Selasa, 21 Mei 2013

Sumber Belajar Spontan pun, Menarik



Berdiskusi menulis larik-larik puisi
Kebetulan saat mengajar di kelas VIII tentang Menulis Puisi Bebas, terdengar cericit burung di luar kelas. Saya tertarik cericit burung itu. Lantas, saya mendengarkan dengan cermat cericit-kicau  burung itu. Anak-anak melihat tingkah saya. Ada yang senyum-senyum, ada yang diam, dan ada yang bisik-bisik. Akan tetapi, anak-anak akhirnya saya ajak juga mendengarkan. Sesaat hening ruang kelas kami. Karena kami fokus mendengarkan nyanyian burung, yang tidak kami tahu persis jenis burung apa.

Saya pikir nyanyian burung itu dapat menjadi sumber belajar, yakni Menulis Puisi bebas, di kelas. Karenanya, anak-anak saya pandu untuk membicarakan hal tersebut setelah usai mendengar. Burung berkicau di udara. Terbang ke sana ke mari. Suaranya kadang keras, kadang lirih. Saat terdengar keras kicaunya, si burung pasti dekat dengan ruang kelas, tempat kami belajar. Sebaliknya, kicaunya lirih tentu saat burung terbang menjauh dari lokasi kelas kami. Anak-anak terlihat bersemangat.

Anak-anak semakin tertarik ketika saya katakan kicauan burung itu dapat menjadi sumber menulis puisi. Anak-anak mulai mengadakan diskusi dengan teman yang terdekat di tempat duduk. Saling berbicara, yang saya pastikan berbicara mengenai menulis puisi terkait dengan kicauan burung itu. Mereka terlihat senang. Tidak tampak merasa ada beban dalam diri mereka. Beberapa di antara mereka mulai tampak ada yang sudah menemukan baris-baris puisi.

Beberapa menit saya biarkan mereka saling belajar. Ada yang usul, ada yang diam saja, tetapi masih mengikuti  aktivitas. Ada yang menolak usul temannya. Ada yang menertawakan pendapat temannya. Itulah suasana belajar yang berlangsung. Belajar yang hidup. Antarpeserta didik berinteraksi. Ada yang pro dan kontra perihal gagasan menandakan bahwa pembelajaran yang baik sedang terjadi.

Aktivitas mereka kemudian saya alihkan ke depan kelas beberapa waktu. Mereka saya minta membentuk kelompok kecil, 4-5 anak setiap kelompok.  Mendiskusikan renungan mereka masing-masing atas kicauan burung yang baru didengar. Merumuskan renungan itu dalam  beberapa larik. Dalam pengamatan saya, ada kelompok yang merumuskan dalam dua larik, tiga larik, dan empat larik. 

Langkah berikutnya, mereka saya minta mencermati setiap kata dalam larik-larik yang disusun itu. Kata-kata tersebut mungkin ada yang kurang menarik. Dan, kata-kata yang demikian perlu diganti dengan kata-kata yang lebih menarik. Menarik dari sisi jumlah suku kata mungkin, dari segi persajakan barangkali, atau dari sudut pandang yang lain. Yang jelas, mereka dirangsang untuk memilih kata-kata yang sesuai dengan isi dan suasana larik-larik yang disusunnya tadi. Di sinilah, mereka mengenal pilihan kata/diksi dalam puisi.

Beberapa wakil kelompok kemudian  memresentasikan hasil akhir. Dan, secara persuasif, kelompok lain diarahkan memberi apresiasi. Karena memang tiap-tiap kelompok memiliki kreativitas yang berbeda, yang semestinya perlu dikembangkan melalui  pikiran-pikiran positif.

Pembelajaran ini ternyata membangun semangat belajar anak. Sekalipun menulis puisi di kalangan anak dianggap sulit, tetapi mereka memiliki ketertarikan menulis puisi (terutama) berangkat dari hal-hal terdekat mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""