Senin, 09 Juli 2012

Menghargai Waktu Libur


Gambar diambil dari shoppingandnews.com
Libur sekolah tinggal seminggu lagi. Waktu yang mungkin dimanfaatkan anak-anak untuk mempersiapkan masuk sekolah. Mengubah posisi meja belajar. Memilah-milah buku. Mana yang masih dipakai dan mana yang tidak. Melengkapi buku-buku dan peralatan sekolah yang masih kurang. Dan,  barangkali belum secara serius belajar. Sehingga suasana nyaman dari sisi fisik dan psikis boleh jadi masih dirasakan anak-anak.

Oleh karena itu, sangat efektif waktu tersebut dimanfaatkan untuk membangun komunikasi lebih akrab dalam keluarga. Anak-anak diajak berdiskusi tentang kebutuhan-kebutuhan sekolahnya. Mereka diajak memerinci kebutuhan sekolah yang masih diperlukan dan harus dilengkapi. Tidak cukup hanya dibelikan. Tetapi mereka diajak untuk mendata. Melengkapinya secara bersama-sama. Pergi ke toko atau pasar bersama. Bahkan jika kebutuhan sekolah sudah terlengkapi, boleh juga mendiskusikan hal lain terkait dengan keberadaan keluarga.

Tentu lebih baik jika tindakan tersebut telah dilakukan sejak awal liburan. Karena waktu yang tersedia sangat leluasa. Sehingga komunikasi yang terbangun lewat kegiatan-kegiatan keluarga lebih intens. Bersih-bersih rumah bersama-sama. Menata perabot rumah tangga bersama-sama. Mencuci peralatan masak, makan, pakaian, dan lainnya secara bersama-sama. Komunikasi fisik dan psikis, dengan demikian,  berlangsung tidak terburu-buru.   
Komunikasi yang demikian dampaknya akan sangat terasa. Anak-anak akan dapat memasuki persoalan-persoalannya lebih mendalam. Tidak hanya mengetahui secara sepotong-sepotong perihal keluarga. Dengan begitu memungkinkan mereka terlibat dalam diskusi/aktivitas keluarga lebih sungguh. Demikian juga orang tua, akan memasuki “dunia” putra-putrinya secara jelas, tidak samar-samar. Keterlibatan orang tua dalam keberadaan anak-anak dapat dirasakan langsung. Diakui atau tidak, kenyataan itu mampu membangun kepribadian anak lebih baik.  
Ketika musim masuk sekolah, tindakan itu sulit dilakukan. Karena anak-anak sudah disibukkan kegiatan belajar. Boleh jadi dari pagi hingga sore, anak-anak tidak istirahat. Pagi hari kegiatan belajar di sekolah. Sore hari kegiatan ekstrakurikuler, di samping mungkin ada tugas atau les. Sehingga praktis anak-anak tidak memiliki waktu bebas.

Jika ada waktu bebas (seberapa pun),  dimanfaatkan untuk beristirahat. Mungkin tidur. Mungkin melihat televisi untuk menghibur hati. Kalau sudah begitu, yang kemudian sering terjadi adalah mereka tidak mau “diganggu”. Waktu bebas yang mereka miliki dimanfaatkan sesenang-senangnya. Dan, bukan mustahil akan mengabaikan permintaan orang (termasuk orang tua atau saudara) untuk suatu kegiatan, misalnya. Kalau pun melakukan, barangkali hanya setengah hati. Sebab, mereka kehilangan kenyamanan fisik dan psikis oleh karena direbut kesibukan sekolah.

2 komentar:

  1. dipakai untuk istirahat dan refreshing...:)

    BalasHapus
  2. Setuju, Sahabat! Salam kenal. Terima kasih telah berkunjung dan memberi komentar.

    BalasHapus

""