Rabu, 17 Oktober 2012

Musim Ulangan Tengah Semester



Peserta didik serius mengerjakan soal-soal UTS
Minggu-minggu (di Oktober 2012) ini peserta didik di beberapa sekolah di Kudus, Jawa Tengah (Jateng), menghadapi ulangan tengah semester (UTS). Beberapa sekolah lain sudah mengadakan UTS terlebih dahulu. Hal itu boleh jadi karena sekolah memiliki agenda masing-masing. Hanya, selisih waktunya tidak jauh. Paling-paling lebih cepat atau lambat satu minggu.

Mata pelajaran (mapel) yang di-UTS-kan, umumnya semua mapel kecuali mapel Olahraga. Ada sekolah yang menjadwalkan dalam satu hari dua mapel, tetapi ada juga sekolah yang mengaturkan dalam satu hari tiga mapel. Satu sekolah dengan sekolah lain memiliki kebijakan berbeda. Beberapa sekolah menganggap, dengan hanya dua mapel sehari, relatif meringankan beban peserta didik. Sementara sekolah lain menilai, dengan mengadakan tiga mapel dalam sehari, tidak terlalu banyak memerlukan waktu. Ya, masing-masing pilihan memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Toh, biasanya, keduanya dapat berlangsung dengan baik. Konsekuensinya, kalau sehari hanya dua mapel, peseta didik dapat pulang pagi; kalau satu hari tiga mapel, peserta didik pulang agak siang.
Soal-soal yang diujikan buatan guru sekolah bersangkutan. Sejauh ini, dalam UTS, tidak ada gabungan sekolah dalam membuat soal, yang sudah biasa dilakukan ketika ulangan akhir semester (UAS) atau ulangan kenaikan kelas (UKK). Sekalipun begitu, lingkup materi yang diujikan hampir bisa dikatakan sama karena waktu efektif pembelajaran satu sekolah dengan sekolah lain relatif sama berdasarkan kalender pendidikan. Namun, dapat dipastikan tidak ada soal yang sama persis dalam satu mapel di sekolah yang berbeda.
Objektivitas hasil pekerjaan
Di sekolah-sekolah tertentu, demi menjaga objektivitas hasil pekerjaan peserta didik, tempat duduk diatur sedemikian rupa, misalnya, dalam satu deret kursi menyamping diisi dari tingkat kelas yang berbeda. Kelas VII bersebelahan dengan VIII, misalnya. Atau kelas XI dengan X. Dengan demikian, mempersempit peluang peserta didik untuk bekerja sama/saling mencontoh. Sekalipun tidak dimungkiri, masih ada saja peserta didik yang mencuri-curi kesempatan.
Hasil pekerjaan yang objektif dapat menjadi gambaran kemampuan peserta didik yang sebenarnya. Dan, hasil tersebut, oleh beberapa sekolah dilaporkan kepada orang tua/wali murid. Karenanya sering nilai-nilai yang dilaporkan hasil murni peserta didik. Memperoleh nilai seberapa pun, baik rendah maupun tinggi, orang tua/wali murid wajib mengetahui. Dengan begitu, orang tua/wali murid dapat bekerja sama dengan sekolah untuk mendukung pembelajaran anak-anak.
Secara umum, peserta didik menghadapi UTS bersikap sama seperti ketika menghadapi UAS atau UKK. Porsi belajar mereka ditambah, tidak seperti hari-hari biasa. Hal itu diakui oleh beberapa anak yang sempat dihubungi Coretan Sungkowoastro. Bahkan, saat-saat sebelum memasuki ruang UTS, mereka masih terlihat memegang buku, di teras-teras kelas, di pinggir-pinggir taman sekolah. Mengulang-ngulang membaca materi pelajaran. Suasana pembelajaran yang demikian ini yang seharusnya terjadi setiap hari di sekolah ketika anak-anak sekolah.

1 komentar:

""