Kamis, 16 Agustus 2012

Pak Pardi, Guru yang Memahami Karakter Siswa


Pak Pardi, panggilan akrab Pak Supardi (kiri) sedang berdiskusi dengan sesama peserta workshop di LPMP Jateng (Selasa, 14/8)
Tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman salah satu teman workshop, yang diceritakan kepada saya. Sekalipun pengalaman mendidik di Anggi, Manokwari, Papua Barat, Irian Jaya, yang dilakukan beberapa tahun lalu, belum banyak yang diceritakan kepada saya, saya tertarik pengalaman itu. Belum banyak diceritakan karena waktu pendek. Saat selesai mengikuti salah satu sesi workshop di malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB, kami bertemu saat sama-sama membeli mi karena perut sudah terasa lapar. Apalagi udara malam membuat badan terasa dingin. Menikmati mi yang masih hangat dapat membuat tubuh terasa hangat. Dan, kondisi demikian membuat badan menjadi segar. Yang tentu membuka peluang bersemangat membangun komunikasi antarsesama, yang belum banyak saling mengenal, untuk dapat saling berbagi pengalaman.   

Pengamalan yang diceritakan Pak Pardi, begitu dia menyebut dirinya di depan murid-muridnya ketika mengajar di sebuah SMP Negeri di Anggi, Manokwari, rasanya tidak adil jika tidak saya bagikan kepada pembaca, khususnya guru-guru. Siapa tahu pengalaman itu menginspirasi kita, guru, untuk menjadi guru yang lebih profesional.

Saat menulis (tulisan) ini saya tidak meminta izin kepada Pak Pardi. Akan tetapi, semoga jika suatu ketika Pak Pardi membaca tulisan ini tidak merasa tersinggung. Pak Pardi tidak protes. Pak Pardi tidak menolak tulisan ini saya publikasikan. Karena betapapun, pengalaman Pak Pardi, menurut saya, sangat bermanfaat, baik bagi guru maupun profesi selain guru.
Namun, kemudian terbersit di benak dan pikiran saya untuk segera mengkonfirmasikan tulisan ini kepada Pak Pardi jika selesai. Ya saya berjanji (dalam hati) jika tulisan ini selesai, sebelum kami berpisah dalam kegiatan workshop, saya akan tunjukkan tulisan ini kepadanya. Semoga Pak Pardi berkenan. Berkenan pengalamannya ini saya bagikan kepada pembaca.
Sekalipun, Pak Pardi juga menceritakan pengalaman mengajarnya di tempat yang baru (di Temanggung, Jawa Tengah), saya hanya akan membagikan pengalaman Pak Pardi saat mengajar di Anggi, Manokwari, Papua Barat. Itu saja, saya hanya akan membagikan pengalaman khususnya ketika mengajar di SMP di Anggi itu. Tidak membagikan pengalaman mengajarnya di SMP di Angso, Jayapura, yang dilakukan hanya beberapa waktu setelah pindah dari Anggi, Manokwari.

Pak Pardi menceritakan, pernah suatu ketika menerima siswa baru di SMP Anggi, bapak dan anak dalam satu kelas. Bapak itu telah berumur 35 tahun ketika itu, sementara anaknya usia anak sekolah. Akan tetapi, mereka dapat belajar bersama. Untuk menciptakan hubungan antara Pak Pardi (guru) dan bapak (murid), yang sebenarnya sebagai kepala suku, itu tetap baik, Pak Pardi menyampaikan sebuah pernyataan. Demikian kurang lebih pernyataan Pak Pardi, “Bapak ketika di sekolah menjadi murid saya, maka harus memanggil saya Bapak Guru; tetapi ketika berada di kampung, Bapak sebagai kepala suku, Bapak tidak perlu berlaku sebagai murid saya tetapi sebagai pimpinan.”
Dan, kata Pak Pardi, bapak yang menjadi murid didiknya itu menerima apa yang dinyatakan Pak Pardi. Sehingga ketika berada di sekolah, sekalipun berada di antara murid yang lain yang lebih muda karena layak sebagai anak-anaknya, berlaku sebagai murid sebenanrnya. Mematuhi aturan sekolah. Menghargai gurunya sebagai pengajar, yang membuatnya pintar. Tidak berani melawan guru. Tidak berani melawan perintah guru, sejauh guru itu menghargainya.
Ada hal yang seolah tidak masuk akal, tetapi dilakukan Pak Pardi. Yakni, ketika ada murid yang berbuat salah, Pak Pardi tidak menasihati secara verbal (dengan kata-kata). Sebab, menasihati secara verbal, oleh masyarakat setempat (terutama para murid) dianggap memarahi mereka. Dan, mereka dapat saja balik berbuat jahat kepada guru. Karenanya, Pak Pardi cukup memukul mereka secara fisik, meninju (mungkin keras) salah satu bagian tubuhnya, misalnya, lantas mengatakan, “Bapak pukul kamu, tahu kesalahanmu?”. Murid itu lantas meminta maaf dan sekalipun tidak ada perintah apa pun, ia langsung berbuat sesuatu yang positif, misalnya mengambil kayu bakar, mencuci piring, atau menyabiti rumput. Perbuatan itu mereka anggap sebagai hukuman. Dan, itu dilakukan dengan suka hati.
Sementara itu, di saat tertentu, ketika Pak Pardi sedang melakukan senam bersama murid-murid, salah satu teman guru mendapati murid yang terlambat tiba di sekolah. Guru itu lantas menasihati murid tersebut. Beberapa menit kemudian, murid itu lari dan datang kembali ke sekolah marah sembari membawa parang panjang dan mata panah. Untung saja, Pak Pardi menghadang murid itu. Sehingga urunglah niat kurang baik murid itu. Bahkan, langsung meminta maaf kepada Pak Pardi.
Melihat kebiasaan masyarakat sekitar berburu ikan, Pak Pardi membelikan jaring ikan (jala) untuk mereka. Kebetulan di Anggi, kata Pak Pardi, ada danau yang dikembangbiakkan ikan oleh pemerintah setempat untuk dimanfaatkan warga. Jala yang diberikan kepada warga itu harus digunakan secara bergilir. Sehari warga ini, sehari warga itu. Sehingga dalam waktu tertentu, semua warga kebagian memanfaatkan jala. Sengaja dibelikan jala yang mata jaringnya (lubang-lubang jaringnya) lebar agar ikan yang besar saja yang terperangkap, sedang yang masih kecil lolos. Ikan besar tertangkap, ikan kecil tetap bisa hidup. Ketika Pak Pardi menyerahkan jala itu kepada warga, ia berpesan agar setiap dapat tangkapan ikan, Pak Pardi diberi satu ikan. Akan tetapi, setiap kali warga mendapat ikan, Pak Pardi mendapat kiriman ikan satu sampai dua kilo.    

