Sabtu, 01 Desember 2012

Menyediakan Ruang Belajar yang Nyaman




Hingga kini, kenakalan remaja yang notabene sebagai pelajar masih menjadi tema besar pembicaraan di ranah publik. Media massa, baik cetak maupun elektronik, nyaris hampir setiap hari memberitakannya. Baik secara formal di lembaga-lembaga tertentu maupun informal di tengah-tengah keluarga dan masyarakat, diperbincangkan pula. Hal itu boleh jadi disebabkan (paling tidak) oleh dua hal. Pertama, terjadinya eskalasi kenakalan remaja yang semakin meningkat belakangan ini. Kedua, kekhawatiran atas eksistensi generasi muda pemegang masa depan bangsa.
Eskalasi kenakalan remaja yang semakin meningkat kecenderungan terjadi di kota-kota besar. Bimnas Polda Metro Jaya, misalnya, mencatat pada 1992 ada 157 kasus perkelahian pelajar, 1994 meningkat 183 kasus yang menewaskan 10 pelajar, 1995 tercatat 194 kasus dengan korban tewas 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain, 1998 ada 230 kasus yang tewas 15 pelajar dan 2 anggota Polri   (http://www.kpai.go.id/publikasi-mainmenu-33/artikel/258-tawuran-pelajar-memprihatinkan-dunia-pendidikan.html). Data terkini tawuran pelajar dari Polda Metro Jaya, pada 2010 ada 128 kasus, 2011 tercatat 339 kasus yang menewaskan 82 pelajar, dan 2012 ini ada 139 kasus dengan korban tewas 12 pelajar (http://video.tvonenews.tv/arsip/view/62132/2012/09/27/data_tawuran_pelajar_selama_20102012.tvOne).
Sementara itu, terkait dengan penyalahgunaan narkoba pada remaja, Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, dari 2,21% (4 juta orang) pada tahun 2010 menjadi 2,8 (sekitar 5 juta orang) pada tahun 2011 (http://www.republika.co.id/berita/rol-to-school/tim-jurnalistik-sma-se-jakarta-timur/12/05/23/m4gut0-mengatasi-kenakalan-remaja).

Di samping itu, perilaku seks bebas di kalangan remaja pun begitu memprihatinkan. Hasil penelitian Australia National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (UI) pada 2010/2011 di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi dengan jumlah sampel 3.006 responden usia 17-24, menunjukkan 20,9 % remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah, 38,7 % remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah (http://www.menjelma.com/2012/09/riset-dari-bkkbnternyata-seks-bebas.html).
Belum lagi perilaku menyimpang lainnya, seperti minum minuman keras, merokok, membolos, memalak teman, menyontek, menyimpan gambar/video seronok dalam ponsel, dan sebagainya. Bahkan, yang demikian ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi telah merambah di desa-desa.
Fenomena tersebut tentu menimbulkan kekhawatiran. Karena, krisis besar bangsa ini membutuhkan generasi  penerus yang tangguh dan berkarakter. Generasi muda yang menghargai, peduli, bertanggung jawab, disiplin, bekerja keras, dan berintegritas tinggi. Generasi muda yang demikian mustahil lahir dari angkatan yang suka berperilaku menyimpang.

