Kamis, 11 Oktober 2012

Kecerdasan Gerak Anak-anak dalam Berteater


Anak-anak sedang menggali kecerdasan gerak dalam berteater
Dalam berteater, gerak tubuh menjadi salah satu elemen penting. Sampai-sampai Japi Tambajong dalam bukunya Dasar-dasar Dramaturgi (1981: 97) menuliskan, bagaimana pun latihan-latihan dasar tubuh harus punya pola. Dan pola tidak ditemukan seperti mukjizat. Perlu waktu panjang, ketekunan, dan tertib. Latihan-latihan dasar melenturkan tubuh, bisa dilakukan dengan beberapa cara. Yang kita pakai adalah latihan tari, samadi, silat, anggar, dan renang.
   
Boleh jadi anak-anak yang sudah terbiasa mengikuti tari, misalnya, tidak terlalu sulit mengikuti gerak-gerak tubuh dalam bermain teater. Sekalipun ia barangkali tidak latihan samadi, silat, anggar, atau renang. Andaikan, anak-anak yang tergabung dalan teater melakukan semua latihan dasar gerak yang dianjurkan seperti dalam buku Japi Tambajong, bukan mustahil mereka akan sangat menikmati permainan gerak tubuh dalam berteater.

Sebaliknya, hal itu akan begitu sulit dilakukan oleh anak-anak yang tidak memiliki dasar-dasar gerak. Yang, seperti saya lihat pada sekumpulan anak sedang berteater pada suatu sore. Oleh sutradara (baca pelatih), mereka dituntut untuk melakukan gerak-gerak tertentu. Gerak secara kolektif yang membentuk sebuah konfigurasi yang menarik ternyata membutuhkan waktu panjang. Begitu melelahkan rupanya. Anak-anak seakan kehabisan tenaga. Terlihat ngos-ngosan.
Awalnya mereka merasa malu sehingga terlihat kaku dalam melakukan gerak. Satu dan yang lain malah saling menunggu. Bahkan, mereka saling mentertawakan. Mungkin di mata mereka, gerak-gerak yang mereka lakukan itu lucu dan aneh. Akan tetapi, karena kesabaran pelatih, akhirnya mereka dapat melakukan gerak-gerak konfiguratif.

Membutuhkan proses
Bahkan, lambat laun mereka terlihat begitu menikmati. Apalagi ketika mereka melihat bahwa gerakan yang mereka lakukan memunculkan keindahan bentuk. Bentuk yang menarik untuk dilihat. Mereka lantas  begitu antusias melakukan. Tidak merasa bosan sekalipun diulang-ulang.

Untuk membuat gerakan-gerakan yang padu satu dengan yang lain membutuhkan proses. Yang, disadari atau tidak, dalam waktu bersamaan dibutuhkan kerja rasa dan akal. Tidak hanya merasakan dan memikirkan gerakannya sendiri, tetapi merasakan dan memikirkan gerakan teman sehingga melahirkan gerakan yang diharapkan. Ini tentunya hubungan batin antarmereka terjalin. Di sinilah kecerdasan gerak mereka mulai terbangun, baik secara pribadi maupun kolektif. Kerja keras, kesabaran, dan kepercayaan diri boleh jadi modal yang tak boleh diabaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""