Sabtu, 23 Juni 2012

PLPG, Hari-hari Menjelang Usai Intensitas Kegiatannya Semakin Meningkat


WAJAH-WAJAH CERIA menjelang pembukaan PLPG
Mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) menjadi idaman banyak guru. Karena, begitu lulus PLPG, guru bersangkutan memiliki hak menerima tunjuangan profesi satu kali gaji pokok. Sekalipun, hingga kini, tunjangan profesi itu masih diterimakan secara rapel. Beberapa bulan diterimakan sekali. Ya tentu saja jumlahnya malah banyak. Bisa sampai belasan bahkan puluhan juta rupiah. Bagaimana guru-guru tidak “kemroyok” (berebut) ingin mengikuti PLPG. Kalau kemudian fakta yang didapatkan seperti itu, ya wajarlah jika guru-guru begitu merindukan segera mengikuti PLPG.

Sekalipun, sejatinya, ada konsekuensi yang harus ditanggung ketika menerima tunjangan profesi itu. Yakni, menjalankan profesi guru dengan sungguh-sungguh. Kalau dulunya melakukan tugas panggilan untuk membawa anak-anak bangsa ke depan lebih baik, kurang profesional.  Kini, seiring menerima tunjangan profesi, harus profesional. Guru dituntut mengajar lebih bermakna. Yang, dapat menjadikan siswa didiknya menjadi insan berkompeten. Insan yang memiliki peluang menikmati masa depannya secara baik oleh karena memiliki potensi tergali yang dibutuhkan dunia kerja.
Tuntutan itulah rupanya yang harus dipersiapkan guru lewat kegiatan PLPG. Guru-guru harus meng-upgrade kompetensinya. Keempat kompetensi, yakni kompetensi profesional, pedagogik, personal, maupun sosial, harus dioptimalkan. Dan, PLPG menjadi kawah candradimukanya guru-guru mengoptimalkan kompetensinya. Karenanya, kegiatan-kegiatan dalam PLPG berorientasi pada penumbuhan kompetensi guru.           
Seperti kegiatan-kegiatan PLPG yang kami ikuti di gedung Balai Pelatihan Pendidikan Khusus (BPPK), Jalan Elang Raya Nomor 2, Tembalang, Semarang, yang difasilitasi oleh IKIP PGRI Semarang sebagai penyelenggara PLPG Rayon 139. Semua peserta, yang jumlahnya lebih dari seratus guru, baik dari SMP, SMA, maupun SMK, dari berbagai daerah (di antaranya, Demak, Jepara, Kudus, Pati, dan Rembang), mendapat pendidikan dan latihan terkait dengan kompetensi bidang mata pelajaran (mapel) masing-masing.  Ada, guru mapel Bahasa Indonesia, Fisika, Matematika, IPS, Biologi, dan lainnya.


KESIBUKAN dalam salah satu workshop saat PLPG
Setelah acara pembukaan, yang difokuskan di aula BPPK Jawa Tengah (Jateng), yang bersebelahan dengan gedung SLB Negeri Semarang itu, disampaikan materi Kebijakan Umum, yang terkait dengan profesionalisme guru. Kemudian, semua kegiatan diadakan secara berkelompok menurut rombongan belajar (rombel) berdasarkan mapel. Rombel Matematika, misalnya, di ruang yang berbeda dengan rombel IPS. Demikian juga untuk rombel mapel lain, ditempatkan di ruang yang berlainan.
Dengan demikian, penggalian dan pengembangan kompetensi sesuai dengan mapel dapat dilakukan dengan maksimal. Pembelajaran dimulai dari hal-hal bersifat teoritis. Misalnya, cara menyusun silabus pembelajaran, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP),  lembar kegiatan siswa (LKS), bahan ajar, dan media pembelajaran, serta penilaian pembelajaran. Hal-hal yang bersifat teoritis itu disampaikan kurang lebih dalam waktu empat hari.
Pada hari-hari berikutnya, peserta PLPG disibukkan dengan kegiatan workshop (kegiatan yang bersifat praktik). Kegiatan ini menuntut adanya produk yang dihasilkan. Peserta harus dapat mengumpulkan produk itu sebagai portofolio. Workshop penelitian tindakan kelas (PTK), misalnya, harus menghasilkan proposal PTK. Demikian juga workshop penyusunan silabus, RPP, LKS, bahan ajar, media dan penilaian pembelajaran, peserta harus dapat mengumpulkan hasil kerjanya. Kami, tiap-tiap peserta, harus membuat rangkap dua.   

Karenanya, silabus, RPP, LKS, bahan ajar, media dan penilaian pembelajaran berasal dari dua kompetensi dasar (KD). KD yang dikembangkan ke dalam Silabus, RPP, bahan ajar, media dan penilaian pembelajaran itu dipilih oleh peserta sendiri. Ada kebebasan peserta untuk memilih KD yang dinginkan. Peserta satu dengan yang lain dapat bermusyawarah dalam memilih KD agar berbeda. Sangat kecil kemungkinan peserta berangkat dari KD yang sama. Pun demikian untuk menyusun proposal PTK, peserta juga diberi kebebasan dalam memilih judul.   Semua hasil workshop itulah yang dibuat sebagai portofolio, sebagai bagian yang dinilai oleh asesor. Bagian yang lain adalah nilai praktik. Nilai praktik didapatkan dari hasil workshop yang dipraktikkan saat peer teaching (praktik mengajar). Dua kali praktik mengajar berdasarkan perangkat yang telah disusun dari dua KD yang telah dipilih. 
   
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan peserta PLPG, dari waktu ke waktu, dengan demikian intensitasnya semakin meningkat. Di hari-hari awal, misalnya, peserta hanya mendapatkan ilmu secara teoritis. Memasuki hari-hari pertengahan, peserta disibukkan tugas yang relatif banyak. Beberapa hari menjelang praktik mengajar, menyelesaikan tugas sampai larut malam. Bahkan, banyak juga peserta yang mengerjakan tugas hingga subuh sampai pagi hari. Semalam suntuk tidak tidur. Karena, hasil pekerjaan harus segera selesai. Jika tidak segera selelsai pasti tertumpuki kegiatan dan tugas berikutnya. Intensitas kegiatan yang demikian itu yang membuat peserta PLPG merasa kelelahan.  

Akan tetapi, oleh banyak peserta, kelelahan tidaklah membuat pusing kepala. Semua kegiatan dilakukan oleh sebagain besar peserta dengan sukacita dan bahagia. Karena, di samping akan menjadi guru yang profesional, begitulah kira-kira, juga akan memperoleh tunjangan profesional, yang besarannya cukup menggiurkan. Sekalipun sementara (harus) meninggalkan isteri atau suami juga anak-anak selama beberapa hari.   Terus bersemangat, tuntaskan sampai titik akhir perjuangan, Ibu dan Bapak guru!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""