Kamis, 23 Juli 2015

Hari Anak Nasional Belum Menyentuh Anak-anak Jalanan



Gambar diambil dari cintabikingilaaa.blogspot.com
            Anak-anak jalanan (anjal) masih banyak kita jumpai. Di setiap persimpangan traffic light selalu ada yang beroperasi. Meminta dengan iba kepada pengendara. Saat lampu merah menyala mereka segera mendekati pemurah hati. Seberapa pun yang diberikan, diterima. Rejekinya itu akan diserahkan kepada orangtuanya.

            Bagi orangtuanya, itu berkah. Tidak peduli memperkerjakan anak-anak yang semestinya belum layak bekerja. Orangtuanya berpikir lebih mudah mendapat rejeki dengan cara memperkerjakan anak-anak menjadi peminta-minta ketimbang dirinya sendiri menjadi pengemis. Anak-anak lebih mudah dikasihani daripada orangtuanya. Malah tidak sedikit orang yang benci terhadap orangtua yang mengemis. Maka, menyuruh anaknya berkeliaran di persimpangan jalan sebagai pengemis adalah berkah.

            Bagaimana pun tindakan itu adalah sebuah penindasan terhadap anak-anak. Hak-hak mereka dirampas oleh orangtuanya sendiri. Tindakan kejahatan terhadap anak seperti ini dilakukan secara terang-benderang, tidak tersembunyi. Terbukti, orangtua mereka sering berada di sekitar tempat anak beroperasi.

            Toh demikian negara seperti tak mampu menangani. Penanganan terhadap anak-anak jalanan dan orangtua mereka sudah dilakukan oleh pemerintah daerah setempat. Akan tetapi, begitu selesai ditangani, mereka beroperasi lagi seperti sedia kala. Boleh jadi solusi yang efektif memang belum ditemukan. Yang dilakukan (selama ini) cara-cara penanganan yang sifatnya sementara, yang tidak mampu mengubah kebiasaan buruk mereka.

            Padahal, kenyataan itu memburamkan masa depan anjal. Mereka seharusnya masih bermain-main, bersenang-senang dengan teman sebayanya. Mereka semestinya menuntut ilmu serupa anak-anak seusianya. Kenyataan buruk yang masih menimpa mereka itu membunuh pertumbuhan mereka.

            Belum ada perlindungan terhadap mereka. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang seharusnya memiliki tanggung jawab belum menjangkau mereka. Terutama anjal yang berada jauh dari pusat KPAI. Padahal mereka membutuhkan perhatian KPAI seperti yang sudah KPAI berikan kepada anak-anak korban kekerasan seperti Angeline. KPAI pasti tidak menginginkan kehidupan anjal itu semakin terluka.

            Di 23 Juli, Hari Anak Nasional (HAN) ini, sejatinya menjadi momen yang penting untuk juga memerhatikan anjal. Namun, mereka sering terlewati. Mereka tidak mengenal apa itu HAN. HAN lebih banyak dikenal oleh anak-anak yang selama ini hidupnya terlayani. Misalnya, mereka yang sekolah larut dalam kegiatan peringatan HAN. Anak-anak yang hidup di panti asuhan turut merayakan HAN.
            Tema peringatan HAN tahun ini, 2015, “Wujudkan Lingkungan dan Keluarga Ramah Anak” seharusnya mendorong semua pihak, terutama pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk berpaling kepada anjal. Menyuguhkan terobosan-terobosan kemanusiaan untuk peningkatan kualitas hidup anjal. Sehingga ke depan tidak kita jumpai lagi anak-anak yang meminta-minta dan mengamen di jalan-jalan, sementara dalam waktu bersamaan anak-anak lain seusia mereka bersekolah, bermain, dan bersuka-suka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""