Jumat, 27 September 2013

Menyambutmu di Balik Pagar




Anak-anak sedang belajar materi agama.
Setiap pagi, sebelum waktu bel  tanda masuk berbunyi, secara bergilir, bapak dan ibu guru berada di depan sekolah, di balik pagar, tidak untuk menghadangmu masuk sekolah. Bapak dan ibu guru hendak menyambutmu datang. Aku kira itu lebih baik daripada membiarkanmu masuk sendiri. Sekalipun aku tahu kalau kamu masuk sendiri tanpa disambut oleh kami, kamu akan tetap bisa masuk. Bukankah sekolah ini memang disediakan untukmu? Untuk kalian semua?



Hanya, kami memang ingin kamu membagikan rasa yang kamu rasakan setiap pagi. Ya, aku melihat wajah kalian tidak semua sama. Ada yang setiap pagi berwajah penuh ceria. Ada yang berwajah sedikit muram, tampak keletihan. Akan tetapi, kami senantiasa menyambutmu dengan suka cita. Sebab, suka cita yang kami rasakan biarlah juga mengalir dalam dirimu. Kamu menjadi terus bersuka cita.



Untuk kamu yang sedikit kurang beruntung, kami turut merasakan. Keletihan yang kamu rasakan, kami sambut dengan sapa, senyum, dan salam, serta jabat tangan yang lebih hangat. Siapa tahu dengan kehangatan yang kami berikan itu muncul senyum ceriamu, sekalipun sesaat ketika kita bertatapan. Syukur-syukur senyum ceriamu itu akan terus mewarnai dirimu di sepanjang waktu dan menjadi kebahagiaan. Jangan salahkan kami, tepatnya aku, kalau punya motto, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Karena bagiku kebahagiaanmu itu dapat menjadi energi positif belajarmu.



Anak-anak, aku tidak merasa letih berdiri di balik pagar sekolah menantimu datang, selama kurang lebih tiga puluh menit. Aku berusaha datang pagi. Lebih pagi daripada tibamu di sekolah. Tidak lain dan tidak bukan, agar aku dapat berjumpa dengan kamu semua. Tidak ada satu pun di antara kamu yang terlewati. Tapi itu tidak mungkin. Sebab ternyata, masih ada di antara kamu yang tiba lebih pagi daripadaku. Tidak apa. Itu malah lebih baik. Sebab, itu menandakan bahwa kamu rajin. Bukankah kita semua dituntut untuk semakin rajin dalam hidup?



Kamu yang datang kemudian setelah kami, terutama yang kurang rapi berpenampilan, sering kami, terutama aku, mengingatkanmu. Meminta bajumu yang keluar harus dimasukkan. Meminta kaus kaki yang kamu tekuk, diperbaiki ulang dalam mengenakannya. Tak segan pula aku membantu merapikan dasi yang kamu pakai sembarangan. Itu sebetulnya bentuk cinta kasihku kepadamu. Aku tak mungkin membiarkanmu terus-terusan hidup dalam ketidakteraturan.


Itu semua terjadi saat kami menyambutmu di balik pagar sekolah ketika pagi hari sebelum belajarmu dimulai. Jadi, seolah-olah bagi sebagian kamu, penyambutan kami menjadi “pintu petaka” atas ketidakteraturanmu. Sehingga tidak jarang, ada juga di antara kamu menghindari atau berpura-pura teratur. Maksudnya, sebelum sampai tempat penyambutan kami, kamu menata semuanya tampak teratur, sehingga kamu bisa melenggang masuk seakan tanpa ada "kekeliruan". Akan tetapi, setelah melewati kami, saat berada di dalam kelas, kamu kembali seperti sediakala: tidak teratur. Ah, anakku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""