Selasa, 24 September 2013

Krisis Sikap Peduli Anak, Keluarga Harus Responsif



Anak-anak sedang berdiskusi di ruang kelas
Sikap peduli anak di masa kini sudah menipis. Kalau ada sepuluh anak berkumpul, barangkali hanya satu anak yang peduli atau bahkan tidak ada sama sekali. Kenyataan itu mudah ditemukan di sekolah. Tidak hal yang aneh dijumpai setiap harinya. Dapat dijumpai sejak anak memasuki lingkungan sekolah sampai mereka pulang.  Jumlahnya tidak terhitung.

Anak tidak peduli terhadap sampah yang berserakan. Anak tidak peduli terhadap pembungkus jajannya yang dibuang sembarangan. Anak tidak peduli terhadap salah satu atau beberapa butir tata tertib sekolah. Anak tidak peduli tugas regu piket kelas. Anak tidak peduli terhadap panggilan guru yang meminta tolong, bahkan tidak sedikit mereka menjauh dari guru itu seolah-olah tidak tahu kalau dirinya dimintai bantuan.

Sayang, sekolah tidak memiliki kemampuan untuk membuat anak-anak itu menjadi peduli. Sekolah, sebagai tempat berkumpulnya beragam karakter anak, justru menjadi semacam lokasi persemaian sikap tidak peduli. Betapa tidak, kalau ada anak yang peduli, yang lain justru mengejek. Anak yang peduli tadi bukan tidak mungkin akhirnya berbalik sikap, menjadi tidak peduli karena tidak tahan menghadapi cemoohan teman.

Anak yang memiliki keteguhan bersikap, barangkali ejekan temannya tidak mengapa, Sekalipun teman-temannya mencemooh atas perilaku baiknya, ia tetap saja peduli. Tidak perlu menanggapi keusilan teman karena menyadari hal yang dilakukan itu baik. Hanya, anak yang demikian sedikit jumlahnya ketimbang anak yang abai terhadap sikap peduli.

Menjadi hal yang memprihatinkan kalau kenyataan itu dibiarkan terus terjadi. Barangkali keluarga harus segera tanggap terhadap kenyataan itu di samping lembaga keagamaan (masjid, gereja, wihara, pura, kelentheng). Keluarga dan lembaga keagamaan lebih efektif membangun sikap peduli anak. Keluarga sebagai masyarakat terkecil yang diwarnai ikatan batin yang akrab dan terlindung pengaruh luar, memberi ruang bagi anak untuk terbentuk karakter pedulinya. Lembaga keagamaan yang diwarnai homogenitas dan mengutamakan kurikulum kerohanian, mudah membawa anak ke sikap peduli.

Hal ini bukan berarti bahwa sekolah lalu mengabaikan tugas membangun karakter anak. Sekolah sebagai tempat menuntut ilmu pengetahuan, jelas orientasinya ke penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) untuk anak-anak. Kurikulum sekolah mengamatkan untuk penguasaan iptek bagi anak-anak, selebihnya pendidikan karakter “menempel”  saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""