Sabtu, 13 Oktober 2012

Penyampaian Visi dan Misi Calon Ketua OSIS Saat Upacara Bendera



Salah satu kandidat Ketua OSIS sedang berorasi
Harapan, cita-cita, atau idaman hampir pasti melekat pada diri seseorang. Sekalipun seseorang itu tidak berpendidikan, boleh dipastikan memiliki harapan. Dan, seseorang pasti memiliki cara-cara untuk meraih harapan itu. Kita mengenalnya dengan istilah visi dan misi. Untuk menjaga konsistensi, sebagian orang membuat catatan khusus visi dan misinya. Bahkan, hampir semua organisasi memprasastikan visi dan misi itu di tempat khusus, yang mudah dibaca.

Tentu harapannya, jika yang membaca orang dalam organisasi akan teringat dan aktivitasnya senantiasa terarah dan terpacu. Jika yang membaca orang lain (bukan bagian dari organisasi) akan menjadi mengetahui “gerak” organisasi tersebut, sehingga tidak terlalu sulit ketika hendak mengambil sikap.

Jadi, visi dan misi itu tidak tabu kalau dipresentasikan dalam konteks yang seharusnya. Orang lain biar mengenalnya. Cara inilah yang dilakukan calon-calon ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMP 1 Jati, Kudus, Jawa Tengah (Jateng), yang sudah menradisi sejak lama.
Kandidat yang lain sedang menunggu giliran orasi
Penyampaian visi dan misi, awalnya dilakukan di hadapan pengurus OSIS lama dan perwakilan kelas. Pada tahap awal itu terseleksi empat dari delapan calon oleh pengurus OSIS lama dan perwakilan kelas. Keempat calon kemudian diharuskan menyampaikan visi dan misinya (lagi) di hadapan semua peserta didik, guru, dan karyawan. Demi keefektifan, penyampaian visi dan misi tersebut dilakukan di akhir upacara bendera hari Senin (8/10).

Masing-masing calon diberi waktu untuk menyampaikan visi dan misinya di atas podium, yang saat upacara berlangsung ditempati Pembina Upacara. Para calon berpidato dengan antusias. Keempat calon tidak ada yang terkesan grogi. Penyampaian visi dan misi mereka rata-rata memakan waktu dua sampai tiga menit. Semua visi dan misi akhirnya diketahui oleh seluruh peserta didik, guru, dan karyawan.

Sekalipun para calon bersuara lantang ketika memperkenalkan visi dan misinya, masih terlihat di beberapa titik anak-anak kurang memerhatikan. Ada yang berbicara dengan teman sekitar, ada yang guyonan. Akan tetapi, yang demikian itu jumlahnya relatif kecil. Masih banyak yang memerhatikan calon saat berorasi. Area upacara seolah berubah menjadi area kampanye.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""