Senin, 13 Agustus 2012

Workshop Nasionalisme Guru dan Kepala SMP Se-Jawa Tengah


SERIUS dalam diskusi menyusun rencana pengintegrasian karakter dalam mapel
Tidak sedikit dijumpai penyimpangan hidup masyarakat Indonesia. Tidak hanya dialami generasi muda, tetapi dialami juga generasi tua. Adanya tawuran antarpelajar, tawuran antarmahasiswa, tawuranantarkelompok masyarakat, bahkan perseturuan antaranggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), tindak korupsi yang merambah di segala dimensi kehidupan, baik politik, budaya, hukum, pendidikan, maupun di dimensi hidup yang lainnya menjadi bukti yang tidak terbantahkan.

Fakta itu menunjukkan bahwa betapa bobroknya mental sebagian masyarakat Indonesia. Bobroknya mental sebagian masyarakat Indonesia yang demikian itu, diakui atau tidak, membuat kegalauan kita. Karena bukan mustahil jika kenyataan itu dibiarkan akan semakin berkembang. Bukankah hal yang negatif lebih mudah berkembang ketimbang hal yang baik?
Itulah yang barangkali membuat Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah (Jateng) berinisiatif mengadakan Workshop Pembinaan Nasionalisme Guru dan Kepala SMP se-Provinsi Jateng 2012. Workshop yang berlangsung sejak Minggu (12/8) sampai Rabu (15/8) diikuti oleh 105 peserta. Terdiri atas 70 guru dan 35 kepala sekolah. Jadi, setiap kabupaten/kota diwakili oleh dua guru dan satu kepala sekolah. Peserta sejumlah itu terbagi dalam tiga angkatan. Akan tetapi, ketiga angkatan itu pelaksanaannya digabung menjadi satu.   
Workshop yang dilaksanakan di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jateng, Jalan Kyai Mojo, Srondol, Semarang, itu bertujuan untuk (1) meningkatkan pemahaman pendidik terhadap pembelajaran nasionalisme melalui pengintegrasian materi nasionalisme dalam mata pelajaran (mapel)/aspek perkembangan di satuan pendidikan, (2) meningkatkan kemampuan dan kapasitas pendidikan guru dalam menyebarluaskan model pembelajaran nasionalisme di kabupaten/kota, dan (3) menyiapkan calon pelatih pembelajaran nasionalisme di kabupaten/kota di Jateng.
ANTUSIASME peserta  dalam mengikuti salah satu sesi, Senin (13/8)
Oleh karena itu, materi yang disampaikan oleh fasilitator, yang berasal dari unsur pejabat Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, UNNES, dan LPMP Jateng berisi tentang pengarahan program (1 jam), kebijakan pendidikan (2 jam), penilaian kinerja guru (PKG) dan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) (3 jam), pembinaan nasionalisme melalui jalur pendidikan (3 jam), strategi pembinaan nasionalisme dan pendidikan bela Negara (PBN) (6 jam), pengintegrasian nilai-nilai nasionalisme dalam pembiasaan (5 jam), pengintegrasian nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran (6 jam), pengintegrasian nilai-nilai nasionalisme melalui ekskul (5 jam), simulasi kebangsaan sebagai media pembinaan nasionalisme (5 jam), rencana tindak lanjut pembinaan nasionalisme di sekolah (3 jam), dan refleksi (1 jam).

Sekalipun workshop tersebut berlangsung di bulan Puasa, yang kebanyakan pesertanya menjalani ibadah Puasa, tetap berjalan dengan baik. Sejauh ini, peserta begitu antusias mengikuti setiap sesi kegiatan. Sekali waktu memang terlihat ada beberapa peserta yang mengantuk. Hal yang tentu biasa terjadi. Akan tetapi, hampir dapat dipastikan tidak ada peserta yang absen sejak awal hingga akhir kegiatan. Kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB berakhir 17.00 WIB. Istirahat sekali dari pukul 12.30 WIB hingga 14.00 WIB. Kebanyakan peserta memanfaatkan waktu istirahat untuk beristirahat (tidur) di kamar masing-masing.
Kegiatan sahur dan buka puasa dapat diikuti oleh peserta yang berpuasa tepat waktu. Mereka pun setiap petang menjelang malam dapat menjalankan ibadah tarawih bersama di masjid yang lokasinya berada di lingkungan LPMP. Sementara itu, peserta non-Muslim tetap dapat layanan sebagaimana mestinya, sejak pagi, siang, hingga malam. Sehabis tarawih, peserta masih harus mengikuti kegiatan workshop, sejak pukul 20.00 WIB hingga 22.00 WIB. Selepas kegiatan terakhir, peserta beristirahat malam.
Melalui kegiatan workshop tersebut diharapkan (1) ada peningkatan pengetahuan kajian teori dan metodologi dalam penghayatan arti nasionalisme, (2) dipahaminya pendekatan, strategi, model, dan teknis pembinaan nasionalisme melalui jalur pendidikan dalam pola pengintegrasian, (3) tersusunnya rencana tindak lanjut pembinaan nasionalisme melalui pola pengintegrasian  di satuan pendidikan di kabupaten/kota, dan (4) meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah yang dapat bermuara pada meningkatnya mutu pendidikan nasionalisme di Jateng.

Itu artinya, guru dan kepala sekolah yang menjadi peserta workshop memiliki tanggung jawab untuk menyebarkankan hasil workshop tersebut di daerahnya masing-masing kepada tenaga pendidik yang lain. Sebab, tenaga pendidik (guru dan kepala sekolah) secara efektif menjadi agen perubahan bagi peserta didik ke depan lebih baik. Menjadi generasi penerus yang membawa bangsa Indonesia ini menuju ke peradaban yang lebih maju. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""