Rabu, 11 Juli 2012

Merencanakan MOPD yang Mencerdaskan


Gambar diambil dari bisnis.jateng.com
16, 17, dan 18 Juli hari-hari pertama masuk sekolah. Baik bagi peserta didik baru (PDB) maupun yang lama. Khusus untuk PDB, tiga hari pertama masuk sekolah dimanfaatkan untuk memasuki masa orientasi peserta didik (MOPD). Intinya, waktu pengenalan lingkungan sekolah terhadap PDB. Yang dimaksud lingkungan sekolah dalam hal ini di antaranya meliputi sarana prasarana, aktivitas pembelajaran, ekstrakurikuler, fasilitas, organisasi, guru-guru, dan karyawan sekolah.

Melalui pengenalan lingkungan sekolah, diharapkan begitu memasuki semua aktivitas pembelajaran di sekolah, PDB tidak mengalami kecanggungan. Mereka dapat mengikuti semua aktivitas pembelajaran dalam suasana benak yang nyaman dan sejahtera.

Akan tetapi, MOPD yang melibatkan peran organisasi siswa intra sekolah (OSIS) sering dipersepsi kurang tepat. Kekurangtepatan persepsi itu terlihat pada kegiatan-kegiatan yang dirancang OSIS, yang harus dilakukan oleh PDB. Misalnya, PDB diminta memakai pita warna-warni bagi yang putri, memakai topi kertas dengan rumbai rafia bagi putra saat baris-berbaris. Di samping itu, masih sering dijumpai gaya bicara yang “keras menghentak-hentak” yang, disadari atau tidak, membuat keder PDB.

Menghapus tradisi
Kenyataan itu boleh jadi akibat tradisi yang turun-temurun. Ketika pengurus OSIS masih sebagai PDB diperlakukan pengurus OSIS (pendahulunya) dengan cara begitu. Hal yang sama akhirnya dilakukan untuk PDB yang mereka ampu selama MOPD. Sepertinya berlaku hukum “pembalasan”, sekalipun kepada adik tingkat. Kalau hal itu dibiarkan terus terjadi, selamanya akan mengalami hal serupa. Angkatan pendahulu akan “memperdaya” angkatan berikutnya, dan begitu seterusnya.
Padahal, perlakuan tersebut tidak membangun kepribadian. Karena PDB mengalami kekurangnyamanan benak. Jiwanya tertekan. Dengan demikian tidak muncul keberanian. Tidak tumbuh kreativitas. Mereka cenderung pasif. Bahkan, bukan mustahil mereka mencari aman bagi diri sendiri. Sikap-sikap peduli terhadap sesama/teman tidak terbentuk. Miskin diskusi. Kebersamaan hilang seiring munculnya sikap egois.
Oleh karena itu, perlu ada ikhtiar menghapus tradisi tersebut. Caranya, ketika OSIS merencanakan kegiatan MOPD perlu ada pendampingan dari guru urusan/bagian kesiswaan. Tidak mengambil alih peran OSIS. Pendampingan bukan berarti membatasi kreativitas OSIS. Akan tetapi, semua kegiatan perlu didiskusikan hingga ditemukan keputusan terbaik. Bahkan, jika diperlukan melibatkan guru BK dan kesenian.

Kegiatan yang mencerdaskan
Kerjasama dari berbagai pihak ini tetap memberi OSIS memiliki peran penuh. Sehingga kreativitas OSIS tetap terwadahi. Pendampingan urusan kesiswaan, yang melibatkan guru BK dan kesenian memiliki maksud membantu OSIS menemukan ide-ide kreatif yang dapat dilakukan selama MOPD. Baik dari sisi psikologis maupun estetis dapat tergali. Sehingga ide-ide kreatif yang dapat membangun kecerdasan PDB dapat diterapkan.
Dengan begitu, kegiatan selama MOPD menjadi bermakna, baik bagi PDB maupun OSIS. PDB merasa bisa menikmati setiap kegiatan yang dilakuakan. Kegiatan itu dapat merangsang potensi-potensi diri berkembang dalam bingkai suasana benak riang-gembira, tidak tertekan. Suasana awal yang “menyejukkan” seperti itu dipahami bisa  melecitkan potensi diri, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik berkembang pesat. PDB akhirnya merasa menemukan tempat belajar yang menjanjikan.
OSIS pun merasa senang kegiatan yang dibuat berhasil. Bukankah itu menandakan bahwa OSIS pun cerdas dalam meramu kegiatan MOPD? Kecerdasan-kecerdasan itulah yang seharusnya diutamakan dalam ritual MOPD setiap tahunnya. Dengan demikian, MOPD bukan tahap pembelajaran yang “menakutkan”, tetapi menyenangkan sehingga selalu dinanti para PDB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""