Pada dasarnya guru sangat dihargai di mata masyarakat, begitu kata Pak Pardi. Sampai-sampai jika diketahui murid atau orang tua murid ada guru membawa barang, entah dipanggul, dijinjing, atau diangkat, murid atau orang tua murid itu akan meminta barang tersebut untuk dibawakan. Bapak guru tidak boleh lelah, begitu Pak Pardi menirukan umumnya kata-kata mereka. Karena bapak guru telah memintarkan anak-anak. Dan, kalau pun seharusnya membawa barang itu membutuhkan biaya, bapak guru tidak ditarik biaya, seperti tentara atau pejabat/pegawai lain. Sampai demikian itulah sikap menghargai guru.

Perjuangan Pak Pardi terhadap anak-anak di Anggi tidak hanya sampai di situ. Pernah suatu ketika, entah sudah berapa kali, usai ujian nasional harus menempuh perjalanan panjang demi masa depan anak didiknya. Pak Pardi harus mengantarkan lembar jawaban ujian ke tingkat kabupaten menempuh waktu tiga hari satu malam. Menjadi guru di Anggi, menurut Pak Pardi, memang harus bernyali besar dan penuh perhatian. Tidak takut menghadapi tantangan. Kalau murid sudah ikut ujian, tuntutannya lulus. Kalau sampai ada yang tidak lulus, misalnya, guru akan menghadapi persoalan dengan murid atau orang tua/wali murid. Bahkan, tidak mustahil dimarahi oleh murid atau orang tua murid tersebut.

Namun, ada satu cerita lucu sekaligus mendidik. Orang-orang pedalaman di Manokwari (mungkin di seluruh pedalaman Papua) memiliki adab yang boleh dibilang tinggi. Diceritakan Pak Pardi, sudah jamak bagi laki-laki pedalaman Manokwari akan begitu sangat malu andai koteka yang dikenakan tiba-tiba lepas dari tempatnya. Kalau pas kebetulan peristiwa itu terjadi di keramaian (banyak orang), ia akan langsung menjatuhkan badannya secara tengkurap untuk menyembunyikan auratnya. Sampai menunggu ada kenalan yang menjumpainya, yang (dipastikan) langsung menolong mengambil koteka itu, lantas membantu memasangnya. Atau kalau seketika tidak ada orang, ia akan mengambil koteka itu sendiri dan memasangkan secara hati-hati dengan tetap menjaga “kerahasiaan” aurat.
Bahkan, kata Pak Pardi, orang-orang pedalaman itu tidak mau sembarang buang air seni sekalipun hanya mengenakan koteka. Mereka akan sembunyi dari orang lain ketika hendak melakukannya. Tidak seperti yang biasa kita banyak lihat di perkotaan, ada banyak kaum lelaki dengan sembarang membuang air seni di balik mobil, misalnya, sekalipun di sekitar banyak orang lalu lalang. Sebaliknya, mereka, orang-orang pedalaman, itu buru-buru menghindar bila ketika sedang buang air seni dilihatnya ada orang lain di sekitarnya.
Pengalaman lain lagi. Ada banyak orang pedalaman itu jauh-jauh dari tempat mereka tinggal memanggul pisang setandan yang sudah masak dibawa ke pasar. Sampai di pasar, pisang itu dijual dengan hanya mendapatkan uang yang cukup untuk membeli lima pisang goreng. Bagi mereka, kata Pak Pardi, itu sudah cukup.

Ini (tentu sebagian kecil) pengalaman menarik Pak Pardi, yang menginspirasinya hidup bersahaja hingga sekarang. Pak Pardi, di masa mudanya terlambat masuk SMA di Papua. Karena ketika itu sudah berusia 25 tahun. Begitu lulus SMA, ia masuk di Universitas Cendrawasih (Uncen), Irian Jaya, Diploma Dua Matematika. Sukses selalu Pak Pardi!

2 komentar:

  1. Pagi Pak Kowo. menarik sekali tulisan ttg pengalaman Pak Pardi saat mengajar disana dengan kebiasaaan, tata cara, pola pikir yang (menurut saya) masih sederhana, namun mengandung nilai positif bagi saya yang tinggal di kota yang semuanya serba ada. seperti pepatah " pengalaman adalah guru yang baik " Mg bisa jadi guru juga bagi mereka yang terbiasa hidup "wahh". Semoga ! Teman seperjuangan Pak Kowo,

    BalasHapus
  2. Pak Pardi oh Pak Pardi...kapan kita bersua lagi. Cerita yang menarik membuat iri, karena sesama guru Pak Pardi memiliki segudang pengalaman di pedalaman dari bagian NKRI tercinta. Sukses buat pak Pardi dan penulisnya!

    BalasHapus

""