Jumat, 17 Juli 2015

Di Saat Lebaran, Belajarlah Menabung



  
Gambar diambil dari majalahembun.com
             
Anak-anak, di saat lebaran seperti kali ini, kalian  pasti mendapat wisit (uang) dari orang lain. Ketika kalian berunjung ke rumah kakek-nenek, om-tante, atau ke rumah kerabat lainnya,  umumnya, wisit sudah menanti kalian. Dan, rupanya karena wisit itulah kalian begitu gembira di saat lebaran. Kegembiraan itu semakin bertambah karena umumnya (juga) uang wisit uang baru. Uang keluaran terkini dari bank. Baunya masih menyengat, bau khas uang baru. Sangat berbeda dengan uang keluaran lama, yang baunya sudah apek.

                Memang nilai uang baru dan lama tidak ada bedanya. Uang yang baru Rp 10.000 dengan uang lama Rp 10.000 tetap bernilai sama. Jadi, sekalipun anak-anak kebetulan memeroleh uang keluaran lama tidak perlu bersedih. Tetaplah bergembira sebab itu berkah yang tidak boleh disesali. Bahkan, sebaliknya harus disyukuri.

                Termasuk seberapa pun jumlahnya harus diamini. Ada  di antara kalian yang memeroleh wisit banyak, ada juga yang sedang, pun ada yang sedikit. Sekali lagi seberapa pun jumlahnya tetap harus kalian syukuri. Sebab, hanya berunjung ke rumah keluarga, kalian sudah memeroleh uang. Tidak harus bekerja dahulu. Ya memang kalian belum bekerja karena usia masih belum mencukupi untuk bekerja. Tetapi yang ingin saya katakan adalah coba bayangkan betapa susahnya bagi orang dewasa memeroleh uang itu. Mereka harus bekerja, memeras keringat dan membanting tulang. Masih enak jika seseorang itu sebagai karyawan di kantor, kalau ia sebagai buruh kontrak di pasar.

                Nah, itulah makanya jangan kalian komentari jumlah wisit yang kalian terima. Pun jangan dibanding-bandingkan. Si A dapat segitu, sementara aku dapat segini. Membanding-bandingkan itu termasuk kurang ikhlas. Dan, menerima sesuatu kurang ikhlas itu membuat hati tidak sejahtera.

                Kalian ingin sejahtera bukan? Orang-orang yang hidupnya sejahtera adalah orang-orang yang memiliki rencana baik dalam hidupnya. Hidup tidak hanya sekadar hidup. Tetapi ada pandangan ke depan yang lebih baik. Istilah kerennya, mereka memiliki visi. Dan, visi/harapan itu dibangun berdasarkan kenyataan hari ini. Mereka tidak mengada-ada. Apa yang ada di hari ini digunakan dasar membangun visi. Itulah sebabnya tadi saya katakan mereka memiliki rencana yang baik.

                Kalian juga bisa lho, berencana yang baik saat ini, saat kalian memeroleh wisit. Maksudnya, wisit itu mungkin akan lebih bermanfaat jika tidak  digunakan untuk bersenang-senang sesaat. Misalnya, membeli keinginan kalian, jajan ini jajan itu, mainan ini mainan itu, atau yang lainnya. Ini tidak berarti wisit yang kalian peroleh itu tidak boleh untuk membeli sesuatu. Membeli apa yang kalian butuhkan itulah yang barangkali lebih berguna. Tidak membeli apa yang kalian inginkan.

                Dengan bersikap hanya membeli apa yang kalian butuhkan berarti ada pengendalian. Bukankah pengendalian itu juga sudah kalian lakukan selama satu bulan berpuasa untuk meraih kemenangan? Dan, sekarang kalian sudah meraih kemenangan itu. Jadi, saat memeroleh wisit pun perlu ada pengendalian dalam memanfaatkannya. Salah satu caranya adalah kalian bisa membaginya, sebagian dibelikan apa yang kalian butuhkan dan sebagian ditabung.
                Menabung tidak hanya membuat kalian kaya akan uang. Tetapi kalian juga kaya akan ilmu. Kaya akan uang tidak harus dipahami uangnya berjumlah banyak. Seberapa pun jumlah uang yang kalian miliki jika dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan, membuat kalian sejahtera. Dan, kaya itu ukurannya adalah sejahtera di hati dan pikir. Karena itu, ayolah mulai belajar menabung di lebaran kali ini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""