Jumat, 16 Maret 2012

Kepedulian Anak Sekarang, Perlu Dirangsang


Gambar dari: fequeen.blogspot.com
Barangkali kita tidak perlu kaget melihat perbedaan sikap anak zaman sekarang dengan dahulu. Anak-anak zaman dahulu, zaman ketika saya masih kecil (anak-anak), memiliki sikap peduli yang tinggi terhadap sesuatu. Melihat orang tua melakukan pekerjaan, jika dipandang pekerjaan itu mampu si anak lakukan, anak-anak langsung membantu. Bahkan, sering tidak hanya membantu, tetapi mengambil alih pekerjaan itu. Mempersilakan orang tua brerkenan diganti posisinya. 

Sudah lazim ketika anak-anak mengambil alih pekerjaan itu, orang tua melakukan pekerjaan lain. Apalah pekerjaan itu, yang penting bermanfaat. Biasanya pekerjaan yang berada di tempat-tempat itu saja. Tidak jauh dari lokasi pekerjaan semula, yang digantikan anak. Dengan demikian, orang tua dan anak bekerja bersama, meski berbeda pekerjaan. Atau, kalau dipandang orang tua pekerjaan itu tidak akan selesai dikerjakan anak, orang tua tetap melakukan pekerjaan yang diambil alih anak itu, tetapi menggunakan alat/sarana lain karena alat/sarana yang pertama telah diserahkan kepada anak.   Umumnya memang orang tua tetap berusaha melakukan pekerjaan. Itulah kebiasaan orang tua zaman dahulu.

Akan tetapi, jika memang tidak ada pekerjaan yang saat itu perlu ditangani, orang tua biasanya tetap berada dekat pada anak. Berlaku sebagai pengarah dan motivator. Mengarahkan jika anak dijumpai melakukan pekerjaan salah. Anak ditunjukkan bagaimana melakukannya secara benar pekerjaan yang sedang dilakukan. Sebagai motivator, mendorong anak agar tetap memiliki semangat melakukan pekerjaan itu dengan sikap senang dan mau menghargai pekerjaan yang sedang dilakukan sesederhana apa pun pekerjaan itu.
Dalam keadaan seperti itu yang jelas orang tua tetap membangun hubungan yang akrab dengan anak. Tidak membiarkan anak bekerja sendiri. Anak masih dibimbing. Di sini terjadi proses pembelajaran terbimbing. Orang tua membimbing anaknya dalam bentuk pekerjaan sehari-hari. Mengenalkan anak terhadap pekerjaan sehari-hari di rumah, di zaman dahulu, begitu mudah. Tidak perlu menyuruh-nyuruh anak. Anak-anak sendiri memiliki sikap peduli terhadap pekerjaan-pekerjaan rumah, misalnya menyapu, mencuci piring, bersih-bersih kaca, mencuci baju, mengambil kayu, dan lain-lain. Jadi bukan tugas sulit bagi orang tua membangun sikap anak di zaman dahulu.

Hal itu berbeda dengan upaya membangun sikap anak zaman sekarang. Anak-anak di zaman sekarang ketika melihat orang tua melakukan pekerjaan tidak ada yang peduli. Anak-anak cenderung membiarkan orang tua bekerja sendiri.  Bahkan, tidak jarang ketika melihat ada orang tua (orang tua sendiri atau guru) sedang sibuk bahkan kesulitan melakukan pekerjaan, misalnya, anak tetap saja diam. Tidak muncul keinginan membantu. Justru mereka sering menghindar dari apa yang dilihat itu. Terkesan kalau bisa memang tidak perlu melibatkan diri. Biarlah orang lain (orang tua atau guru) yang melakukan. Barangkali tebersit dalam benaknya begini, daripada membantu lebih baik duduk-duduk saja atau menyibukkan diri dengan kesenangan sendiri.

Inilah kenyataan yang sering kita jumpai pada diri anak-anak kita, anak-anak zaman sekarang. Anak-anak yang dimanja oleh zamannya. Generasi yang sering ditinggalkan orang tua karena kesibukan kerja hingga tak memiliki waktu sejengkal pun untuk bercanda ria. Ya, anak-anak seperti hidup dalam kemauannya sendiri. Tidak ada pengarah atau pun motivator. Sementara tawaran-tawaran budaya modern yang cenderung “menyesatkan” semakin menguasai anak-anak. Jadinya, anak-anak hidup lebih dekat dengan pola, gaya, dan irama hidup modern, yang semua itu dapat diakses di mana saja, daripada hidup seperti yang diharapkan setiap orang tua kepada anak-anaknya.
Sebagai orang tua yang mengetahui hal seperti itu, tentu tidak tinggal diam. Membiarkan mereka semakin tersuruk dalam sikap cuek begitu, tidaklah benar. Mengabaikan mereka tidak memiliki sikap hati peduli terhadap kesibukan dan kesulitan sesama pun juga tidak .  Itulah sebabnya, langkah-langkah sederhana, tetapi praktis yang ada dalam lingkungan keluarga perlu disentuhkan kepada anak. Misalnya, suatu ketika orang tua sedang mengepel lantai, anak diajak untuk bergabung. Ketika sedang memasak (oleh kaum ibu), anak-anak dilibatkan juga. Jelas hal demikian membutuhkan kehadiran orang tua di tengah anak-anak. Anak-anak zaman sekarang memang harus dirangsang untuk turut berperan. Bukan dibiarkan saja, dengan harapan, mereka nanti toh akan terpanggil untuk terlibat dalam kegiatan. Anak-anak zaman sekarang, tidak dapat dibiarkan begitu saja. Pikiran demikian tidak pada konteksnya. Konteks zaman sekarang memang harus “mengajak” anak untuk terlibat. Bukan mencuekin anak-anak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""