Sabtu, 02 Februari 2013

Membantu Anak yang Tak Menyerahkan Tagihan (karena Skala Prioritas)



SALING BERBAGI: Anak didik belajar bersama.
Saat mengajar di kelas siang tadi (Sabtu, 2/1), saya menemukan sepuluh anak didik saya tidak menyelesaikan tagihan atas tugas/pekerjaan terkait dengan pembelajaran yang saya berikan. Saya menjaga hati, tetap berpikir positif terhadap  mereka.



Menemukan hal demikian, saya akhirnya memilih memanfaatkan waktu sesaat untuk memberi  perhatian kepada mereka. Dalam keadaan kelas banyak anak didik, saya menanyakan alasan mengapa mereka tidak menyelesaikan tagihan. Pertanyaan ini jelas tidak realistis karena mungkin saja satu  dengan yang lain memiliki alasan yang berbeda. Barangkali karena saya menanyakan secara klasikal (kesepuluh anak didik) itu, tidak satu pun ada yang menjawab.



Beberapa waktu ke depan tidak juga ada yang menjawab. Mereka terlihat ganjil di antara sekian banyak anak didik. Mungkin mereka malu mengutarakan di hadapan banyak anak didik. Atau mungkin mereka belum mengerti manfaat alasan yang saya inginkan. Di sinilah akhirnya muncul ide menjelaskan mengapa alasan itu harus saya (sebagai guru) ketahui.


Saya memberi analogi. Orang tua melihat anaknya memiliki masalah tentu ingin membantu menyelesaikan. Maka, orang tua memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mencurahkan isi hati dan pikirannya. Akan tetapi, sang anak tidak memanfaatkan kesempatan itu alias tidak mau berbagi. Tentu dengan demikian, masalahnya tidak terselesaikan. Bahkan, bukan mustahil akhirnya orang tua menjadi tak berminat lagi membantu.


Penjelasan lewat analogi itu ternyata mujarab. Dua anak didik saya mau menyampaikan alasannya. Anak didik yang pertama, tidak menyelesaikan tagihan karena waktu semalam digunakan untuk mempelajari mata pelajaran (mapel) lain. Yang kedua, masih tertinggal tiga poin yang tidak dikerjakan karena sulit menemukan jawabannya.



Sementara itu, delapan anak lainnya tidak ada yang menyusul mengutarakan alasannya hingga beberapa menit ke depan. Lantas muncul ide kedua, mereka saya suruh keluar kelas beberapa menit untuk saling berbagi tentang alasan masing-masing.  Jadi, bukan mendiskusikan jawaban  agar tagihan sempurna. Yang dibicarakan adalah alasan mengapa mereka tidak menyelesaikan tagihan.


Sekitar tiga menit kemudian, saya menuju tempat mereka. Cara ini pun mujarab. Akhirnya saya mendapatkan alasan-alasan mereka. Ada tiga alasan paling tidak. Pertama, karena semalam diajak orang tua ke rumah saudara jadi tidak bisa mengerjakan tugas. Kedua, karena bingung lalu menyusul pusing manakala agak lama memahami tugas/pekerjaan. Ketiga, karena lupa. Begitu alasan sudah saya dapatkan, saya ajak mereka masuk ruang kelas bergabung dengan yang lain.


Di depan kelas saya utarakan lebih jelas alasan-alasan yang ada tanpa menyebut nama. Lantas, satu persatu saya uraikan. Kali pertama yang saya uraikan adalah alasan “karena belajar mapel lain yang ulangan”. Saya katakan, ini alasan yang sangat realistis dan sangat baik sehingga perlu dipertahankan, jadikan prinsip dalam hidup. Mengapa? Karena, entah sadar atau tidak sang anak telah bersikap dewasa karena dapat membuat skala prioritas dalam menghadapi persoalan.


Saya acungi jempol anak ini. Saya banggakan ia di depan teman-temannya bahwa sikap yang diambilnya tepat sekalipun belum menyerahkan tagihan kepada saya. Saya memotivasi anak didik lain untuk melakukan sikap demikian jika menghadapi beberapa masalah. Buat skala prioritas, mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan mana yang kemudian. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""