Selasa, 20 Maret 2012

Sisi Lain dari Workshop Teater Bakti Budaya Djarum Foundation


AKRAB: Pelajar dari sekolah yang berbeda membangun komunitas yang kreatif
Sejatinya selama mengikuti kegiatan workshop teater, yang dipromotori oleh Bakti Budaya Djarum Foundation PT Djarum Kudus, yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus di Hotel Kenari Kudus, Kudus, Jawa Tengah (Jateng), dua hari, beberapa waktu yang lalu, tidak hanya mendapatkan ilmu-ilmu keteateran. Akan tetapi, ada “buah-buah” kebaikan yang menurut saya dapat langsung dirasakan oleh, saya pikir, semua peserta workshop teater tersebut. Hanya karena semua peserta berorientasi pada materi keteateran, “buah-buah” kebaikan yang sejatinya dirasakan itu seakan-akan tidak ada. Para peserta hanya merasa mendapatkan ilmu perteateran. Di luar itu tidak didapatkan apa-apa.

Barangkali keadaan pikiran yang demikian tidak salah. Sebab para peserta diundang memang untuk mendapatkan ilmu-ilmu berteater. Tentang menulis, membedah, mementaskan naskah drama (teater), berakting, dan mempelajari artistik. Secara sederhana, kalau para peserta sudah memperoleh ilmu-ilmu itu berarti berhasil dalam mengikuti workshop tersebut. Tinggal bagaimana pengembangannya di komunitas teater masing-masing. Mempraktikkan ilmu yang didapat di dalam komunitasnya masing-masing, itulah yang menjadi harapan banyak pihak. Yang berarti ada efek positif terhadap keberadaan teater yang digumuli.

Di mata saya ada hal di luar itu yang didapat peserta. Katakanlah kalau ilmu perteateran itu sebagai hal yang pokok, ada hal yang mungkin dianggap tidak pokok juga didapat. Dianggap hal tidak pokok karena memang bukan orientasi/target. Diperolehnya ya bersamaan dengan berlangsungnya mengikuti workshop itu. Murid saya, yang mengikuti workshop, pada awalnya kurang percaya diri. Hampir-hampir semangatnya pupus (mengikuti) karena pasti di tempat workshop tidak akan dijumpai teman yang sudah dikenalnya. Akan tetapi, begitu telah bersatu dengan murid-murid dari sekolah lain, percaya dirinya mulai tumbuh. Keberaniannya semakin tampak ketika di hari terakhir dibentuk kelompok dan kebetulan anggota kelompoknya semuanya murid, tidak ada guru. Setiap kelompok, termasuk kelompoknya harus menyiapkan pementasan pendek.  
Di sinilah tumbuh rasa kebersamaan, kerja sama, dan semangat menggali kreativitas. Komunitas kecil yang dibentuk secara spontan menjadi media untuk saling berbagi dan menerima. Ide-ide muncul. Didiskusikan. Diputuskan. Sehingga kelompok yang terdiri atas murid-murid dari berbagai sekolah itu akhirnya mampu menyuguhkan sebuah pertunjukan yang tidak lebih buruk dari yang ditampilkan kelompok dewasa (ada guru, mahasiswa, komunitas teater tertentu, atau kelompok campuran). Murid saya ternyata menjadi lebih percaya diri, dan saya kira demikian juga murid-murid lain yang berasal dari sekolah lain. Mereka saling mengenal. Menjadi akrab satu dengan yang lain. Itu semua terlihat dari aktivitas yang mereka lakukan.

Hal yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh kelompok dewasa. Guru-guru, mahasiswa, anggota komunitas teater tertentu, termasuk anggota Teater Djarum (sendiri), satu dengan yang lain membangun hubungan akrab. Sekalipun berasal dari anggota komunitas teater yang berbeda, guru dari sekolah yang berbeda, hubungan begitu cair dan familiar. Ketika harus mempersiapkan pementasan pendek, misalnya, kebersamaan dan kerja sama benar-benar tampak. Mulai dari menyusun naskah, membagi-bagi peran, menyiapkan property, kostum, hingga bagaimana mengeset panggung. Semua terlibat berpikir kreatif.  Dan tidak diduga, ternyata guru-guru, yang tampaknya malu-malu berteater, saat itu berani tampil berperan, barmain drama dengan spontan dan tidak mengecewakan.
MENGASAH: Bersama mengasah kreasi
Bahkan, yang tidak boleh dilupakan adalah, melalui workshop itu, ternyata guru-guru bersepakat membentuk komunitas teater guru. Yang beranggotakan dari guru-guru yang saat itu ikut workshop. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bagi guru-guru yang lain. Bahkan, tidak harus berprofesi guru. Karyawan sekolah, termasuk tata usaha (TU) sekolah pun boleh bergabung.

Itulah sisi lain dari kegiatan workshop teater. Tidak hanya mendapatkan materi ilmu perteateran, tetapi (juga) memperoleh ilmu “hidup” bersama banyak orang yang beragam asal-usulnya. Barangkali karena keterbatasan saya, masih banyak sisi lain (positif) selama berlangsungnya workshop yang tidak “terbaca” pikiran dan benak saya.

2 komentar:

  1. Salam senyum. Apa yang Mas sampaikan diatas tidak jauh berbeda seperti yang saya alami. Sebagai tamu yang tidak diundang, saat itu bisa mengikuti di hari Minggu dari awal hingga selesai. Saya harus secara intens mengikuti gerak dan polah anak saya yang mengikuti workshop tersebut. Dengan harapan bisa ikut menjiwai secara total dalam seni pentas. Teruslah berkreatifitas.

    BalasHapus
  2. Terima kasih kunjungannya Pak Firdaus. Salam senyum juga.

    BalasHapus

""