Jumat, 07 Februari 2014

Pembelajaran Dialogis, Hadapi UN



Anak-anak sedang mengerjakan soal ulangan
Penderitaan akibat bencana yang akhir-akhir ini melanda banyak wilayah di Indonesia, dapat sedikit diperingan dengan tumbuhnya sikap peduli dari setiap warga yang merasa masih berada dalam zona aman bergabung untuk berbagi kepada korban. Bergabungnya mereka, sekalipun dari latar belakang yang berbeda, didasari kesamaan sikap peduli. Sikap peduli yang serupa di antara mereka memunculkan “energi” yang dapat disalurkan bagi korban. Energi dari setiap individu memang sangat kecil, tetapi bisa menjadi besar ketika dikolektifkan dan niscaya mampu membantu meraih sejahtera.

          
Semangat menyatu karena sikap peduli mereka yang sama, itu barangkali layak diadopsi para siswa dalam menghadapi ujian nasional (UN) tahun ini. Setiap siswa yang menghadapi ujian pasti memiliki tujuan yang sama, yakni lulus. Padahal, bukan mustahil tiap-tiap anak memiliki intensitas belajar yang berbeda, ada yang tinggi ada yang rendah. Bahkan, sebagian besar, mungkin  cenderung rendah karena dampak globalisasi. Karenanya, kalau para dermawan dan relawan dapat bersatu-padu hendak mengeluarkan korban dari derita, para siswa seharusnya bisa bersatu-padu untuk lulus ujian.

            
Kebersatupaduan itu dapat diwujudkan dalam bentuk belajar yang bersifat dialogis. Pembelajaran dialogis adalah pembelajaran yang melibatkan beberapa siswa yang didasari rasa ingin maju bersama dan karenanya dibutuhkan semangat saling berbagi pengetahuan. Tiap-tiap anggota harus menginggalkan ego dan emosinya. Artinya, anggota yang memiliki kemampuan lebih daripada anggota yang lain harus mau membagi pengetahuannya itu dan tak boleh menutup-nutupi sekecil apa pun ilmu yang dimiliki; anggota yang dikuasai sikap malu bertanya, tertutup, harus berbalik dari sikap itu, yakni menjadi mau terbuka dan berani bertanya.

            
Keanggotaan tidak terbatas dari sekolah yang sama. Sebab, asal sekolah yang sama barangkali kurang ada pembaruan, baik dari sisi materi maupun hubungan sosial. Oleh karena itu, dianjurkan keanggotaan bisa berasal dari sekolah yang berbeda seperti halnya kebinekaan para dermawan dan relawan yang memberi bantuan kepada korban amuk alam itu.

            
Itulah sebabnya, pembelajaran dialogis ini lebih tepat diterapkan dalam lingkup lingkungan tempat tinggal, yang memungkinkan asal sekolah berbeda. Hal ini sangat memudahkan mobilitas anak-anak, yang tentu tidak membutuhkan biaya, baik untuk transpor maupun jajan. Tempat belajar mereka pun dapat berpindah dari rumah anggota yang satu ke anggota yang lain, yang memungkinkan banyak variasi suasana. Dan, variasai suasana ini diyakini turut andil memotivasi anak-anak belajar karena selalu ada yang berbeda.


Peran orang tua

Kontrol dapat dilakukan setiap saat oleh orang tua. Orang tua anak yang menjadi anggota yang kebetulan ketempatan dapat turut berperan dalam mengontrol. Dengan demikian, tanggung jawab merupakan milik bersama. Dan, boleh jadi adanya kontrol yang bervariasi akan memberi suasana belajar lebih hidup. Suasana belajar yang hidup sangat membantu anak dalam menguasai materi. Disarankan, orang tua yang ketempatan perlu membangun komunikasi yang menggugah semangat belajar. Mau menjadi fasilitator belajar anak-anak (sekalipun hanya dalam sebagian waktu) akan lebih mengakrabkan mereka dalam belajar.

            
Pembelajaran dialogis di “rumahan” dengan asal sekolah berbeda, ini sangat memperkaya materi. Sebab, anak asal sekolah tertentu mungkin belum menerima materi tertentu, anak asal sekolah lain sudah menerima. Mereka dapat bertukar materi dengan leluasa. Materi yang ada dipelajari bersama dan didiskusikan secara aktif. Dengan demikian, penjelajahan materi mampu meraup ruang lingkup yang luas.

            
Jika gerakan ini berlangsung baik, efek yang mungkin terjadi adalah memengaruhi anak-anak lain yang belum menghadapi ujian melakukan hal serupa. Yang akhirnya terbentuklah masyarakat belajar di seputar tempat tinggal. Disadari atau tidak, hal ini sangat menguntungkan orang tua dan masyarakat. Karena, anak-anak dalam kondisi belajar tertata dan tentu saja kompetitif. Dengan begitu, anak akan dapat menyelesaikan soal-soal dan tugas-tugas sekolah dengan baik. Sementara, untuk anak-anak kelas akhir, tentu saja tak perlu lagi khawatir menghadapi UN dan sejenisnya karena secara material sudah siap.

1 komentar:

""