Rabu, 05 Desember 2012

Merindukan Mendidik Bertabur Pujian


KEMERDEKAAN BELAJAR: Suasana belajar yang penuh kegembiraan

Dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), tepatnya pada Bab II Pasal 3, dijelaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Deskripsi itu menunjukkan bahwa pendidikan yang berlangsung di negeri tercinta ini harus memberi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Seberapa pun potensi yang dimiliki peserta didik dalam masa pendidikannya semestinya mengalami pertumbuhan dan perkembangan ke arah kemajuan.

Peserta didik yang dulunya kurang  beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dulunya kurang berakhlak mulia menjadi berakhlak mulia, yang dulunya kurang sehat menjadi sehat, yang dulunya kurang berilmu menjadi berilmu, yang dulunya kurang cakap menjadi cakap, yang dulunya kurang kreatif menjadi kreatif, yang dulunya kurang mandiri menjadi mandiri, dan seterusnya.

Cita-cita atau harapan itu tidak dapat dilepaskan dari peran guru. Guru, dalam hal ini, justru berperan sebagai garda terdepan dalam membawa peserta didik ke arah kemajuan itu. Melalui upaya mengajar dan mendidik, guru mengawal pertumbuhan dan perkembangan potensi peserta didik. Guru semestinya memiliki simpati dan empati terhadap peserta didik tanpa memandang latar belakang. Dengan begitu dipastikan pertumbuhan dan perkembangan potensi peserta didik ke arah kemajuan diperoleh.

Hanya, jika guru mau jujur, kini masih banyak dijumpai peserta didik yang potensinya belum tergali maksimal. Dalam proses pembelajaran, misalnya, tidak sedikit peserta didik yang takut (atau mungkin malu) ketika  diberi kesempatan maju untuk menjawab soal atau memresentasikan hasil kerjanya. Takut atau malu sebetulnya menandakan bahwa peserta didik itu kurang percaya diri karena kurang cakap, kurang kreatif, dan kurang mandiri. Kondisi tersebut akan berdampak pada rendahnya serapan ilmu dan bahkan mengarah pada sikap tidak bertanggung jawab.

Jika didata secara jujur, boleh jadi peserta didik yang demikian jumlahnya tidak lebih sedikit daripada yang memiliki potensi tergali. Catat saja dalam sebuah kelas pembelajaran  jika Anda seorang guru. Peserta didik yang aktif –mau bertanya, menanggapi pendapat teman, berargumentasi atas persoalan, menjawab pertanyaan teman atau guru, misalnya-  dalam proses pembelajaran, boleh dipastikan hanya itu-itu saja. Jumlahnya terbatas.  Sedang lainnya (yang jumlahnya relatif banyak) sering bersikap pasif. Mereka akan merespon jika disuruh guru atau teman terlebih dahulu. Bahkan, sekalipun sudah disuruh tidak sedikit yang tetap pasif.

Kekurangaktifan mereka dalam proses pembelajaran di samping (tentu saja) guru monoton dalam mengajar, kurang kreatif, guru sering miskin pujian namun kaya kritikan saat mendidik. Padahal memberi pujian berarti mendidik peserta didik menjadi pribadi percaya diri karena merasa dihargai. Memberi kritikan berarti mengantar peserta didik menjadi pribadi rendah diri karena merasa tidak dihargai.

Dalam buku Pengajaran Disiplin dan Harga Diri, SiriNam S. Khalsa menyatakan, penelitian telah memperlihatkan kepada kita bahwa bagi setiap komentar positif di kelas, ada empat komentar yang negatif! Rasio itu, setidaknya, harus dibalik. Saya lebih dahulu berbagi penelitian ini dengan anak perempuan saya yang duduk di kelas sepuluh. Dia menanggapi, “Papa, saya belum pernah mendengar komentar positif dari guru IPA saya selama empat hari”. Yang menyedihkan, keadaan ini mungkin terjadi di sekolah Anda (hlm.69).     

