Kamis, 31 Januari 2013

Menghadapi UN Bentuk KBM



BELAJAR: Di gazebo sekolah, Farida Aulia (kanan) melayani teman belajar.
Untuk menghadapi ujian nasional (UN) beragam cara ditempuh agar sukses. Di sekolah, misalnya diadakan belajar tambahan. Sehingga, khusus untuk kelas-kelas akhir (yang menghadapi UN) sering kita lihat pulang agak terlambat sampai sore hari. Jika biasanya pulang sekolah pukul 13.00, bisa-bisa mundur hingga pukul 15.00. Hal itu sudah ada kesepakatan dengan orang tua/wali murid sehingga tidak terjadi salah paham. Maksudnya, orang tua/wali murid memahami bahwa putra-putrinya pulang agak terlambat.

Di samping itu, sekolah juga mengadakan latihan UN, baik diadakan sekolah sendiri maupun kerja sama dengan pihak lain, misalnya, salah satu penerbit atau bimbingan belajar (bimbel) atau musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) kabupaten/kota. Jadi, pelaksanaan latihan UN tidak hanya sekali, bisa beberapa kali.

Orang tua/wali murid pun tak jarang juga mengikutkan putra-putrinya dalam bimbel di luar sekolah, baik di rumah maupun di lembaga bimbel yang diadakan oleh masyarakat. Maka, wajar jika akhir-akhir ini begitu sibuknya lembaga bimbel melayani anak-anak belajar. Berbagai program sukses UN ditawarkan dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bahkan, untuk menarik minat anak-anak, tak sedikit lembaga bimbel yang berani beresolusi mengembalikan uang bimbingan 100% jika nanti tak lulus UN.

Itulah beberapa cara menghadapi UN yang selama ini terjadi. Hal yang akhir-akhir ini sedang ngetren di SMP 1 Jati, Kudus, adalah adanya kelompok belajar mandiri (KBM) yang dibentuk oleh anak-anak sendiri. KBM inisiatif peserta didik sendiri. Beberapa anak dalam kelompok-kelompok kecil datang ke sekolah sore hari dalam suasana santai belajar bersama. Dalam kelompok-kelompok kecil itu ternyata ada salah satu peserta didik yang pandai mengajari peserta didik yang lain. Mereka belajar secara tutor sebaya.  

Salah satu peserta didk sebagai tutor, Farida Aulia, Kelas IX A, mengatakan bahwa belajar bersama ini melibatkan banyak anak, tak hanya anak dari satu kelas tetapi dari beberapa kelas. Kadang ada lima anak, enam anak, delapan anak, pun ada yang hanya dua anak.

Farida Aulia memang terkenal sebagai peserta didik terpandai di sekolah. Ia begitu terbuka melayani teman-temannya yang ingin belajar. Bahkan, diakuinya saat ditemui Coretan Sungkowoastro di salah satu gazebo sekolah sore hari, ia siap membantu untuk semua mata pelajaran (mapel).  Seminggu dilakukan dua kali, hari Rabu dan Sabtu dan tak ditarik biaya. Hanya sayang, selama ini yang mau bergabung dalam KBM tersebut peserta didik putri.

Barangkali ke depan bentuk-bentuk belajar demikian perlu digalakkan di sekolah-sekolah. Caranya, sekolah memfasilitasi, baik tempat maupun sarana lainnya, termasuk menerjunkan guru-guru tertentu sebagai pendamping. Juga mendorong peserta didik yang tergolong pandai mau ambil bagian.  Sebab, bukan tidak mungkin, ada banyak peserta didik yang tergolong pandai tetapi belum memiliki kepekaan seperti yang dimiliki Farida Aulia.  Dengan begitu, KBM-KBM di sekolah menjadi tempat belajar peserta didik dalam suasana santai, rileks, dan menyenangkan, yang akhirnya dapat meningkatkan prestasi.

Bukankah diduga bahwa belajar tutor sebaya yang terkondisikan kondusif akan membawa kebaikan bagi yang mengikuti? Karena, belajar dengan teman sendiri dalam suasana rileks jauh lebih efektif, baik dari sisi komunkasi, kejiwaan, maupun keterbukaan, tanpa ada beban rasa takut dan malu untuk bertanya ketimbang belajar konvensional seperti di kelas-kelas reguler.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""