Senin, 26 Maret 2012

Harus Memilih


SAKIT: Si bungsu diinfus
Harus memilih, mutlak dilakukan oleh seseorang ketika menghadapi dua atau lebih hal yang hadir bersamaan di depannya. Apalagi dua atau lebih hal itu harus dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Hal yang satu hari ini harus dilakukan, demikian juga hal satunya. Tidak ada waktu berbeda untuk melakukannya. Jadi, mau tidak mau, seseorang harus memilih salah satu.

Tentu saja memilih salah satu yang lebih penting dan mendesak. Sebab, pilihan berdasarkan kedua hal itu (penting dan mendesak) tentu lebih baik jika dibandingkan dengan pilihan berdasarkan hal lain. Karena itu ketika kami menghadapi dua hal, perlu kami pilih salah satu berdasarkan hal tersebut. Untung saja kedua pilihan itu, bagi siapa pun, begitu mudah untuk memilihnya, mana yang lebih penting dan mendesak.

Sekalipun, salah satu pilihan yang kami hadapi telah lama direncanakan. Bahkan, perencanaannya melibatkan banyak orang. Berarti ada ikatan satu dengan yang lain, atau semacam perjanjian bersama. Yang, sering sebuah ikatan perjanjian bersama itu lebih kuat efeknya terhadap diri seseorang, termasuk terhadap kami. Akan tetapi, kami harus berani mengambil keputusan yang boleh jadi dianggap “agak” mengabaikan komitmen bersama.

Tetapi itulah kenyataannya. Kami harus rela tidak ikut rekreasi bersama teman-teman sepelayanan. Rekreasi yang telah lama direncanakan itu tidak membuat benak dan pikiran saya goyah dalam mengambil keputusan. Dan, saya yakin, keputusan yang kami ambil itu akan dipilih pula oleh setiap orang tua ketika menghadapi hal serupa. Dalam konteks demikian rasanya kurang nyaman jika memaksakan diri untuk ikut rekreasi. Sekalipun, bagi istri saya keputusan kami itu mengecewakan. Bahkan, sangat mengecewakan. Bagaimana tidak mengecewakan kalau untuk dapat ikut rekreasi bersama itu saja istri saya harus tukar jadwal kerja. Itu artinya, ada sesuatu yang ia korbankan, tetapi seakan-akan pengorbanan itu tidak berguna.

Ya karena yang seharusnya bersenang-senang, melepas segala lelah, dan menyegarkan pikiran dan perasaan dapat dilakukan, tapi oleh karena si bungsu sakit, lepaslah semua harapan itu. Sakitnya si bungsu begitu tiba-tiba. Dan memang rasanya tidak ada sakit-penyakit yang direncanakan seperti orang merencanakan rekreasi. Kami menunggu si bungsu sakit di rumah sakit karena harus opname. Akan tetapi, kami yakin bahwa melihat kondisi demikian, teman-teman sepelayanan yang berekreasi memahaminya.
MANJA: Si bungsu manja di pangkuan De Sulami (yang momong)
Sebagai rasa hormat saya pada ikatan perjanjian bersama, si sulung saya minta ikut rekreasi. Keadaan adiknya yang sakit, bagaimana pun mengganggu pikirannya. Akan tetapi, setelah mendapat pemahaman dari kami, si sulung senang juga sekalipun tidak bersama kami. Boleh jadi karena umumnya anak-anak seusia si sulung memang suka berpetualang, suka bepergian, senang berekreasi. Ya sekalipun tidak bersama kami, si sulung bersama keluarga budenya. Yang memiliki dua anak sedikit lebih muda dari si sulung. Jadi, tidak menjadi persoalan bagi si sulung sekalipun kami tidak bersamanya. Hanya, saya yakin kegembiraannya semakin tinggi andai saja kami berempat rekreasi bersama.
BERGAYA: Si sulung bergaya dengan saudara dan Budenya saat rekreasi
Pilihan untuk tidak ikut rekreasi dalam konteks demikian bukan berarti kami mementingkan kepentingan keluarga dan mengabaikan kepentingan bersama. Akan tetapi, kami harus mengambil mana yang lebih penting dan mendesak. Dari dua pilihan itu, yang lebih penting dan mendesak adalah menunggu si bungsu yang sedang sakit. Si bungsu lebih memerlukan perhatian khusus. Dan perhatian khusus itu memang kami (ayah dan ibunya) yang harus memberikan.  Toh kegiatan rekreasi bisa saja suatu saat direncanakan lagi secara bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""