Guru memang sering terjebak dalam komentar negatif (kritik) karena paradigma dalam mendidik peserta didik masih mengandalkan pribadi sebagai orang tua, bukan orang dewasa. Khalsa lebih jauh menyebutkan, guru yang masih memerankan dirinya sebagai orang tua lazimnya otoriter dan suka mengriktik. Sedangkan sebagai orang dewasa, guru akan mengajak peserta didik bekerja sama tanpa bergantung pada permintaan, ancaman, penceramahan, atau sarkasme.

Barangkali secara sadar tidak ada satu pun guru di bumi pertiwi ini yang menginginkan peserta didiknya menjadi pribadi tidak berkembang potensinya. Melecitkan potensi peserta didik justru menjadi idaman semua guru. Akan tetapi, jika gaya guru mendidik tetap melihat kekurangan peserta didik sebagai hal yang harus dikritik, maka cita-cita melecitkan potensi peserta didik tidak akan terwujud. Guru harus mau mengubah gaya mendidiknya. Yakni, memandang kekurangan peserta didik bukan sesuatu yang harus dikritik. Kekurangan itu justru harus diperbaiki melalui pujian.

Sebab, betapa pun, peserta didik tersebut tetap memiliki sisi positif. Dan, guru yang efektif memang harus dapat mencermati sisi-sisi positif peserta didiknya –sekecil apa pun-  untuk dijadikan sarana memberi pujian. Pujian guru, apa pun bentuknya, baik verbal maupun nonverbal (acungan jempol tangan, anggukan kepala, tepukan di badan, dan sebagainya) akan mampu menciptakan suasana batin peserta didik sejahtera dalam belajar. Akhirnya tidak ada rasa takut, khawatir, malu, minder, dan sejenisnya.  Yang, diakui atau tidak, suasana itu membarakan semangat belajar peserta didik.

Kebiasaan peserta didik “mengejek” teman yang sudah (mau) berinisiatif maju mengerjakan soal atau memresentasikan hasil kerja sering-sering masih kita jumpai dalam proses pembelajaran. Misal, ketika ada seorang peserta didik hendak maju mengerjakan soal atau menjawab pertanyaan, tiba-tiba nyeletuk ungkapan-ungkapan seperti “huu”, “hebat”, “wah” dari beberapa teman. Itu aktivitas “usil” yang bukan mustahil membunuh karakter teman. Yang, dapat melemahkan semangat belajar yang mulai tumbuh. Menradisikan peserta didik untuk saling memberi pujian antarteman jauh lebih berarti karena berpotensi membangun kepercayaan diri. 

Oleh karena itu, tidak terlampau salah kalau semua orang (pada akhirnya) menyepakati bahwa pujian dapat menjadi senjata dahsyat  untuk merangsang pertumbuhan potensi diri anak/peserta didik. Maka, sebagai guru, mari senantiasa dalam mendidik menabur banyak pujian, menjauhi kritikan. Apalagi menabur pujian di keberlangsungan proses pembelajaran dijamin tidak akan mengurangi energi, tetapi justru men-charge energi guru yang, memungkinkan keajaiban-keajaiban potensi peserta didik melecit. Pun berupaya mengikis aktivitas “usil” peserta didik yang  mengarah ke pembunuhan karakter diri.

Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional yang diamanatkan di UU RI Nomor 20 Tahun 2003, pada Bab II, Pasal 3, yakni untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, sungguh dapat terwujud. Semoga.

1 komentar:

  1. negeri kita yang terkenal ramah masyarakatnya, justru sebaliknya terkenal tidak ramah dalam pendidikan, terutama dalam hal memberikan pujian serta penilaian, baik hasil belajar maupun proses belajar... walaupun saya selelu berusaha untuk memuji.. namun proses pendidikan keras yang saya terima dulu masih sesekali mewarnai.... tulisan ini menginspirasi saya untuk selalu ingat

    BalasHapus

""