Jumat, 02 Maret 2012

Sulit, Simpulan Isi Wacana


Gambar dari: novivalensiablog.blogspot.com
Salah satu soal Bahasa Indonesia yang diprediksikan keluar dalam ujian nasional (UN) 2012 adalah menemukan simpulan isi kutipan wacana. Simpulan, yang sering juga disebut kesimpulan, memang beberapa tahun terakhir ini keluar dalam UN mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia. Hanya, memang, terkait dengan simpulan ini, yang dimungkinkan keluar dalam UN 2012, tidak hanya menemukan/menentukan simpulan isi kutipan wacana, tetapi juga menentukan simpulan isi grafik.

Menurut pengalaman peserta didik saya dan memang atas pengakuan (kebanyakan) mereka, menentukan simpulan isi kutipan wacana lebih sulit dibandingkan dengan menentukan simpulan isi grafik. Pengakuan mereka itu kemudian kami (saya dan mereka) buktikan dengan mengerjakan soal-soal semacam itu. Kebetulan untuk mencari soal-soal yang semacam itu (sekalipun) dalam jumlah relatif banyak tidaklah sulit. Ada banyak buku kumpulan soal yang dapat menolong kami. Soal-soal itu kemudian mereka kerjakan. Dan, benar memang menurut banyak peserta didik, menentukan simpulan grafik (termasuk tabel) lebih mudah ketimbang menentukan isi kutipan wacana.

Saya pun akhirnya mengiyakan pendapat mereka, setelah terlebih dahulu saya menimbang-nimbang kedua wujud soal itu dari ciri-ciri yang dapat ditemukan dalam keduanya, yang tampaknya memang berbeda. Wacana dan grafik/tabel, kedua-duanya memang memuat ide/gagasan. Hanya, memang,  ide/gagasan dalam wacana termuat dalam kata-kata dan kalimat-kalimat yang membangun wacana tersebut. Sementara itu, ide/gagasan dalam grafik/tabel termuat dalam lambang-lambang/simbol-simbol yang ada dalam grafik/tabel tersebut.  
Untuk dapat menentukan simpulan, baik berdasarkan kutipan wacana maupun grafik/tabel, peserta didik memang dituntut untuk mengerti terlebih dahulu isi/maksud kutipan wacana atau grafik/tabel tersebut. Jika peserta didik mengetahui isi/maksud kutipan wacana atau grafik/tabel, kemungkinan besar mereka dapat menentukan kesimpulannya. Akan tetapi, kalau sebaliknya peserta didik tidak memahaminya, boleh dipastikan mereka kesulitan menentukan kesimpulan yang dimaksud.

Kesulitan menentukan kesimpulan isi wacana diduga karena ide/gagasan (isi/maksud wacana) termuat dalam kata-kata dan/atau kalimat-kalimat, yang sering membutuhkan perenungan dan penafsiran tersendiri. Peserta didik harus memiliki kemampuan melogika/menalar hubungan kalimat-kalimat dalam wacana itu sehingga ditemukan makna yang utuh. Penemuan inilah yang membantu peserta didik dapat menentukan kesimpulan isi wacana. Berdasarkan uraian tersebut, agaknya  ada beberapa tahap yang harus ditempuh (peserta didik) setelah melakukan proses membaca wacana.  
Hal itu berbeda ketika peserta didik melihat grafik/tabel. Karena lambang/simbol (yang berupa angka-angka atau gambar-gambar) dapat secara langsung dimaknai, tidak perlu ditafsirkan terlebih dahulu. Grafik/tabel selalu memunculkan ide/gagasan yang jelas sehingga sangat kecil kemungkinan ada perbedaan persepsi pada diri peserta didik, yang hal itu sering terjadi ketika peserta didik menghadapi wacana.

Melihat kenyataan itu, penting kiranya peserta didik dimotivasi untuk giat membaca wacana dan sekaligus berproses menemukan isi/maksud wacana tersebut. Tindakan itu merupakan usaha terus berlatih, yang harus ditumbuhkembangkan pada diri peserta didik. Karena  “kebiasaan” yang tumbuh dari tindakan itu diyakini sangat membantu peserta didik dalam mengerjakan soal-soal, khsususnya yang terkait dengan simpulan wacana. 

2 komentar:

  1. saya sendiri sering kesulitan mengenai hal ini,
    karena wacana sering tidak standar.
    oh ya pak, blog jawi bapak kok sulit mau komentar

    BalasHapus
  2. Karena faktor apa ya, Pak? Padahal, di setelan (cathetandwija) sudah saya atur sedemikian rupa. Maaf, kalau Panjenengan sudah berusaha mengomentari, tetapi mengalami kesulitan.

    BalasHapus

""