Jumat, 24 Juli 2015

Mendikbud Ajak Semaikan Pendidikan Budi Pekerti

Foto diambil dari www.kemdikbud.go.id


               Melihat sikap keseharian sebagian anak, banyak orangtua mengeluh. Sebab, sebagian anak telah kehilangan budi pekerti. Misalnya, berbicara dengan orangtua dengan nada keras. Orangtua sedang membawa barang terlihat berat, anak membiarkannya. Menaikkan kaki ke atas kursi/tempat duduk di rumah, sekolah, atau tempat umum saat bercengkerama. Minimnya rasa peduli terhadap teman yang sakit, lingkungan kotor. Mengabaikan nasihat orangtua. Dan, masih banyak lagi yang lainnya.

                Sejatinya perilaku buruk itu disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya, orangtua tidak memiliki banyak waktu untuk membina anak karena kesibukan. Pola pendidikan di Indonesia saat ini lebih berorientasi pada pengetahuan dan keterampilan. Di samping itu, anak-anak tidak memiliki figur yang bisa diteladani karena mereka sering menyaksikan banyak tokoh bangsa yang berperilaku buruk.

                Membiarkan kenyataan buruk menimpa anak-anak, yang notabene generasi penerus bangsa, merupakan tindakan salah. Karena anak-anak adalah investasi masa depan bangsa. Sikap mental kepribadian mereka harus dibangun secara berkesinambungan  agar ke depan bangsa ini memiliki SDM berkualitas. Yang akhirnya mampu membawa bangsa ini lebih beradab dan dapat berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.

                Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) merasa bertanggung jawab. Oleh karena itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, mengajak seluruh elemen pendidikan untuk menyemaikan pendidikan budi pekerti kepada anak-anak. Menurut Anies Baswedan, dalam pendidikan ada tiga ranah penting yang harus ditumbuhkan dalam diri anak-anak. Yaitu, pendidikan intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan nonkurikuler.

                Dua ranah yang pertama sudah dilaksanakan di sekolah-sekolah. Anak-anak di sekolah mengikuti kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Sedangkan, yang disebut terakhir (nonkurikuler), oleh Mendikbud dikatakan kadang diabaikan. Padahal, menurutnya, ranah itu harus dirancang dengan sengaja sejak awal untuk ditanamkan dalam diri anak-anak.

                Nilai-nilai mendasar yang terkandung di ranah nonkurikuler, menurut Mendikbud ada tujuh. Yaitu, internalisasi nilai-nilai moral dan spiritual, penanaman nilai kebangsaan dan kebhinnekaan, interaksi positif dengan sesama siswa, interaksi positif dengan guru dan orangtua, penumbuhan potensi unik dan utuh setiap anak, pemeliharaan lingkungan sekolah, dan pelibatan orangtua dan masyarakat.

                Untuk dapat mewujudkannya, Kemdikbud RI, pada Jumat (10/7), telah mengumpulkan Kepala Dinas Pendidikan Propvinsi se-Indonesia untuk rapat koordinasi yang membicarakan upaya untuk menyemaikan nilai-nilai mendasar dalam pendidikan nonkurikuler itu kepada anak-anak.
                Tentu saja sekembalinya dari rapat koordinasi itu, sangat diharapkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi segera menyosialisasikan di wilayah masing-masing. Sehingga memasuki tahun pelajaran 2015/2016, nilai-nilai mendasar itu segera dapat diaplikasikan di sekolah-sekolah secara konsisten.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""