Senin, 09 April 2012

Anak Menguasai Perihal Domestik Diperlukan Kesabaran Orang Tua


Gambar dari: cakangkung.multiply.com
Sebelum anak-anak mengenal hal yang bersifat publik, agaknya lebih baik jika dikenalkan hal yang bersifat domestik. Karena hal yang bersifat domestik merupakan lingkungan terdekat anak-anak. Sejak kecil mereka telah berada di lingkungan domestik. Boleh jadi akan lebih mudah merasuk pada perikehidupan anak-anak.

Apalagi hal-hal yang bersifat domestik itu senantiasa dilakukan orang tua di rumah. Melakukannya pun semaksimal mungkin. Rasanya memang (nyaris) tidak ada orang tua yang melakukan aktivitas domestik setengah-setengah. Dari hal-hal yang boleh dianggap sepele, misalnya meletakkan sandal di tempatnya, menaruh baju kotor pada tempatnya, mencuci tangan sebelum makan, tentu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Aktivitas-aktivitas itu dapat menjadi teladan sempurna dari orang tua untuk anak-anak. 

Dan, kita mengetahui bahwa teladan itu penting bagi anak. Anak dapat berbuat sesuatu boleh jadi karena sebelumnya melihat perbuatan itu dilakukan oleh orang tua (-nya) atau orang lain. Tidak mungkin melakukan sesuatu yang awalnya belum dia ketahui. Pasti mengetahui terlebih dahulu aktivitas itu, baru dia melakukan. Karenanya ketika pertama kali melakukan, anak dimungkinkan mengalami kesulitan. Tetapi toh lambat laun akan terbiasa dan dipastikan semakin sempurna.
Akan tetapi, di sinilah munculnya persoalan itu. Karena dalam melakukan aktivitas, anak membutuhkan waktu agak lama dan sering hasilnya kurang sesuai harapan orang tua, orang tua (akhirnya) sering mengabaikan pentingnya melibatkan peran anak dalam aktivitas domestik tersebut. Ya sudah, akhirnya anak tidak mengenal pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.

Kalau hal itu tidak (segera) disadari orang tua, anak tidak akan dapat menyapu dengan bersih lingkungan rumah, mencuci bersih piring, mengepel lantai, membersihkan kaca, dan menata tempat tidurnya sendiri, misalnya. Kenyataan itu, diakui atau tidak, akan menimbulkan kerugian, baik bagi orang tua maupun anak.

Orang tua (yang tidak dapat menggaji pembantu) akan mengalami kesibukan yang luar biasa. Dan kesibukan itu semakin lama semakin banyak seiring dengan semakin besarnya anak-anak. Karena dipastikan keperluan dan kegiatan mereka semakin banyak dan luas, yang berdampak pada bertambahnya pekerjaan keluarga. Sementara itu, karena anak-anak tidak memiliki “modal dasar” yang dibangun dalam keluarga sejak dini, dapat dipastikan mereka akan mengalami kesulitan beraktivitas ketika harus berada di lingkungan yang lebih luas.

Di sekolah, mereka tidak dapat menyapu dengan bersih, membiarkan letak meja dan kursi kurang rapi, mengabaikan hiasan kelas lepas pakunya, membiarkan laci meja penuh dengan sampah pembungkus permen atau jajan, beberapa contoh yang saya sebut, diakui atau tidak, merupakan dampak kurang terdidiknya anak-anak dalam menguasai aktivitas-aktivitas dalam keluarga.

Mendidik anak-anak dapat melakukan aktivitas-aktivitas domestik, itu bukan berarti mencetak anak memiliki mental kurang maju. Bukan. Bukan itu maksudnya. Tetapi, membekali mereka peduli terhadap hal-hal yang barangkali dianggap sederhana. Bukankah kepedulian itu dibangun dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu, yang dipastikan secara alami akan terbangun juga sikap peduli terhadap hal yang lebih besar?
Mari memulai mengenalkan anak-anak dengan sabar terhadap pekerjaan-pekerjaan rumah, yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan mereka. Dari hal-hal yang sederhana, mencuci tangan sebelum makan, mengambil remah-remah makanan yang jatuh di lantai, memindahkan barang yang terletak di bukan tempatnya ke tempat semestinya, mematikan televisi ketika sudah tidak dilihat, dan sebagainya. Jika kita (orang tua) dengan sabar mendidik mereka terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan itu dengan tertib, boleh dipastikan mereka memiliki “modal dasar” yang baik untuk hidup di tempat yang lebih luas, baik ketika mereka menjadi pemimpin maupun yang dipimpin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""