menolong siswa berperilaku baik.
Itulah di antaranya sisi-sisi positif yang dapat saya catat ketika menghadapi siswa berperilaku menyimpang. Guru berusaha mencari cara-cara penanganan, baik membangun kerja sama dengan teman sejawat maupun dengan orang tua/wali murid. Yang, kesemuanya itu hanya diperuntukkan demi kebaikan siswa/anak ke depan lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""