Senin, 19 Maret 2012

Bakti Budaya Djarum Foundation Bersama Disdikpora Kudus Gelar Workshop Teater (Rangkul Teater Pelajar)

EKSPRESIF: Nur Rahmat SN saat memberi contoh akting
di depan peserta workshop teater
Dua hari, Sabtu (17/3) dan Minggu (18/3), bertempat di Hotel Kenari Kudus, Kudus, Jawa Tengah (Jateng), Bakti Budaya Djarum Foundatin, PT Djarum  Kudus, menghelat acara workshop teater. Workshop teater itu setiap harinya digelar sejak pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Saat pembukaan, di hari pertama, dihadiri perwakilan dari manajerial PT. Djarum Kudus dan perwakilan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, dan yang disebut terakhir ini dimohon meresmikan dimulainya acara workshop teater tersebut.

Dalam kata sambutannya, perwakilan manajerial PT Djarum Kudus, menyatakan bahwa sudah sejak lama PT Djarum memiliki interes terhadap hal-hal yang menyentuh kepentingan publik. Bakti Budaya Djarum Foundation ini termasuk bentuk kepedulian PT Djarum Kudus terhadap masyarakat, setelah terlebih dahulu ada bakti-bakti yang lain, yaitu Bakti Kesehatan, Bakti Olahraga, Bakti Lingkungan, dan Bakti Pendidikan. Gerak PT Djarum melalui Bakti Budaya Djarum Foundatin, kali ini mengadakan acara workshop teater yang berbeda dengan workshop teater tahu-tahun lalu. Dikatakan, tahun ini Bakti Budaya Djarum Foundation sengaja merangkul teater pelajar untuk mengikuti workshop teater itu, yang tahun-tahun lalu workshop serupa hanya diperuntukkan bagi Teater Djarum. Jadi, kalau tahun-tahun lalu lebih bersifat tertutup, untuk kalangan sendiri; tahun ini lebih bersifat terbuka, merangkaul komunitas-komunitas teater sekolah dan kampus.

SERIUS: Salah satu peserta (pelajar) saat menulis naskah drama
Itulah sebabnya, dalam kata sambutan wakil Disdikpora Kabupaten Kudus, disampaikan bahwa semua peserta, terutama yang berasal dari kalangan pelajar dan guru, harus mengikuti dengan intens. Sebab, media semacam itu (workshop teater) di Kudus tidak mudah dijumpai. Oleh karena PT Djarum Kudus telah berprakarsa baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan budaya, perlulah dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Semua ilmu yang disajikan oleh narasumber harus diserap sebaik-baiknya, dan selanjutnya wajib dikembangkan di komunitas sekolah masing-masing. Dengan begitu, teater pelajar semakin menghasilkan insan-insan seni pelajar yang berkualitas. Apalagi melalui teater, karakter seseorang dapat dibangun secara efektif.

Workshop teater yang diikuti sekitar seratus peserta, dari anggota Teater Djarum sendiri dan pelajar serta guru-guru pembina teater sekolah di Kabupaten Kudus, itu menghadirkan tiga narasumber, yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Ketiga narasumber itu adalah Agus R. sarjono, menyampaikan materi Menulis, Membedah, dan Mementaskan Naskah Drama (Teater); Nur Rahmat SN., membawakan materi Seni Akting Teater; dan Ade Li Syarifuddin, memresentasikan materi Artistik.

Pada hari pertama, Agus R. Sarjono tidak banyak menyampaikan penjelasan, yang sejatinya materi (memang) sudah dituliskan di makalah yang telah diberikan kepada seluruh peserta. Peserta dapat membacanya sendiri karena di dalam makalah itu telah dijelaskan panjang lebar tentang menulis, membedah, dan mementaskan naskah drama. Agus R. Sarjono justru memberi kesempatan kepada para peserta untuk menanyakan persoalan-persoalan terkait dengan materi tersebut yang dialami dalam berteater. Misalnya, bagaimana memilih naskah yang tepat untuk dipentaskan. Dalam memilih  naskah itu memang dibutuhkan kecerdasan sutradara. Perlu ada pertimbangan ini-itu untuk memperoleh naskah yang sesuai. Sesuai dengan konteks kewilayahan, budaya masyarakat, isu-isu yang berkembang, penonton, dan strata pemain, misalnya. Pertunjukan teater yang dapat menjadi katarsis, itu sesungguhnya tidak perlu dikhawatirkan andai dijumpai naskah-naskah yang di dalamnya ada dialog-dialog tokoh yang “kasar”, “kotor”, sebab itulah fakta yang dapat juga ditemukan dalam realitas kehidupan. Justru dari situ, orang , baik pemeran maupun penonton, akan memiliki kecerdasan batin. Kecerdasan bagaimana memilih yang baik dan membuang yang kurang dan tidak baik. Dengan demikian hidup menjadi bermakna.

