Minggu, 05 Agustus 2012

Siswa Berzakat, Membangun Kepedulian bagi Sesama


Gambar dari sman1kayuagung.sch.id
Menjelang libur akhir Puasa dan Lebaran tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, siswa (peserta didik) hampir di semua sekolah diajak berzakat. Seperti yang dilakukan di SMP 1 Jati, Kudus, Jawa Tengah (Jateng). Mulai kemarin, Jumat (3/8), peserta didik, kelas VII, VIII, dan IX mulai terlihat membawa beras dalam tas plastik ke sekolah. Masing-masing anak membawa satu bungkus. Tas-tas plastik berisi beras tersebut dikumpulkan dalam salah satu ruangan, per tingkat kelas.

Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk mempermudah pengelolaan. Mudah pengecekannya. Karena semua peserta didik diminta untuk berzakat. Jadi, kalau ada peserta didik belum membawa zakat, dapat diketahui. Mereka memang diwajibkan. Bukankah mereka lebih beruntung ketimbang anak-anak panti asuhan, misalnya? Membangun kepedulian terhadap sesama mereka yang hidup di panti asuhan seperti itulah di antaranya yang ditanamkan dalam benak peserta didik melalui berzakat.

Pengurus organisasi siswa intra sekolah (OSIS) dengan dipandu oleh guru Pendidikan Agama Islam berperan sebagai pengelola zakat tersebut. Pengurus OSIS yang beragama selain Islam pun turut ambil bagian. Bekerja sama, bahu-membahu, tanpa melihat perbedaan agama. Hal itu sengaja dilakukan agar terbangun sikap terbuka di antara mereka (terlebih) dalam hal membangun kepedulian bagi sesama.
Sementara anak-anak mulai mengumpulkan beras, beberapa hari terakhir ini telah terlihat beberapa pengurus panti asuhan datang ke sekolah. Kedatangan mereka menginformasikan panti asuhan yang dikelolanya bersedia menerima zakat. Tradisi demikian telah berlangsung lama. Oleh karena itu, OSIS selalu membagi zakat itu untuk beberapa panti asuhan.  
Panti asuhan-panti asuhan yang mengajukan kesediaan menerima zakat itu, biasanya, ketika (waktunya) zakat dibagikan, mereka mendatangi sekolah. Mereka mengambil zakat di sekolah. Jadi, peserta didik, dalam hal ini pengurus OSIS, tidak perlu mengantarkan zakatnya ke panti asuhan. Kenyataan demikian sudah berlangsung lama sekalipun mungkin lebih bermakna jika peserta didik (OSIS) datang ke panti asuhan-panti asuhan. Sebab dengan demikian, peserta didik mengetahui secara dekat seluk-beluk kehidupan anak-anak di panti asuhan. Yang, tentu sangat bermanfaat bagi peserta didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""