Senin, 25 Juni 2012

PLPG, Siapa Takut?


BELAJAR DAN DISKUSI dalam kamar
Cerita yang berkembang di kalangan guru, Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) menyeramkan. Menakutkan dan menegangkan. Karena, dikatakan dari mulut ke mulut (entah bermula dari mulut siapa) kegiatan yang dihadapi saat PLPG begitu banyak. Sehingga menjadi beban tersendiri. Barangkali memang begitu. Terutama, bagi kita, guru, yang kurang peduli terhadap administrasi mengajar. Bukankah pada realitasnya banyak guru yang memang pandai mengajar di depan siswa didik, tetapi kurang peduli terhadap administrasi yang harus dikerjakan terlebih dahulu sebelum beraktivitas mengajar?

Sebab, yang menjadi “santapan harian” dalam PLPG memang terkait dengan penyusunan administrasi mengajar, yang sering terabaikan oleh guru. Menyusun silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar kegiatan siswa (LKS), bahan ajar, penilaian pembelajaran, dan yang sejatinya perlu juga dikerjakan oleh guru, yaitu membuat penelitian tindakan kelas (PTK).
Kalau guru sudah membiasakan (diri) bergelut dengan aktivitas-aktivitas persiapan pembelajaran dan pengembangan profesi semacam itu, dipastikan ketika mengikuti PLPG tidak merasa terbebani. Kegiatan PLPG tentu akan dihadapi dengan sukacita. Modal yang sudah dimiliki (oleh karena kebiasaan di sekolah tertib administrasi) akan meringankan beban yang ada di PLPG.
Seperti ketika peserta PLPG mengikuti peer teaching (praktik mengajar). Sebagian besar tidak merasa terbebani. Karena, mengajar memang sudah menjadi “santapan sehari-hari” di sekolah. Sekalipun ada (juga) satu-dua guru yang merasa masih terbebani ketika kejatuhan jadwal praktik mengajar. Sebetulnya kekhawatiran, ketakutan, dan kehilangan kepercayaan diri itu berawal dari kurang siapnya administrasi pembelajaran. Kekurangsiapan administrasi pembelajaran boleh jadi berakibat pada kurangnya menguasai materi pembelajaran. Inilah yang sering menjadikan guru bregidik (takut) ketika diminta praktik mengajar di hadapan asesor/instruktur.


ACAK-ACAKAN di keseharian selama PLPG
Persoalan tersebut (kekhawatiran, ketakutan, dan kehilangan kepercayaan diri) sejatinya memiliki wadah. Ada tempat efektif memecahkan persoalan itu. Teman-teman seperjuangan di PLPG memiliki beban yang sama bukan? Merasa senasib dan sepenanggungan bukan? Dalam kondisi seperti itu, sangat mungkin muncul sikap-sikap peduli antarteman. Dan, kenyataan yang terjadi memang demikian. Mudah merasa terpanggil untuk membantu teman yang mengalami kesulitan. Sehingga, semestinya tidak perlu berpikir begitu berat manakala saat PLPG menghadapi tugas-tugas yang ada. Antarteman dapat saling membantu. Sekalipun berasal dari daerah, sekolah yang berbeda, jenis kelamin tak sama, dan semula tak saling mengenal, semangat untuk saling membantu tumbuh baik.
Kepedulian antarteman tidak hanya terbatas pada tugas-tugas yang harus dikerjakan. Tetapi, terkait dengan kebutuhan sehari-hari, misalnya, makan, minum, mandi, pergi membeli kertas dan keperluan lainnya, bahkan ketika ada yang sakit, sikap peduli itu tumbuh dengan spontan. Jadi, kurang pada tempatnya jika rasa takut, minder, dan khawatir itu dibiarkan mengganggu benak guru-guru yang sedang ber-PLPG.
Adanya asesor yang agak disiplin, cerewet, dan “usil” (terkesan selalu mencari-cari kesalahan), yang kebanyakan menjadi sumber ketakutan, itu hal wajar. Selalu ada dua sisi, misalnya, lembut dan keras, disiplin dan kompromis, dan sebagainya. Menghadapi kenyataan seperti itu dengan tetap tenang hati oleh karena banyak kawan yang serasa, diharuskan. Tidak perlu berkecil hati. Tetap saja berbesar hati. 

Yang penting selalu menyelesaikan tugas tepat waktu, betapa pun hasilnya tidak sempurna. Perlu kebesaran hati karena ketidaksempurnaan hasil sering mendapat teguran dari asesor. Bahkan ada juga yang nada dan kata-kata (teguran) asesor “menyakitkan” hati. Mengerjakan tugas-tugas PLPG secara ideal menjadi keinginan banyak  guru peserta PLPG. Tetapi, keidealan jangan menjadi ekspektasi yang berlebihan. Sebab, jarang tugas dapat dikerjakan secara sempurna dan menghasilkan hal yang sempurna dalam kondisi seperti yang terjadi di PLPG karena betapa pun suasana hati dan pikiran kurang nyaman. Apalagi sudah jauh dari keluarga dan banyak kegiatan, yang selalu datang dan pergi.

Menyisakan tugas, akan sangat membebani. Tugas hari itu, hari itu juga harus diselesaikan. Tidak boleh menunda-nunda tugas yang ada. Ini tips yang tepat untuk peserta (yang akan) mengikuti PLPG. Agar ketenangan jiwa tetap terjaga. Puncak-puncak kesibukan dan kerilekan selalu ada. Hari-hari pertama biasanya tenang-tenang saja. Hari-hari berikutnya agak menggoda. Hari kemudiannya menyibukkan. Lalu melegakan. Ada alur alamiah yang dihadapi.
SEHABIS peer teaching bersama Bu Suci, salah seorang asesor
Oleh karena itu, ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, dan rasa-rasa destruktif lainnya jangan sampai diberi tempat bersemayam dalam diri. Enyahkan semua rasa “jahat” itu dengan cinta dan tenang. Betul, cinta dan tenag. Semua pasti terlampaui dengan nikmat. Memanfaatkan kamar istirahat (tidur), misalnya, untuk belajar, berdiskusi, simulasi, dan membangun perasaan besar adalah obatnya.         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""