Kamis, 23 Juli 2015

Menganyam Ketupat, Menganyam Karakter


Menganyam ketupat mendidik kesabaran, ketelitian, dan kreativitas

            Ketupat, makanan khas terbungkus anyaman daun kelapa muda (janur) pengganti nasi, menjadi santapan bersayur opor ayam. Di desa opor ayam umumnya dicampur dengan tahu dan tempe. Atau bahkan hanya tahu dan tempe sebagai opor, untuk menyiasati mahalnya daging ayam. Juga tak sedikit yang mencampurnya dengan nangka muda (gori/tewel, yang di Yogyakarta untuk bahan gudeg).
            Ketupat bersayur opor biasa dinikmati saat seminggu setelah Idul Fitri. Waktu itu oleh masyarakat desa disebutnya sebagai bada kecil/bada cilik. Sedangkan, bada besar sama dengan  lebaran atau Idul Fitri. Ketupat yang khas dibuat saat bada kecil, sekarang, sudah banyak dijual di pasar-pasar tradisional. Tidak hanya di pasar tradisional yang berada di kota, di pasar-pasar desa pun sudah banyak diperjualbelikan. Memang belum berisi beras. Ia masih berupa anyaman janur yang kosong. Namun laris terjual.

            Masyarakat membelinya, kemudian mengisinya (dengan beras) sendiri di rumah. Lantas menanaknya. Begitu praktis karena tidak perlu menganyam sendiri. Menganyam ketupat bagi orang yang tidak terbiasa pasti mengalami kesulitan. Bisa jadi satu ketupat memerlukan waktu satu jam untuk menjadi anyaman yang sempurna. Wajarlah kalau banyak orang tak sempat menganyam ketupat karena kesibukan kerja. Dan, barangkali itu sehingga banyak ketupat dijual di pasar.

            Di pasar juga dijual janur. Disediakan bagi orang-orang yang hendak membuat lepet, makanan khas dari beras ketan dibungkus janur. Kebanyakan orang membeli janur di pasar memang untuk membuat lepet. Sangat sedikit orang yang membeli janur lantas menganyamnya untuk ketupat.  
            Padahal, menganyam ketupat sebetulnya mengandung banyak pelajaran positif. Lebih-lebih bagi anak-anak. Menganyam ketupat membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kreativitas. Betapa pentingnya hal tersebut bagi anak-anak. Karena kenyataannya, terutama kesabaran dan ketelitian, tak banyak dimiliki anak di zaman sekarang. Mengajarkan kesabaran dan ketelitian sangat mengena jika dimulai sejak dini.
            Dahulu, di tahun 1980-an, anak-anak di desa masih sering dilibatkan dalam menganyam ketupat. Orangtua senang mengajak anak-anak ikut menganyam ketupat di  hari-hari menjelang bada kecil. Dengan banyak janur yang tersedia, anak-anak sangat leluasa belajar. Satu kali tidak berhasil, diulangi yang kedua kalinya, dan begitu seterusnya, sampai anak-anak dapat membuat. Bahkan tidak sedikit yang harus mengulang-ulang sampai dua tiga hari untuk menghasilkan ketupat yang rapi dan bagus bentuknya.

            Ada cerita lucu terkait dengan belajar membuat ketupat kala itu. Anak-anak yang mengalami kesulitan membuat ketupat, sering orangtua menggodanya. Anak-anak diminta menggigit kereweng (pecahan genting) di kolong tempat tidur sembari membuat ketupat. Pasti dalam waktu cepat, anak-anak dapat membuatnya. Tak tahunya itu hanya bohongan. Toh demikian tak sedikit anak yang mau melakukan perbuatan itu. Sehingga perbuatan itu menjadi tontonan yang lucu, yang membuat banyak oarnag tertawa.

            Betapa pun sekarang membuat ketupat sendiri sudah jarang. Apalagi melibatkan anak-anak. Sulit dijumpai, termasuk di desa-desa. Membuat ketupat yang di dalamnya mengandung pendidikan karakter, yakni kesabaran dan ketelitian, tak lagi menradisi. Anak-anak sekarang tak mengenalnya. Sangat disayangkan, tetapi itu kenyataan yang ada. Di samping janur sudah sulit dijumpai, orangtua zaman sekarang tak memiliki keterampilan membuat ketupat karena sudah biasa membelinya di pasar.
            Hanya orang-orang yang masih setia terhadap keunikan ketupat yang mau menekuninya. Atau, orang masih mau belajar membuat ketupat karena ketupat dapat menjadi bisnis yang cukup menjanjikan menjelang bada kecil. Ya ketupat, jarang orang membuatnya. Entah sampai kapan riwayatmu terus bertahan, jika kini lonthong pun sudah mulai mengambil peranmu dalam tradisi bada kecil?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""