Kamis, 09 Mei 2013

Sampah di Laci Meja, Anak Tak Peduli



SATU-SATU: Menghitung sampah yang ditemukan di laci meja
Waktu mengajar di salah satu kelas, Selasa (7/5), saya sengaja memanfaatkan beberapa menit untuk  mengajak anak-anak mengeluarkan “sesuatu”, yang mungkin tersimpan di laci meja mereka. Yang dikeluarkan dari laci meja bukannya peralatan sekolah, tetapi berbagai bungkus makanan ringan dan gelas plastik kemasan minuman, yang tidak lain adalah sampah.

Laci meja yang seharusnya untuk menyimpan/menaruh peralatan sekolah, justru digunakan sebagai tempat sampah. Jelas hal tersebut menandakan bahwa mereka makan dalam ruang kelas. Lantas, begitu isinya habis, secara spontan mereka memasukkan bungkusnya ke laci meja. Karena, tempat terdekat dan tersembunyi  menurut mereka barangkali laci meja itu. Praktis sebagai penyimpan sampah.
  
Anehnya, anak-anak tetap terlihat enjoy saja memanfaatkan meja itu. Tidak terlihat jijik. Terbukti, tangan mereka kadang masih memanfaatkan laci meja itu, entah untuk apa selain membuang sampah. Karena beberapa kali tangan mereka tidak terlihat di atas meja.

Sampah-sampah itu memang kering. Tidak sampah basah. Sampah yang basah paling-paling gelas, bekas  minuman kemasan. Itu pun umumnya sudah kering atau tinggal sedikit-sedikit sisa cairannya, yang lama-lama pasti mengering karena suhu panas dalam laci. Akan tetapi, laci itu bisa jadi sarang nyamuk. Mestinya mereka terganggu makhluk satu ini, karena suka menghisap darah. Toh demikian, anak-anak tetap terkesan tidak acuh.
SEBUNGKUS: Sejumlah sampah setelah dimasukkan ke karung plastik
Padahal, ketika sampah sudah terkumpul di atas meja setelah dikeluarkan, jumlahnya tidak sedikit. Melihat sampah teronggok di atas meja, anak-anak senyam-senyum. Apalagi ketika saya minta menghitungnya. Senyam-senyumnya semakin menjadi. Dan, ternyata tiap-tiap meja memiliki lima sampai sepuluh sampah. Ada sampah sobekan dan remasan kertas dan plastik bungkus jajan, yang ukurannya kecil-besar. Yang paling banyak, sampah plastik jajan. 

Sepertinya tidak mudah menghilangkan kebiasaan buruk itu dalam diri anak-anak. Karena sudah sangat lama terbiasa. Sudah melekat erat dalam keseharian hidup mereka. Sehingga, begitu otomatis terjalani. Ya, tentu dibutuhkan kesetiaan untuk senantisa menasihati dan mengingatkan anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""