Jumat, 01 Februari 2013

Dibutuhkan Guru yang Peduli Hal Sederhana




MENDIDIK: Petugas piket menyapu di awal waktu pembelajaran.
Secara jujur boleh dikatakan bahwa akhir-akhir ini tak sedikit ditemukan sikap kurang tanggung jawab di kalangan peserta didik. Misalnya, kurang pedulinya petugas piket kelas terhadap kebersihan kelas.  Meski diakui masih ada peserta didik yang memiliki sikap tanggung jawab akan hal tersebut. Akan tetapi, jika perilaku  tersebut tidak disikapi secara serius, boleh jadi membawa pengaruh buruk kepada peserta didik lain yang tergolong bertanggung jawab.

Sebab, pengalaman menunjukkan bahwa perilaku negatif cenderung memiliki pengaruh lebih dahsyat ketimbang perilaku positif. Perilaku negatif lebih mudah ditiru. Di kalangan peserta didik hal demikian begitu mudah ditemukan. Betapa mudahnya anak ikut-ikutan merokok, berpakaian tak seharusnya, membolos sekolah oleh karena teman dekat sekalipun anak tersebut sebelumnya berperilaku positif. Akan tetapi, betapa sulitnya anak ikut-ikutan rajin membaca, membuang sampah pada tempatnya, menghapus papan tulis yang kotor, dan sebagainya.

Oleh karena itu, membiarkan/mengabaikan peserta didik yang kurang bertanggung jawab berarti tinggal menanti kehancuran generasi pelajar secara komunal. Untuk mengantisipasinya, dibutuhkan guru yang yang peduli. Tidak hanya peduli terhadap hal-hal yang tergolong besar, misalnya peserta didik yang suka merokok, minum-minuman keras, dan tawuran, tetapi perihal yang tergolong kecil atau sederhana.

Salah satu perihal sederhana yang sering terjadi pada peserta didik adalah tanggung jawabnya sebagai petugas piket kelas. Salah satu tugas yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan ruang kelas berikut halaman kelas. Kelas yang kotor seharusnya dibersihkan. Petugas piket menyapu dan membuang sampah di tempatnya secara  bersama karena petugas piketnya biasanya lebih dari satu. Akan tetapi, guru sering menjumpai masih kotornya kelas ketika hendak memulai mengajar.

Guru yang peduli tentu tidak akan mengabaikan kondisi kelas tersebut tetap kotor, sementara pembelajaran tetap diberlangsungkan. Mengalihkan waktu pembelajaran beberapa menit untuk menugasi petugas piket membersihkan kelas barangkali lebih baik. Dengan cara demikian sebetulnya pendidikan karakter (bertanggung jawab) diajarkan tidak hanya kepada peserta didik yang piket, tetapi juga yang tidak piket.

Memang yang menjalankan menyapu petugas piket. Akan tetapi, peserta didik yang lain tentu akan becermin atas tindakan guru tersebut. Jadi, apa yang terlihat peserta didik lain dapat menjadi pembejalaran positif bagi mereka untuk tidak meniru. Karena, menjalankan tugas seperti itu dirasakan sebagai hukuman. Dan, rasanya tak ada satu pun peserta didik yang suka menerima sanksi.

Sekarang tinggal dibutuhkan sikap konsisten guru untuk memberlakukan ketegasan terhadap perilaku peserta didik tak bertanggung jawab. Tidak hanya sewaktu-waktu, tetapi dari waktu ke waktu memiliki kualitas ketegasan yang sama. Tidak saat tertentu tegas, saat yang lain lembek. Peserta didik tentu merasakan pengaruh kewibawaan guru. Sehingga, diyakini mereka akan mengalami perubahan sikap. Jika dahulunya tak rajin piket, berubah menjadi rajin menjaga kebersihan dan kelengkapan kelas.

Itu pun tak akan membawa hasil maksimal perubahan sikap positif peserta didik jika satu guru dengan yang lain tidak memiliki persepsi yang sama. Karenanya, dibutuhkan pemahaman sama oleh semua pendidik di sekolah terkait penyikapan perilaku peserta didik yang tak bertanggun jawab.

1 komentar:

  1. "pengalaman menunjukkan bahwa perilaku negatif cenderung memiliki pengaruh lebih dahsyat ketimbang perilaku positif. Perilaku negatif lebih mudah ditiru"

    jd teringat memori pas msh duduk dibangku sekolah pak

    BalasHapus

""