Minggu, 07 Oktober 2012

Perlu Merespon Letupan Belajar Si Kecil


Gambar diambil dari rumahtugasa209.blogspot.com
Anak-anak kecil sering mudah tertarik pada aktivitas yang dilakukan oleh orang lain yang lebih dewasa, misalnya kakaknya. Terutama aktivitas yang sama sekali baru dilihatnya. Ia ingin segera menirukan. Nyaris tak dapat dibendung. Ketika sedang melihat (dan mendengar) kakaknya meniup recorder (suling), untuk melantunkan sebuah lagu, misalnya, si kecil langsung meminta alat itu untuk ditiupnya. 

Lantas merengek kepada kakaknya. Kalau merengeknya tidak ditanggapi, sering si kecil mencari “pembela”, mungkin ibu atau ayah atau orang lain yang ada di sekitarnya. Ia akan terus “bejuang” agar keinginannya terpenuhi sekalipun hingga menangis.

Barangkali kondisi tersebut merupakan letupan belajar si kecil yang perlu ditanggapi secara positif. Saat untuk belajar yang tidak perlu ditunda. Karena si kecil sudah siap belajar. Sekalipun kita menyadari bahwa si kecil tidak mungkin dapat (belajar) meniup recorder itu secara benar. Tetapi kesempatan untuk memperkenalkannya sangat baik. Memperkenalkan nama alatnya, bentuknya, terbuat dari apa, bahkan berapa lubang dalam recorder itu, cara memegang, cara menutup lubang, dan meniupnya, misalnya. 

Pengalaman belajar demikian akan sangat mudah diingat oleh si kecil, tentunya. Sebab menurut Gagne, Briggs, dan Wager, ahli disain pembelajaran (dalam Dewi Salma Prawiradilaga, 2007: 15)  proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar, internal maupun eksternal. Kondisi internal adalah kemampuan dan kesiapan diri pebelajar, sedangkan kondisi eksternal adalah pengaturan lingkungan belajar yang didisain.

Semangat si kecil untuk menirukan kakaknya dipahami sebagai kesiapan belajar, sedangkan menanggapi keinginannya secara positif, yakni menyediakan recorder dan upaya mendampingi dipahami sebagai pengaturan lingkungan belajar. Dua hal yang seimbang akan memunculkan “keajaiban-keajaiban” belajar pada diri si kecil.

Membunuh kreativitas

Apabila dalam kenyataan kondisi internal siap, tetapi kita tidak menyiapkan lingkungan belajar dengan baik, semangat belajar si kecil dipastikan menghilang. Menimbulkan kekecewaan, kebencian, bahkan permusuhan, yang bukan mustahil justru kotraproduktif. Si kecil bisa kehilangan kreativitas, antusiasme belajar, dan menjadikan ia bersikap tertutup. Karakter tidak dapat berkembang.

Itulah barangkali pentingnya kita perlu selalu memberikan respon positif terhadap letupan-letupan belajar si kecil kapan pun saja muncul. Dalam pengalaman belajar sesederhana apa pun, misalnya, memotong-motong kertas, mencabuti rumput, membaca sekalipun tak bisa, menyabun tubuhnya saat mandi, tetap perlu ditanggapai secara positif. Sebab, memberi ruang berkreasi bagi si kecil lebih berarti daripada menyesal di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""