Perilaku menyimpang yang mencederai generasi muda pelajar menurut hemat penulis disebabkan oleh “ruang belajar” yang nyaman bagi mereka belum sepenuhnya tersedia. Ruang belajar yang dimaksud dalam tulisan ini tidak terbatasi oleh dinding ruang dan waktu. Di mana pun dan kapan pun sosok pelajar ada, di situlah ruang belajar bagi mereka. Jadi, ruang belajar bagi mereka berada di banyak tempat dan waktu. Tidak hanya di sekolah, bimbingan belajar (bimbel), tempat kursus, rumah, tempat ibadah, saat pagi atau sore, tetapi di jalanan, terminal, pertokoan, lapangan, pengadilan, kepolisian, gedung DPR, persidangan, bahkan di televisi, koran, dan media massa lain dalam rentang waktu yang tak terbatas dapat menjadi ruang belajar. Dengan kata lain, semua tempat, waktu, bahkan (termasuk) keadaan boleh disebut sebagai ruang belajar.
Sayang, di semua tempat, waktu, dan keadaan di mana sosok pelajar ada tidak selalu dijumpai kenyamanan. Ada keluarga yang mampu menghadirkan kenyamanan. Kehangatan keluarga memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi semua potensinya. Akan tetapi, tidak sedikit keluarga masa kini yang sulit mendatangkan kenyamanan bagi anak oleh karena kesibukan. Anak seakan hidup sendiri di rumah karena orang tua sibuk bekerja demi tuntutan kebutuhan. Padahal, perhatian, pendampingan, sentuhan batin dan fisik  orang tua  menjadi inspirasi positif belajar anak. Parahnya, jika rumah (secara sadar atau tidak) dijadikan ajang perseteruan dipastikan anak menjadi korban. Terlahir sebagai anak yang rendah diri, tinggi hati, tak acuh, sensitif, dan bertemperamen tinggi, misalnya.
Hal kurang nyaman bagi anak (baca: pelajar) bisa saja teralami di sekolah sekalipun tidak menutup kemungkinan ada sekolah yang nyaman untuk belajar. Kekurangnyamanan pelajar belajar di sekolah dapat disebabkan oleh beban belajar, teman, aturan, guru, karyawan sekolah. Beban belajar yang terlalu banyak, teman nakal, aturan terlalu ketat, guru dan karyawan yang kurang familier, misalnya, dapat menjadi pemicu pelajar tidak sejahtera di sekolah. Ketidaksejahteraan itu dapat berdampak pada perilaku menyimpang pelajar.

Realitas kehidupan di tengah-tengah masyarakat, baik langsung maupun tidak (lewat media) yang dijumpai pelajar selama era reformasi berlangsung, diakui atau tidak, tidak sedikit yang menyajikan atmosfer ketidaknyamanan. Demontrasi yang berujung anarkis menjadi ruang belajar yang tidak nyaman. Perseteruan antaranggota dewan dalam persidangan menjadi ruang belajar yang menyiksa. Keputusan pengadilan yang kurang adil menjadi ruang belajar yang menyakitkan. Perseteruan antarlembaga elite negara demi prestise (akhir-akhir ini) menjadi ruang belajar yang memprihatinkan. Perilaku korup pejabat tinggi yang tidak mungkin tersembunyi dari mata pelajar menjadi ruang belajar yang meneror. Masih banyak lagi ruang belajar di ranah publik yang kurang   --untuk menghindari pemakaian kata tidak--  menyediakan kenyamanan.
Belum lagi pendekatan yang digunakan orang tua, guru, atau siapa saja dalam menyelesaikan masalah anak yang sering abai terhadap  keberadaan anak sebagai pribadi yang membutuhkan pengakuan. Anak/pelajar yang sedang mengalami masalah, misalnya, tidak diberi kesempatan menyampaikan klarifikasi, argumentasi, atau pembelaan. Sangat jarang mereka diajak berdialog secara terbuka dan akrab atas masalah yang dihadapi. Sebaliknya, sanksi atau tindakan disiplin sering-sering langsung dijatuhkan tanpa kesepakatan. Yang, bukan mustahil hal itu membuat mereka menjadi sosok pendendam, agresif, dan tak terkontrol.
Kalau kenyataan itu tidak segera kita sadari, bahkan membiarkan terus terjadi, generasi muda pelajar pemegang masa depan bangsa ini akan menjadi generasi destruktif. Untuk menyediakan ruang belajar yang nyaman bagi mereka agar menjadi generasi konstruktif diperlukan kemauan besar dari semua pihak. Tidak hanya dari keluarga, tetapi sekolah dan masyarakat, karena di semua ranah itu pelajar senantiasa ada dan beraktivitas.

Andai keluarga, sekolah, dan masyarakat boleh disebut sebagai kelas barangkali pernyataan Jenny Gichara dalam bukunya, Kelas Sehat Prestasi Hebat, patut untuk dihayati dan direalisasikan dalam kehidupan berdampingan dengan anak-anak. Yakni, manajemen kelas yang baik akan menciptakan ketertiban. Ketertiban menciptakan rasa nyaman. Kenyamanan kelas mendorong siswa termotivasi untuk belajar untuk meraih prestasi yang gemilang. Manajemen kelas yang baik terpancar dari kepiawaian sang guru mengelola kelasnya sehingga menjadi tertib, teratur, bersih, nyaman, dan dinamis (hlm. 85). Guru, orang tua, pemuka masyarakat, tokoh bangsa, dan tokoh-tokoh lain adalah sang guru  yang seharusnya mampu menyediakan “ruang belajar”  yang nyaman bagi anak/pelajar. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""