Rabu, 12 Februari 2014

WAH



Gambar diambil dari panoramio.com
Ketika Anda berjalan-jalan menuju ke pusat perkotaan, begitu mulai melangkahkan kaki di jalan depan rumah Anda sampai dengan pusat perkotaan, tentulah Anda akan memandang berbagai hal. Bangunan, kesibukan orang di jalan, mobil, motor, becak, sepeda, toko, warung, reklame, dan sebagainya. Barangkali di antara itu ada yang memikat Anda seperti halnya usaha orang-orang di sepanjang jalan yang kami lewati memikat saya.

Usaha orang-orang di sepanjang jalan itu beragam, dari usaha yang kecil-kecil hingga yang besar-besar. Kecil dan besar dari sisi modal, jangkauan konsumen, dan barang/jasa yang disediakan. Ada penjual bensin eceran di kios-kios tepi jalan, warung makan, penjual makanan dengan gerobak, toko bahan bangunan, toko obat, apotek, toko buku, toko sepeda, toko motor, toko mobil, pom bensin, bank, dan sebagainya.

Usaha yang berbeda-beda itu memiliki tujuan yang sama, yakni untuk melayani kebutuhan masyarakat. Masyarakat dari kalangan bawah sampai atas menjadi sasaran usaha-usaha yang dibangun itu. Hanya, usaha-usaha itu telah memiliki konsumen-konsumen yang seakan telah terpilah. Masyarakat kelas bawah memanfaatkan layanan usaha-usaha kecil, sedangkan kelas atas memanfaatkan layanan usaha besar dan kelas menengah memanfaatkan kedua-duanya dengan menyesuaikan keadaan.

Dari situ tergambar bahwa masing-masing usaha memiliki keberuntungannya sendiri. Usaha kecil pendapatannya kecil, sedangkan usaha besar perolehannya besar. Tidak mungkin terjadi sebaliknya. Masing-masing berlangsung pada jalurnya sendiri-sendiri. Satu dan lainnya hidup sesuai kekuatannya.

Namun, jika usaha yang ada bergerak dalam bidang yang sama, tidak sedikit usaha kecil terkalahkan usaha besar. Hal itu sangat terasa ketika terjadi booming toko-toko swalayan dibangun di banyak lokasi, termasuk di perkampungan dan desa. Usaha-usaha kecil di perkampungan dan desa kian lama kian menyusut penghasilannya karena pelanggannya banyak berpindah ke toko swalayan terdekat. Tempat-tempat kuliner yang merambah ke pelosok kampung dan desa juga menghambat bahkan mematikan warung-warung kecil. Belakangan ini fenomena semacam itu semakin banyak kita temukan.

Sayang tidak ada pihak-pihak yang peduli. Maksudnya peduli memberikan perlindungan terhadap usaha-usaha kecil itu. Pemerintah, baik pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, maupun pemerintah yang lebih tinggi, yang lebih memiliki wewenang dalam membuat peraturan, sepertinya tidak berperan. Organisasi kemasyarakat dan keagamaan  bersikap serupa. Apalagi orang per orang, rasanya tak sampai berpikir ke sana. Saya pun hanya merenung, yang tentu tak memberikan efek apa-apa terhadap pengusaha-pengusaha kecil itu.

Begitulah kenyataan yang terjadi di negeri tercinta ini. Negeri yang semakin hari semakin dirongrong kenistaan karena semakin kacaunya mental anak-anak negeri sendiri. Yang, semakin memudahkan pihak lain memanfaatkannya untuk memperoleh keuntungan. Wah!

1 komentar:

""