Rabu, 08 Februari 2012

Tumbuhkan Rasa Kemanusiaan Sejak Dini


Gambar dari: donzpas.blogspot.com
Disadari atau tidak, di zaman kini, sudah sangat tipis rasa kemanusiaan di masyarakat. Nilai-nilai yang pernah kental di keberlangsungan hidup orang Indonesia, kini, telah mulai menghilang. Hal itu terjadi, di antaranya, disebabkan oleh begitu sibuknya orang dengan pekerjaan yang, memang harus dilakukan secara ekstra, demi memenuhi tuntutan kebutuhan hidup. Waktu seakan habis untuk bekerja. Hampir-hampir tidak ada waktu untuk membangun hubungan dengan sesama dalam situasi yang informal. Hubungan dalam kekeluargaan/persaudaraan/kekerabatan agak terabaikan oleh karena orang disibukkan membangun hubungan secara formal dalam kerangka kerja/usaha/bisnis, atau sesuatu yang memberi keuntungan.

Kalau orang tua saja tidak memiliki waktu untuk membangun hubungan sosial kemanusiaan dengan sesama, apalagi anak-anak. Mereka tentu saja tidak pernah mengenal yang namanya rasa kemanusiaan, sikap sosial, dan berempati terhadap sesama. Sebab, orang tualah yang mestinya memiliki peran mengenalkan mereka pada hal-hal sosial kemanusiaan itu. Orang tua memberi teladan melakukan tindakan-tindakan sosial kemanusiaan. Bahkan, jika dimungkinkan ada kesempatan, melibatkan anak dalam aktivitas tersebut sangat dianjurkan. Karena jika tidak, anak-anak akan semakin asing dengan nilai-nilai yang sejatinya tumbuh dari pribadi bangsa sendiri.
Anak-anak yang, sekarang sudah ditawari berbagai budaya modern, yang cenderung membangun sikap individulis, semakin terhanyut olehnya. Karena budaya modern, tampaknya, lebih memiliki daya “rayu” yang dahsyat terhadap anak-anak. Lihat saja misalnya, ketika anak-anak sudah ngegame. Mereka tidak mengenal waktu. Bahkan, dalam sebuah penelitian ditemukan, anak laki-laki umumnya menggunakan 13 jam seminggu untuk main game, sementara anak wanita 5 jam seminggu. Bukankah ini sebuah gambaran buram tentang hanyutnya anak-anak dalam gelombang budaya modern? Padahal, game lebih mengarahkan anak-anak menjauhi nilai-nilai sosial.

Jika kenyataan itu dibiarkan terus terjadi, orang tua sibuk dengan pekerjaannya dan anak sibuk dengan aktivitasnya sendiri, dapat dipastikan nilai-nilai sosial kemanusiaan benar-benar tinggal kenangan di negeri ini. Nilai-nilai kesetiakawanan, kekerabatan, kebersamaan, dan kegototongroyongan sirna dengan sendirinya. Padahal, nilai-nilai itu telah sejak dahulu ditanamkan oleh leluhur-leluhur kita. Karena disadari bahwa nilai-nilai itu mampu mendaulatkan bangsa ini di tengah-tengah bangsa lain. Bahkan, selanjutnya, menjadi energi pembangun bangsa ini semakin beradab.
Itulah sebabnya, nilai-nilai itu jangan kita biarkan menghilang dari tradisi kehidupan bangsa ini. Perlu terus dilestarikan. Orang tua memiliki peran penting menradisikan nilai-nilai itu kepada anak-anak. Basis keluarga memang sangat strategis untuk menumbuhkan sikap sosial kemanusiaan dalam benak anak-anak. Saya baru menyadarinya beberapa hari yang lalu. Ketika suatu sore timbul ide saya untuk mengajak anak-anak (si bungsu dan sulung) bezuk orang sakit di rumah sakit. Kalau saudaranya yang sakit, sudah berkali-kali bezuk. Orang lain yang sakit, secara bersama-sama (lengkap sekeluarga) bezuk baru kali ini. Kami memang terlebih dahulu mempertimbangkan sakit yang diderita itu menular atau tidak. Begitu memandang penyakit yang diderita tidak menular, saya pastikan anak-anak ikut bezuk.

Mereka terlihat senang. Keluar dari rumah, rata-rata, memang menyenangkan anak. Mereka akan merasa bebas. Dapat melihat berbagai pemandangan yang ada di luar rumah. Bertemu dengan banyak orang. Bertemu dengan banyak jajan dan mainan. Sementara di rumah, pemandangannya hanya itu-itu saja. Maka, saya (barangkali Anda juga) berpikir, anak-anak itu tidak akan memikirkan perihal bezuk. Mereka jauh dari pikiran itu, sekalipun sejak awal mengetahui akan berkunjung ke rumah sakit. Apalagi si bungsu. Sedikit pun, saya pikir, tidak terkonsentrasi ke perihal bezuk. Agak berbeda dengan si sulung yang, beberapa kali pernah bersama-sama teman sekolahnya bezuk teman yang sakit di rumah sakit. Si sulung barangkali sudah berpikir untuk apa bezuk itu.
Walaupun kemungkinannya seperti si bungsu, bukan berarti mengajaknya bezuk orang sakit, tidak bermanfaat. Menanamkan nilai-nilai kehidupan tidak harus dimengerti langsung oleh anak. Menanamkan nilai-nilai itu perlu proses untuk dapat dipahaminya. Sehingga mengajak anak bersentuhan dengan hal-hal kemanusiaan sejak dini tetap penting. Tentu tidak hanya mengajak bezuk. Jika ada kesempatan, mengajak  anak-anak berkunjung ke panti asuhan, jompo, dan tempat-tempat yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk lokasi penampungan korban bencana, boleh juga. Melalui aktivitas kemanusiaan itu, anak-anak, sedikit demi sedikit, sikap sosial kemanusiaannya akan terpupuk. Mereka akan menjadi insan yang kaya nilai kehidupan. Sehingga ketika mereka besar, tidak merasa canggung dan enggan melakukan aktivitas serupa. Bahkan, bukan mustahil mereka menradisikan sikap-sikap positif itu kepada generasi berikutnya.

3 komentar:

  1. betul-betul pak, beberapa aktivitas yang orangtua lakukan dan pantas untuk ditiru anak, sebaiknya disampaikan dengan terlibat langsung... bukan dengan kata-kata

    BalasHapus

""