Minggu, 26 Mei 2013

Di Sekolah, Polisi Mengajar Peserta Didik



Gambar diambil dari koranindonesia.com
Mudahnya memperoleh motor dan sekaligus sibuknya orang tua melahirkan tren baru di kalangan anak-anak SMP. Pergi  dan pulang sekolah mengendarai motor sendiri. Kecenderungannya, semakin lama jumlah pengguna motor  anak SMP semakin bertambah. Belum lagi masyarakat umum, kaum pekerja, pemakai motor yang juga mengalami kenaikan. Dampaknya, sering terjadi kemacetan di jalan-jalan.

Kemacetan dapat mengakibatkan keterlambatan tiba di sekolah atau tempat bekerja. Oleh karena itu, begitu lepas dari area kemacetan, pengendara sering melajukan motor sekencang mungkin. Akibatnya, kecelakaan lalu lintas acap terjadi. Data di kepolisian menunjukkan bahwa akhir-akhir ini banyak terjadi kecekalaan lalu lintas. Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng), misalnya, sejak Januari 2013 sampai pertengahan Mei terjadi 200 kasus kecelakaan lalu lintas. Tidak sedikit korban yang berstatus pelajar SMP, yang notabene belum berhak mengendarai motor.

Itulah barangkali di antaranya yang melatarbelakangi kepolisian datang ke sekolah-sekolah, khususnya SMP sederajat, untuk menjelaskan beberapa hal terkait dengan kenakalan remaja. Seperti, beberapa waktu lalu petugas kepolisian dari Kepolisian Resor Kudus ikut upacara bendera di SMP 1 Jati, Kudus, sebelum memberikan kuliah umum kepada seluruh peserta didik di lapangan upacara.

Dalam kuliah umum yang diikuti seluruh peserta didik dan guru sembari duduk di lapangan, petugas kepolisian yang mengenakan seragam lengkap itu, memaparkan bahwa kenakalan remaja (anak SMP dan sederajat) itu dibagi menjadi tiga. Pertama, kenakalan ringan, misalnya, membolos sekolah, tidak berseragam lengkap, dan tidak mengerjakan tugas. Kedua, kenakalan sedang, misalnya, pertengkaran antarpelajar dan mengendarai motor. Ketiga, kenakalan berat, misalnya, mengedarkan dan mengggunakan narkoba.

Dikatakan, di tengah-tengah masyarakat, kenakalan yang sering dilakukan remaja adalah mengendarai motor. Semestinya anak-anak seusia SMP belum boleh mengendarai motor karena belum memiliki surat izin mengemudi (SIM). Secara fisik dan psikologis, anak-anak seusia itu belum dapat mengendalikan motor secara baik. Itulah yang menyebabkan anak-anak itu sering mengalami kecelakaan. Fatalnya,  mereka rata-rata sering tidak berhelm sehingga kalau terjadi kecelakaan pasti parah. Di samping itu, mereka sering dijumpai berboncengan lebih dari dua orang. Ini jelas melanggar tata tertib berlalu lintas.

Dalam kegiatan itu seluruh peserta didik mengikuti dengan baik. Ketika ditanya, siapa yang pergi ke sekolah mengendarai motor, tidak semua anak yang mengendarai motor berani mengacungkan jari (mengaku). Beberapa anak yang “mengaku” dengan mengacungkan jari terlihat malu-malu.  Anak-anak lain yang mengikuti kuliah umum tersebut, menertawakan.  

Dinasihatkan, jika memang ditemukan anak mengendarai motor tanpa SIM, harus berani mempertanggungjawabkan kesalahan itu secara hukum. Berani melakukan kesalahan harus berani menghadapi risikonya. Itu yang namanya jentel. Dalam kondisi memaksa, anak-anak yang menaiki motor harus berhelm. Helm dapat mengurangi kerasnya benturan di kepala jika terjadi kecelakaan. Budayakan memakai helm dan ketika memakainya harus dikenakan secara benar, talinya diikatkan sampai bunyi “klik”, tanda mengunci. Helm tidak akan lepas dari kepala sekalipun kecelakaan.

Kuliah umum yang diberikan sehabis upacara bendera itu memakan waktu sekitar satu jam. Akan tetapi,  tidak membosankan. Bahkan, meskipun sebagian anak ada yang sudah tersengat panas mentari, mereka tetap mengikuti dengan antusias. Boleh jadi karena yang tampil di hadapan mereka “guru” yang baru, yang memang tidak pernah mereka jumpai. Mengalami suasana “pembelajaran” yang berbeda dengan biasanya tentu sangat menggembirakan.

1 komentar:

  1. di seklah kami malah sudah ada nota kesepakatan (MoU) dengan kepolisian untuk menjadi guru dan mengajar di sekolah

    BalasHapus

""