Jumat, 04 Oktober 2013

Gus Dur dalam Puisi



Sosiawan Leak sedang membaca puisi.
Untuk menyampaikan rasa hormat kepada orang lain dapat diwujudkan dalam bentuk apa pun, termasuk dalam puisi. Seperti, yang Sabtu (28/9) malam lalu, di Rumah Makan Bambu Wulung, Kudus, Jawa Tengah (Jateng), Gus Dur, yang banyak orang menyebut sebagai Bapak Bangsa, dipotret dalam puisi oleh karena rasa hormat pengagumnya. Pengagumnya, yang adalah penyair, menuliskan sisi-sisi pribadi Gus Dur dalam puisi.



Puisi-puisi yang ditulis oleh puluhan penyair dari berbagai kota itu dikemas dalam satu buku kumpulan puisi yang berjudul Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel. Seluruh puisi memotret sosok Gus Dur. Yang tentu saja para penulisnya terinspirasi tokoh pluralis itu. Judul buku kumpulan puisi itu merupakan judul puisi karangan Bambang Eka Prasetya (BEM), yang merasakan bahwa sosok Gus Durlah yang membentuk karakternya sewaktu kecil.



Dalam kesaksian BEM malam itu yang disampaikan di depan puluhan pecinta sastra dari berbagai kota dalam launching buku tersebut, dikatakan bahwa Dam Sengon hingga ke Jembatan Panengel, Jombang, Jawa Timur (Jatim)  merupakan area Gus Dur di masa mudanya (usia sekitar 25 tahun) dalam  mendidik mental anak-anak, termasuk BEM. Puisi BEM itu terinspirasi oleh semua aktivitas yang dilakukannya semasa usia 13 tahun bersama teman-temannya di Dam Sengon sampai Jembatan Panengel dibawah didikan Gus Dur muda.



Puisi-puisi lain sekalipun penyairnya tidak bersentuhan langsung dengan (fisik) Gus Dur, tetap menggambarkan keberadaan Gus Dur dari kaca mata pikiran dan benak masing-masing. Ada yang memotret Gus Dur dengan kejenakaannya. Ada yang memotret Gus Dur dengan keluguannya, Ada juga yang memotret Gus Dur sebagai penguasa yang tidak mau menguasai.  Juga, Gus Dur pemersatu kebhinekaan dan sosok yang menghargai keragaman.



Launching Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel, yang diprakarsai oleh Dewan Kesenian Kudus (DKK)  bekerja sama dengan Penerbit Forum Sastra Surakarta itu dihadiri oleh Inayah Wahid, putri bungsu Gus Dur. Inayah membagikan ingatannya kepada  pengagum Gus Dur malam itu mengenai nasihat ayahnya kepadanya, yakni jadi orang itu harus terus membaca. Dan, barangkali itulah sehingga Inayah dalam buku kumpulan puisi itu menuliskan satu puisi yang bertajuk “Bapak Mengajari Membaca”. Puisi inayah itu, oleh penyunting dan kurator dituliskan di sampul luar belakang. Saat itu, Inayah juga didaulat untuk membaca puisinya.
Inayah Wahid sedang membaca puisinya.


Di samping Inayah Wahid, Sosiawan Leak, sebagai kurator puisi-puisi yang termuat di buku antologi itu, hadir dan bahkan separo acara di bagian akhir dikomandoi olehnya. Untuk mengenang masa-masa lalu Gus Dur, Sisoawan Leak “mengerjai” Aris Junaedi, yang pernah berguru pada Gus Dur, termasuk juga ketika Gus Dur sebagai presiden, untuk bercerita tentang pengalaman-pengalaman hidupnya ketika bersama Gus Dur. Cerita Aris Junaedi, yang menjabat ketua DKK itu, melengkapi pemaknaan potret Gus Dur dalam puisi malam itu.



Dalam launching buku malam itu tidak ada diskusi, tidak ada dialog kritis mengenai isi buku kumpulan puisi tersebut. Malam itu, diisi secara marathon pembacaan puisi dalam antologi tersebut. Sosiawan Leak menutup acara tersebut dengan pembacaan puisi yang begitu atraktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""