Kamis, 13 Desember 2012

Mengimplementasikan Pendidikan Antikorupsi Sejak Dini



SERIUS: Siswa sedang mengerjakan soal secara seruis.
Kalau tindak korupsi di bumi pertiwi ini boleh dianalogikan sebagai makanan, maka masyarakat (yang di dalamnya termasuk anak-anak) sudah terlalu kenyang menikmatinya. Bahkan, boleh dibilang hendak muntah. Betapa tidak, hampir setiap hari selalu hangat tersaji informasi tindak korupsi melalui media massa. Dari pagi, sejak bangun tidur hingga bangun tidur lagi (praktis 24 jam) “hidangan” yang satu itu seakan tidak pernah lepas dari pandangan mata.

Andai sedikit didramatisasi, hampir tidak ada ruang sedikit pun yang bebas dari berita perilaku korupsi. Setiap channel televisi yang kita pilih senantiasa memberitakan kasus korupsi. Bahkan, kalau yang terlibat kasus korupsi pejabat publik, ulasannya sampai berhari-hari. Sebut saja yang aktual, kasus dugaan korupsi Andi Alfian Mallarangeng, yang sudah mengundurkan diri sebagai Menteri Pendidikan dan Olahraga (Menpora) Republik Indonesia itu. Sampai hari ini, kasus tersebut masih menghiasi di hampir semua media massa, baik cetak maupun elektronika.

Oleh karena tindak korupsi sepertinya sudah menjadi “hidangan” harian di hadapan kita, mengawal anak-anak agar tidak hanyut ke pusaran penyimpangan perilaku serupa itu merupakan langkah yang urgen. Penting dan mendesak untuk dilakukan oleh semua pihak, terutama keluarga dan sekolah. Karena, biarlah bangsa dan negara ini ke depan dipimpin oleh generasi yang berintegritas tinggi dan bertanggung jawab penuh.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi Tiga (Balai Pustaka, 2001) korupsi berarti penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Dalam penjelasan berikutnya disebutkan  ada korupsi waktu, yang berarti penggunaan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi. Sedangkan mengorupsi berarti menyelewengkan atau menggelapkan (uang dsb).

Berangkat dari pengertian dan penjelasan di atas, boleh dimengerti bahwa tindak korupsi (sebenarnya) tidak hanya terkait dengan penggelapan uang dan waktu, tetapi dapat terkait dengan perilaku apa saja yang mengarah pada penggelapan, penyelewengan, atau penyalahgunaan hak dan kewajiban. Dengan demikian, serumit (sebesar) atau sesederhana (sekecil) apa pun tindakan yang mengarah pada penggelapan, penyelewengan, atau penyalahgunaan tentu dapat disebut perilaku korup.

Begitu luasnya cakupan kemungkinan perilaku korup, bukan mustahil sebagian generasi penerus kita yang seharusnya (masih) berhati bersih, tanpa disadarinya, terseret ke dalam pusaran perilaku korup. Asep Jihad dkk. dalam buku “Pendidikan Karakter Teori dan Implementasi”, yang diterbitkan Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional 2010, menuliskan, di rumah misalnya, PR yang harus dikerjakan anak justru dikerjakan oleh orang tua atau kakaknya, bukan mendampingi dan menuntun anak menyelesaikan PR tersebut. Di sekolah, seringkali ditemukan anak-anak yang mencontek ketika ujian karena mengejar target kelulusan dengan nilai tinggi (hlm. 68).

Mengerjakan PR anak dan anak mencontek, yang barangkali sementara orang menganggap hal yang biasa, seharusnya  dipandang sebagai hal yang tidak biasa karena, disadari atau tidak, perilaku itu termasuk penggelapan, penyelewengan, dan penyalahgunaan, yang tidak lain adalah perilaku korup. Anak yang seharusnya memberdayakan kompetensi diri untuk mengerjakan PR atau ujian, tetapi justru dengan berbagai cara memperdaya kompetensi orang lain untuk kepentingannya.

Anak barangkali memang kurang menyadari kalau perilaku itu (sejatinya) bisa menjadi embrio bagi perilaku korup yang lebih besar. Kalau di masa anak-anak (sudah) terbiasa mencontek, mengerpek, tidak mengenakan seragam sesuai aturan, tidak membuang sampah pada tempatnya, terlambat masuk sekolah, terlambat bangun tidur, tidak melakukan tugas rumah sesuai pembagian, dan perilaku sejenisnya, bukan mustahil di masa dewasanya nanti melakukan perilaku yang lebih buruk lagi.

Oleh karena itu, mengimplementasikan pendidikan antikorupsi sejak dini melalui hal-hal keseharian yang dianggap biasa  mendesak dilakukan. Misalnya, tidak membiarkan anak mencontek saat ulangan atau membuang sampah di laci meja. Kebiasaan yang tergolong perilaku korup itu  sering kita jumpai, tetapi sesering itu pula kita abai.    

Yang dibutuhkan adalah membangun komunikasi dialogis dengan anak terkait dengan perilaku korup tersebut. Mereka tidak hanya dinasihati (apalagi ditegur atau dimarahi), tetapi diberi kesempatan untuk bersaksi, berargumentasi, berpendapat, atau bercerita. Karena, boleh jadi akhirnya anak memperoleh kesadarannya sendiri. Dan, kesadaran yang demikian diyakini mampu secara eksis mengubah perilaku.

Membiarkan anak-anak berperilaku korup (sesederhana apa pun) oleh karena kita tidak mau berisiko, sama dengan memupuk perilaku buruk mereka. Kita berdosa karena, diakui atau tidak, turut mencetak karakter buram generasi muda bangsa ini.

Terakit dengan hal tersebut, tawaran Lickona dalam Asep Jihad dkk.(2010) tentang sebelas prinsip agar pendidikan karakter (khsusunya) di sekolah berjalan efektif barangkali perlu kita sambut dengan baik. Kesebelas prinsip itu (1) kembangkan nilai-nilai etika inti dan nilai-nilai kinerja pendukungnya sebagai fondasi, (2) definisikan “karakter” secara komprehensif yang mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku, (3)gunakan pendekatan yang komprehensif, disengaja, dan proaktif, (4) ciptakan komunitas sekolah yang penuh perhatian, (5) beri siswa kesempatan untuk melakukan tindakan moral, (6) buat kurikulum akademik yang bermakna dan menantang yang menghormati semua peserta didik, (7) usahakan mendorong motivasi diri siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai komunitas pembelajaran dan moral, (9) tumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan moral, (10) libatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra, dan (11) evaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai pendidik karakter, dan sejauh mana siswa memanifestaikan karakter yang baik.  

Dengan upaya demikian, atas berkat Sang Pencipta, bukan mustahil keajaiban kesejatian perilaku generasi emas Indonesia yang kita harapkan akhirnya bakal terhampar di seluruh wilayah negeri ini. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""