Di sesi lain, narasumber, yang penyair, esais, dan penulis naskah drama, itu mengajak para peserta untuk menulis naskah drama. Untuk menggugah inspirasi para peserta, sengaja Agus R. Sarjono memunculkan sebuah kisah yang (memungkinkan) melibatkan beberapa peserta. Cerita yang dimunculkan itu didialogkan di depan peserta. Caranya, ada beberapa peserta yang dipanggil maju untuk dilibatkan seolah-olah menjadi tokoh cerita. Peserta yang dipanggil terlibat dialog kreatif, itu berbicara dengan spontan dan inspiratif oleh karena (stimulus) pertanyaan narasumber. Agar cerita itu berkembang, yang dilibatkan dalam dialog kreatif di depan peserta jumlahnya banyak. Semuanya dikondisikan ke arah satu cerita.  Melalui kisahan itu, peserta digiring ke dalam sebuah cerita yang sama, yang kemudian dijadikan pijakan menulis naskah drama pendek. Begitulah, masing-masing peserta akhirnya menulis naskah drama secara “terbimbing” (dalam arti naskah drama yang ditulis berada dalam “kerangka” cerita yang baru saja didialogkan).

Naskah drama karya peserta yang terkumpul, dipilih lima naskah drama terbaik. Kelima naskah itu di hari kedua akan dipentaskan, yang pemeran-pemerannya dari peserta. Itulah sebabnya, di sesi terakhir (hari pertama), terkait dengan pementasan, Agus R. Sarjono, memilih beberapa peserta untuk mementaskan drama satu babak, yang naskahnya hasil karya Agus R. Sarjono sendiri. Dalam beberapa menit peserta terpilih, sudah disibukkan di ruang lain untuk persiapan pementasan. Para peserta memang tidak dapat membawakan naskah drama itu dalam bentuk yang ideal sebagai sebuah pertunjukan seni. Karena peserta ketika tampil tetap membawa teksnya. Oleh karen dalam waktu yang singkat teramat sulit pemeran mampu menghapal teks. Meski demikian, ketika berlangsung pentas, masing-masing pemeran tampil tidak mengecewakan. Mereka tampil baik. Perihal ada kesalahan di sana-sini, itu hal yang wajar karena memang tidak ada persiapan ekstra. Sebagai sebuah pembelajaran, pentas tersebut sudah cukup bermakna.

PENTAS: Salah satu kelompok mementaskan sebuah lakon
Pada hari kedua, tampil narasumber Nur Rahmat SN. dan Ade Li Syarifuddin, secara berkolaborasi. Mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman berteater, baik akting maupun artistik, kepada peserta. Terkait dengan akting, Nur Rahmat SN. mengajak para peserta memraktikkan olah vokal, gerak, dan imajinasi. Sehingga dalam beberapa waktu, ruang workshop, yang berada di lantai tiga Hotel Kenari Kudus, agak “gaduh”. Ada suara tangis, teriakan, marah-marah, hentakan, guling-guling, gerakan-gerakan abstrak (yang ekspresif) dari semua peserta yang sedang melakukan olah dasar berteater.

Sementara itu, di bagian lain, Ade Li Syarifuddin, menjelaskan tentang artisitik, yang meliputi latar, tata lampu, tata wajah, dan tata busana. Disampaikan, ketika komunitas teater akan mementaskan lakon perlu mempertimbangkan hal-hal tersebut. Cerita dan artistik memang harus sesuai. Misalnya, mementaskan lakon dari luar negeri, rasanya tidak mungkin diikuti artistik yang berlatar Jawa. Itu tidak akan cocok. Artistik memang harus mendukung bangunan cerita. Akan tetapi, kalau dalam kondisi tertentu tetap akan mementaskan naskah itu, perlulah dibutuhkan adaptasi naskah agar artistiknya dapat dipenuhi. Kalau tetap memegang bangunan cerita asli, sementara artistik tidak terpenuhi, barangkali perlu dimunculkan simbol-simbol tertentu dalam sisi artistik sehingga bangunan cerita tetap relevan. Di sinilah dibutuhkan kajian intelektual berkesenian.

Untuk memraktikkan kedua pengalaman (akting dan artistik), maka kelima naskah drama terpilih di hari pertama yang ditulis peserta harus dipentaskan oleh peserta dalam kelompok-kelompok yang telah terbentuk. Dalam beberapa waktu, peserta yang telah membentuk beberapa kelompok mulai mendalami naskah yang hendak dipentaskan selama sepuluh menit setiap kelompoknya. Tiap-tiap kelompok terlihat mempersiapkan pementasan. Karena tidak disediakan secara khusus oleh panitia, maka keperluan artistik pementasan diusahakan oleh masing-masing kelompok sekreatif-kreatifnya. Meskipun hasil artistiknya tetap dalam kondisi terbatas, tetapi pentas setiap kelompok boleh dibilang berhasil dari sisi keaktoran. Itulah apresiasi dari salah seorang narasumber ketika mengulas pementasan itu. Peserta workshop (sesungguhnya) memiliki potensi bermain teater. Memang perlu berlatih sungguh-sungguh dan terus-menerus untuk menghasilkan kualitas berteater.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""