Minggu, 09 Februari 2014

Abaikan Dulu Memilih Sekolah, Fokus pada UN



Anak-anak sedang mengikuti pendalaman materi pelajaran.
Sekalipun ujian nasional (UN) belum dilaksanakan, ternyata tidak sedikit anak yang sudah memilih-milih sekolah untuk dimasuki setelah lulus kelak. Cara ini tentu saja tidak salah. Malah ada sisi positifnya. Sebab, dengan berpikir begitu berarti anak bersikap optimis lulus ujian.



Hanya, yang barangkali kurang baik adalah ketika anak terlalu hanyut dalam memikirkan sekolah sasaran. Karena bukan tidak mungkin keterhanyutan itu justru mengakibatkan anak melupakan tugas pentingnya saat ini, yakni mempersiapkan diri menghadapi UN. Waktu-waktu yang ada digunakan untuk mencari-cari tahu tentang sekolah sasaran, tidak untuk belajar.



Hal yang tidak jauh berbeda adalah ketika orang tua menargetkan anaknya “harus” sekolah di sekolah pilihan orang tua. Ada tipe-tipe orang tua yang demikian. Tindakan itu dilakukan tentu saja mereka (orang tua) telah mempertimbangkan segala sesuatunya dan berpikir bahwa keputusan itu adalah keputusan yang terbaik untuk masa depan anaknya. Padahal, belum tentu demikian. Sebab, bukan mustahil pilihan orang tua justru membebani anak. Dan, jelas hal itu akan membuat pikiran anak kurang sejahtera, yang berdampak pada terganggunya konsentrasi belajar menyongsong UN.



Jika kenyataan itu yang terjadi, bisa dipastikan harapan untuk meraih hasil maksimal dalam UN tidak akan diperoleh. Yang, berarti pula anak akan mengalami kegagalan memasuki sekolah yang diinginkan. Karena, nilai yang diperoleh tidak memenuhi syarat memasuki sekolah pilihan itu. Bukankah sekolah pilihan sekolah yang diunggulkan karena prestasi (nilai tinggi)?



Oleh karena itu, langkah yang patut dilakukan oleh anak-anak menjelang UN adalah mengabaikan dulu memikirkan sekolah sasaran. Atau lebih tepatnya, tidak hanyut memikirkan sekolah pilihan. Apalagi dibingungkan tentang sekolah yang hendak dimasuki itu. Anak-anak harus lebih fokus pada UN. Bersibuk ria belajar untuk menghadapi UN tentu lebih menguntungkan daripada bersibuk ria memikirkan sekolah pilihan.



Idealnya memikirkan sekolah pilihan sudah dari awal, tidak ketika waktu sudah mendekat UN. Jauh-jauh hari, sekolah sasaran seharusnya sudah dirancang. Perancangan tentang sekolah mana yang dituju akan lebih baik jika keluarga turut memikirkan. Sehingga, perlu dibangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak untuk menentukan sekolah tersebut. Kalau penentuan sekolah tujuan sudah didiskusikan dan dipastikan sejak dini, masa-masa menjelang UN, anak tidak lagi terganggu pikirannya. Mereka dapat fokus dalam persiapan UN.



Hal yang juga penting adalah sekolah asal (tempat anak bersekolah) perlu membuka pelayanan konsultasi anak-anak kelas akhir terkait dengan sekolah pilihan. Sekolah asal, dalam hal ini guru bimbingan dan karier (BK), dapat memberikan saran-saran kepada anak akan sekolah sasaran yang sesuai dengan potensi anak. Data-data yang dimiliki guru BK berdasarkan masukan guru mata pelajaran (mapel) tentang potensi anak akan sangat menolong. Ini akan sangat membantu siswa didik dan orang tua agar lebih mudah menentukan sekolah pilihan. Efeknya, pikiran dan perasaan anak tetap nyaman dan sejahtera.



Kondisi terjaganya pikiran dan perasaan anak, sangat memungkinkan anak belajar lebih terbangun. Yang, tentu memudahkan mereka menyerap semua materi yang dipelajari. Apalagi jika fasilitas dan suasana belajar mendukung, niscaya anak akan mudah melecitkan potensinya dan siap menempuh UN. Selamat belajar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""