Senin, 02 Juli 2012

Mengondisikan Adik-Kakak Belajar dan “Bekerja” Bersama


BERSEMANGAT mencuci sepatu dan sandal kotor
Tentu karena muncul dari (dalam) benak sendiri. Saya merasa tidak menyuruhnya. Ibunya tentu juga tidak karena saat itu sedang bekerja. Entah kalau sebelum pergi bekerja, ibunya telah berpesan terlebih dahulu  agar sepatu dan sandal-sandal yang kotor harus dicuci.

Pagi itu, di hari libur sekolah, si sulung mengajak adiknya mencuci sepatu dan beberapa sandal kotor. Kotor oleh debu yang menempel. Karena di musim kemarau (seperti ini) memungkinkan debu beterbangan ke mana-mana, termasuk akhirnya melekat pada sepatu dan sandal, yang tempatnya memang berada di bawah, yang bersentuhan langsung dengan debu tanah. Kalau tidak dibersihkan (dikebut-kebutkan atau dicuci) tentu sepatu dan sandal cepat kusam. Membuat orang malas memandang apalagi memakainya.

Kesengajaan melibatkan si bungsu turut “bekerja” sebagai hal yang menarik. Apalagi tentu disadarinya, adiknya tak akan mampu membantu maksimal. Bahkan bukan mustahil justru sebaliknya. Mengganggu. Karena anak kecil biasanya senang kecek (bermain air, Jw).
Akan tetapi, yang terlihat tidak begitu. Si bungsu (ternyata) tidak mengganggu. Ia mengikuti aktivitas yang dilakukan kakaknya. Ketika kakaknya menyikat sepatu, ia pun ikut menyikat sepatu. Ketika kakaknya mencelup-celupkan sepatu ke air dalam ember, ia pun mengikuti. Bahkan beberapa kali terlihat si bungsu disuruh kakaknya menyalakan dan mematikan kran air sesuai keperluan.
Ada proses belajar yang terjadi di dalamnya. Si bungsu belajar dari kakaknya. Bagaimana menyikat sepatu yang kotor, mencelupkannya ke air dalam ember. Yang tentu (kemudian) dilihatnya sepatu menjadi bersih, sementara air di ember menjadi kotor. Air kotor di ember dibuang dan diganti dengan air bersih yang dicurahkan dari slang yang ujungnya melekat pada kran. Si bungsu turut berperan dalam semua proses itu. Terjadi proses pembelajaran yang alamiah, yang tidak membosankan. Memungkinkan kompetensi si bungsu bertumbuh. Kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik berkembang secara bersamaan. Itu di satu sisi.

Di sisi lain, kakaknya sudah melakukan sebuah “pekerjaan” yang berarti bagi dirinya. Sepatu dan sandal-sandal kotor (miliknya dan milik adiknya) dicuci. Pekerjaan sederhana, yang memang harus sudah dikenalinya  sejak dini. Mengenali apa yang dipakainya menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Hal-hal yang sederhana, yang dapat ditangani sendiri, dimengerti dan diselesaikan. Anak-anak memang sudah memiliki bagiannya masing-masing. Mengenali tanggung jawab apa yang menjadi bagian dari keseharian hidupnya.
BEKERJA SAMA kakak dan adik
Lebih jauh, si sulung sudah memerankan dirinya menjadi guru sekaligus teman belajar dan “bekerja” bagi adiknya. Adiknya dapat belajar dari apa yang dilakukan kakaknya. Adiknya mendapat “ilmu” baru, yang tentu bermanfaat bagi pertumbuhan jiwanya. Dan sekaligus “pekerjaan” yang bersentuhan dengan dirinya dan adiknya dapat dirampungkan sekalipun mungkin belum sempurna.

Mengondisikan ruang belajar dan “bekerja” bagi anak-anak secara bersama yang memerdekakan barangkali penting untuk diperhatikan. Karena belum tentu anak dapat “menciptakan” sendiri kondisi seperti itu secara teratur. Dibutuhkan kepekaan orang tua karena kondisi tersebut (diyakini) dapat mencuatkan potensi anak secara merdeka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""